Masuknya Paham Radikal ke Lingkungan Pendidikan Dinilai Mengkhawatirkan

24-05-2017 / KOMISI X

Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan merasa khawatir atas informasi tentang masuknya sebuah organisasi yang dianggap sebagai pembawa paham radikal yang ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia ke dalam lingkungan pendidikan.

 

“Setiap organisasi yang mengajarkan kepada mahasiswa maupun generasi muda untuk menentang Pancasila, saya kira sudah melawan dan sangat mengkhatirkan sekali. Hal itu karena negara Indonesia dibangun atas berbagai unsur yang ada. Indonesia memiliki 700 suku bangsa, 1100 bahasa dan terdiri dari berbagai agama, keniscayaan itulah yang tidak bisa kita pungkiri,” ujarnya.

 

Sofyan mengatakan,  ideologi Pancasila yang lahir dan digali  para pendiri bangsa, harusnya menjadi satu ideologi yang dijalankan dan diimplementasikan oleh para generasi penerusnya, sebab kalau tidak negara ini akan terpecah-pecah.

 

Sofyan juga meminta kepada pihak penanggungjawab di lembaga pendidikan terkait, apakah Rektor atau Dekan yang membidangi kemahasiswaan, untuk lebih jeli dan mawas diri melihat semua kegiatan yang dilakukan para mahasiswanya.

 

“Kita pernah menemukan kegiatan-kegiatan Porseni yang dilakukan didalam kampus, tetapi ternyata digunakan juga untuk tindak kekerasan dan sebagainya. Perhatian kepada kegiatan mahasiswa penting sekali untuk selalu dicermati,” ungkapnya.

 

Ia menduga, kalau suatu organisasi yang menjurus radikal bisa berkembang didalam sebuah Kampus, maka dimungkinkan karena kurangnya pengawasan yang dilakukan pihak Kampus. Selain itu mungkin juga disebabkan karena ada hubungan keterkaitan pihak-pihak dalam Kampus itu sendiri dengan organisasi tersebut.

 

“Karena biasanya tidak mungkin bisa berkembang kalau tidak ada suasana kondusif bagi mereka untuk berkembang,” tegasnya.

 

Pentingnya penanaman nilai-nilai Pancasila bukan hanya di lingkungan Kampus, lanjutnya. Dan untuk melakukan upaya pencegahannya memang membutuhkan waktu yang lama. Artinya bahwa pencegahan itu bukan dimulai dari Kampus tetapi sejak anak-anak masuk ke bangku sekolah.

 

“Saat ini kami juga sedang membahas hal itu. Pendidikan Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan itu sudah semakin tidak ada. Sekarang yang dikejar adalah nilai-nilai akademis yang berkaitan dengan sains, itukan tidak benar,” tandas Sofyan. (dep/sc), foto : eka hindra/hr.

 


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Peminjaman Modal Bagi Pelaku Ekraf Harus Mudah
22-08-2019 / KOMISI X
Anggota Komisi X DPR RI Popong Otje Djundjunan meminta agar Rancangan Undang-Undang Ekonomi Kreatif (RUU Ekraf) mengenai pasal sistem peminjaman...
DPR RI dan DPRD Perlu Bertemu Periodik
22-08-2019 / KOMISI X
Untuk bisa saling bertukar pengalaman dan berbagi informasi seputar fungsi dan tugas parlemen, DPR RI dan DPRD tingkat provinsi, maupun...
RUU Ekraf Harus Urai Permasalahan
22-08-2019 / KOMISI X
Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifah Amalia menjabarkan beberapa hal yang bisa menjadi hambatan dan harus segera diurai pada...
Komisi X Uji Publik RUU Ekraf ke Yogyakarta
22-08-2019 / KOMISI X
Komisi X DPR RI melakukan uji publik setelah permohonan perpanjangan pembahasan Rancangan Undang-Undang Ekonomi Kreatif (RUU Ekraf) disetujui pada Rapat...