Bali Jadi Contoh Pelaksanaan DAK Kesehatan

17-07-2017 / KOMISI IX

Anggota Komisi IX DPR RI Ketut Sustiawan mengatakan, dalam hal kedisiplinan pelaksanaan DAK bidang Kesehatan, Provinsi Bali dapat dijadikan contoh provinsi lainnya.

Karena dalam evaluasinya banyak daerah yang tidak disiplin melaporkan DAK sehingga penyerapan anggarannya tidak bagus.

"Untuk di Bali saat ini sebagaimana disampaikan pak wagub tadi, pelaksanaannya realisasinya mencapai 100 persen,” ujar Ketut Sustiawan.

Walaupun, kata dia, anggarannya berkurang tapi dengan berbagai strategi dan siasat yang baik, program ini bisa dilaksanakan.

“Tentunya Bali bisa menjadi catatan dan juga bisa direkomendasikan sebagai rekomendasi Panja DAK bidang Kesehatan di Komisi IX ini," kata Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Dapil Jabar I, usai  rapat dengar pendapat (RDP) dengan Wakil Gubernur Provinsi Bali, Ketut Sudikerta di Kantor Bappeda Provinsi Bali, Jumat (14/07/17)

Senada dengan Ketut Sustiawan, Wakil Ketua Komisi IX DPR Syamsul Bachri mengakui kedisiplinan Provinsi Bali dalam menyampaikan pelaporan pelaksanaan DAK Kesehatan.

“Meskipun mengalami pengurangan anggaran namun Bali bisa melakukan efisiensi anggaran yang patut dicontoh oleh daerah lain,” katanya.

Syamsul juga mengatakan, bahwa sesuai data yang ada, kepatuhan daerah untuk menyampaikan pelaksanaan DAK itu hanya sekitar 80 persen,  jadi masih ada kurang lebih 20 persen yang tidak disiplin untuk menyampaikan laporan.

“Sehingga tidak terlihat bagaimana mengevaluasi pelaksanaan pembangunan kesehatan dengan DAK yang kita berikan,” papar Syamsul.

Menanggapi apresiasi dari Komisi IX DPR RI, Wakil Gubernur Provinsi Bali Ketut Sudikerta memaparkan, Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Kesehatan yang didapat Provinsi Bali saat ini kurang lebih sekitar Rp 223 miliar.

 

Sementara, DAK secara keseluruhan yang didapat Provinsi Bali masih ada kekurangan dari Pemerintah Pusat sebanyak Rp 553 miliar lebih, dimana hal itu karena adanya pemotongan pada tahun lalu.

“Tahun ini dan kemungkinan hal tersebut akan berimbas sama di tahun mendatang. Oleh karena itu kami wajib meminta kepada pusat agar DAK kami dibayarkan yaitu sejumlah Rp 553 miliar," kata dia. (ndy/sc)/foto:nadya/iw.


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Aktor Intelektual Pengedar PCC Harus Diungkap
18-09-2017 / KOMISI IX
Aktor intelektual maupun pelaku lapangan pengedar obat Paracetamol Caffein Carisoprodol (PCC) harus segera diungkap, agar korban jiwa tak terus berjatuhan....
RS Swasta Harus Dukung JKN dan KIS
13-09-2017 / KOMISI IX
  Rumah sakit (RS) swasta diimbau mendukung semua program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari BPJS Kesehatan....
Komisi IX Beri Waktu 2X24 Jam Agar Menkes Usut Kasus Debora
12-09-2017 / KOMISI IX
Bayi berumur empat bulan Tiara Deborah Simanjorang meninggal karena tidak mendapatkan pertolongan dan pelayanan kesehatan di RS Mitra keluarga, Kalideres,...
RS Mitra Keluarga Bisa Diberi Sanksi
11-09-2017 / KOMISI IX
  Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga di Kalideres, Jakarta Barat, bisa diberi sanksi karena menolak pasien bayi bernama Tiara Debora Simanjorang yang...