Pemerintah Diminta Jaga Harga Cabai

21-03-2017 / KOMISI IV

Harga cabai rawit yang sempat meroket beberapa bulan terakhir, dua hari terakhir ini  terjun bebas dan tak terkendali. Akibat melimpahnya pasokan, harga cabai rawit yang sebelumnya mencapai Rp 130.000 kg, merosot hingga Rp 80.000 kg. Mengingat masa panen di sejumlah sentra produksi, tak  tertutup kemungkinan harganya akan terus merosot hingga Rp15.000

 

Menurut anggota Komisi IV DPR Rahmad Handoyo, Selasa (21/3) di Jakarta, disatu sisi konsumen tentunya gembira dengan adanya penurunan harga tersebut. Namun disisi lain,  jika penurunan harga terus terjadi tentu saja pada gilirannya akan menimbulkan kerugian bagi para petani. Apalagi diprediksi penurunan harga cabai akan terus terjadi hingga Juni mendatang.

 

 “Saya berharap, pemerintah bisa menjaga harga cabai rawit sehingga tidak sampai merugikan petani yang saat ini sedang berjibaku menghadapi cuaca yang tidak bersahabat,” kata Rahmad Handoyo

 

Sebelumnya Sekretaris Jenderal Asosiasi Agrobisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid mengatakan, panen cabai yang terjadi saat ini masih sebagian kecil dari sentra-sentra penanam cabai yang ada di Indonesia. Itu pun sudah mampu menurunkan harga cabai rawit merah dari sekitar Rp 130.000/kg menjadi Rp 80.000/kg.

 

Bahkan Hamid yakin penurunan harga cabai rawit merah akan mencapai titik terendah pada bulan suci Ramadan yang jatuh pada bulan Mei-Juni mendatang. Diprediksi harga jual eceran cabai rawit merah bisa mencapai Rp 15.000/kg.

 

Rahmad Handoyo mengatakan, tidak merasa yakin kalau persoalan harga cabai yang tidak terkendali, kadang melonjak drastis dan turun mendadak, bukan karena akibat cuaca semata.

 

"Saya cenderung  melihat masalah naik turun harga cabai ini bukan karena pengaruh cuaca. Justru yang jadi kendala kita selama ini, ya itu..rantai distribusinya tidak jalan," kata Rahmad Handoyo dengan menambahkan, pemerintah harus terus menerus mengawasi rantai distribusi. Bila tidak masalah ini akan terus terulang  setiap tahun.

Cabe olahan

Politisi PDI Perjuangan asal Jawa Tengah  ini menambahkan, mengingat cabai cepat busuk,  sudah saatnya pula pemerintah lebih mengedukasi masyarakat agar menyukai cabe olahan. “Teknologi kita sudah mumpuni untuk mengolah cabai agar tidak cepat busuk. Tinggal bagaimana kita mengedukasi masyarakat agar mau membeli cabai olahan,”katanya.

 

Dikatakan  Rahmad,  sebenarnya produksi cabai setiap tahunnya mengalami surplus. Hanya saja, katanya, ada bulan-bulan tertentu dimana panen surplus da nada pula bulan paceklik. “Nah, kalau cabai olahan sudah disukai masyarakat, tentunya harga jual cabai ditingkat petani bisa lebih terkendali,”katanya.

 

Rahmad mengatakan, saat ini cabai olahan dari China dan India sudah mulai membanjiri sejumlah pasar di tanah air. “Mengapa cabai olahan ekspor bisa masuk ke pasar, sementara produksi cabai dalam negeri mesti berpacu dengan waktu agar tidak mengalami kebusukan,”kata Rahmad Handoyo.(mp)/foto:iwan armanias/iw.

 


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Peran Komisi IV di Forum COP ke-23 Climate Change
16-11-2017 / KOMISI IV
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Roem Kono mendorong negara maju merealisasikan bantuan pendanaan, teknologi dan capacity building dalam rangka...
Tolak Keras Rencana “Penjualan” Bandara dan Pelabuhan Kepada Asing
16-11-2017 / KOMISI IV
Anggota Komisi IV DPR RI Hermanto menolak keras rencana pemerintah yang akan menawarkan pengoperasian sejumlah bandara dan pelabuhan kepada asing....
Pemerintah Harus Bisa Atasi Diskriminasi Uni Eropa Terhadap Kelapa Sawit
15-11-2017 / KOMISI IV
Anggota Komisi IV DPR RI Taufiq R. Abdullah mengharapkan, pemerintah sejatinya bisa mengatasi bahkan mengantisipasi terjadinya tindakan diskriminasi terhadap kelapa...
Kasriyah Dorong Terciptanya Regenerasi Petani
14-11-2017 / KOMISI IV
Generasi muda Indonesia semakin banyak yang menjauhi profesi sebagai petani, bahkan di kalangan mahasiswa lulusan fakultas pertanian itu sendiri. Atas...