Arteria: Saya Siap Mundur Jika KPK Dibekukan

12-09-2017 / KOMISI III

Anggota Komisi III DPR RI Arteria Dahlan dengan tegas mengatakan, “Saya siap mundur jika KPK dibekukan.” Statemen ini sekaligus menepis tudingan terhadap diskursus pembekuan atau pembubaran KPK oleh DPR.

 

Dalam rilisnya yang diterima Parlementaria, Selasa (12/9/2017), Anggota F-PDI Perjuangan ini, sekaligus ingin mengklarifikasi bahwa tidak ada wacana pembekuan KPK dari fraksinya, setelah koleganya sendiri di fraksi sempat mengeluarkan pernyataan usulan pembekuan KPK. Kritik tajam yang dilontarkannya saat mengikuti rapat dengar pendapat dengan komisioner KPK, Senin (11/9) lalu, merupakan bentuk kecintaannya pada KPK.

 

Pernyataan tegas Arteria di atas sempat mendapat apresiasi tepuk tangan dari para hadirin yang menyaksikan jalannya rapat. Bahkan, para komisioner pun terlihat tersenyum. Kritik tajam dan pernyataan tegas terhadap KPK, tak melulu ditafsirkan sebagai pelemahan. Sebaliknya, itu justru sebagai bentuk penguatan.

 

“Perlu diketahui bahwa pembicaraan Saya dalam rapat tersebut sekitar 18 menit, Saya dengan tegas mengatakan, Saya siap mundur jika KPK dibekukan. Ini merupakan komitmen Saya mendukung penguatan dan perbaikan KPK,” aku Anggota Pansus Hak Angket KPK ini dalam rilisnya, seraya menambahkan, “Saya cinta KPK, Saya cinta NKRI.”

 

Sebagai anggota Pansus, ia memang ingin minta klarifikasi dan jawaban jelas dari KPK menyangkut banyak temuan penyelewengan oleh para penyidik KPK. Pada bagian lain, politisi dari dapil Jatim VI itu, juga mengeritik para komisioner KPK yang tak mengembangkan dialektika kebangsaan dalam sebuah rapat resmi kenegaraan. Maksudnya, Arteria mengeritik keras para komisioner yang tak menyebut para anggota DPR dengan kata “yang terhormat” saat pertama menyampaikan paparan di hadapan rapat.

 

 “Yang terhormat” tidak dimaksudkan sebagai gila hormat atau ingin dihormati, kilah mantan anggota Komisi II dan VIII DPR ini. “Tetapi, ini lebih mengingatkan kepada kami anggota DPR untuk berperilaku terhormat. Itu esensinya,” kata Arteria. Ia mencontohkan, Presiden Joko Widodo saja selalu menyebut “yang terhormat” kepada para pimpinan dan anggota DPR RI. Sementara komisioner KPK tak sedikit pun menyebut itu.

 

“Saya sangat menyayangkan tidak terlihat dialektika kebangsaan yang biasa muncul dalam forum rapat-rapat kenegaraan di DPR. Terlihat ada dinding besar bersekat. Terkesan ada kaum sana dan ada kaum sini, bukan sebagai balutan keluarga besar Indonesia Raya,” kritik Arteria kepada para komisioner KPK. (mh) foto: andri/hr.


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Legislator: Presiden Jokowi Ada Kekurangan, Tapi Banyak Kelebihannya
16-08-2018 / KOMISI III
Anggota Komisi III DPR RI John Kenedy Azis menilai pidato Presiden Joko Widodo dalam Pidato Kenegaraan HUT ke-73 RI maupun...
Tiga RUU Komisi III Rampung Tahun Depan
15-08-2018 / KOMISI III
Tiga Rancangan Undang-Undang (RUU) yang kini sedang dibahas Komisi III DPR RI segera rampung tahun depan. Ketiganya adalah RKUHP, RUU...
MK Perlu Tambah Hakim Perempuan
15-08-2018 / KOMISI III
Mahkamah Konstitusi (MK) membutuhkan setidaknya tiga hakim perempuan untuk mengawal perkara-perkara menyangkut perempuan. Digantinya Hakim Maria Farida dengan Enny Nurbaningsih...
Komisi III Desak Polri Tangkap dan Hukum Kartel Narkoba Pelaku Pembakaran Satu Keluarga
14-08-2018 / KOMISI III
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Erma Suryani Ranik mendesak pihak Kepolisian untuk menangkap dan menghukum seberat-beratnya seluruh pelaku pembakaran...