Perlindungan Jadi Inti RUU Masyarakat Hukum Adat

07-12-2017 / BADAN LEGISLASI

Wakil Ketua Baleg Arif Wibowo. Foto: Runi/od

 

Badan Legislasi DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum dengan pakar hukum agraria Prof. Dr. Maria Sumardjono. Rapat ini membahas tentang harmonisasi Rancangan Undang-Undang tentang Masyarakat Hukum Adat. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua Baleg Arif Wibowo, menurutnya inti dari RUU Masyarakat Hukum Adat adalah perlindungan untuk masyarakat adat. 

 

"Jadi intinya adalah pertama pengakuan, kemudian penghormatan, perlindungan dan pemberdayaan masyarakat hukum adat," ujar Arif di Ruang Rapat Baleg, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (6/12/2017) sore. 

 

Dia mengharapkan RUU ini bisa segera diselesaikan, agar kasus-kasus yang mendiskriminasi masyarakat adat tidak lagi terjadi. Pelanggaran terhadap hak-hak masyarakat adat akan dilindungi oleh undang-undang. Namun, RUU ini juga akan mengatur soal keriteria tertentu yang bisa dinilai bahwa masyarakat adat itu dilanggar hak-haknya. 

 

Dengan demikian tidak semua pihak mudah mengklaim bahwa kasus terkait adalah soal masyarakat adat. Tapi juga sebaliknya pemerintah dan koperasi tidak bisa seenaknya menggusur terhadap komunitas-komunitas yang nyata-nyata menurut kategori masuk dalam masyarakat adat. 

 

"Saya kira Rapat Dengar Pendapat Umum ini memberikan pengayaan kepada Pimpinan dan Anggota Baleg untuk bisa menyusun Rancangan Undang-Undang ini tidak saja komprehensif tapi juga detail dan bisa dilaksanakan di lapangan kelak," jelas Arif. 

 

RUU ini dirancang untuk mengimplementasikan amanat konstitusi yang tertuang dalam UUD 1954 Pasal 18 b ayat 2, bahwa negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.

 

Sementara itu,  Maria Sumardjono memberikan usulan agar RUU ini nantinya sesuai dengan UUD sebagai aturan yang di atasnya dan tidak menabrak aturan yang selevel dengannya. "Jadi jangan nabrak ke atas, jangan nabrak ke samping," ujar penerima Penghargaan tertinggi di bidang pertanahan Citra Bhumi Bhakti Adhiguna ini. (eko/sc)

 


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Baleg DPR Serap Aspirasi Revisi UU Penanggulangan Bencana
21-06-2019 / BADAN LEGISLASI
Tim Kunjungan Kerja Badan Legislasi (Baleg) DPR RI dipimpin Wakil Ketua Baleg DPR RI Totok Daryanto menyerap aspirasi Revisi Undang-Undang...
Banyak Peristiwa Bencana Belum Diatur Dalam UU Penanggulangan Bencana
21-06-2019 / BADAN LEGISLASI
Letak geografis Indonesia yang berada pada cincin api (Ring of Fire) pasifik membuat Indonesia rentan akan bencana. Untuk itu Badan...
Baleg Terima Aspirasi dari ADEKSI
18-06-2019 / BADAN LEGISLASI
Badan Legislasi (Baleg) DPR RI dipimpin oleh Ketua Baleg Supratman Andi Agtas menerima aspirasi dari Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia...
Ganti Rugi di RUU Penanggulangan Bencana Perlu Kajian Mendalam
18-06-2019 / BADAN LEGISLASI
Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Totok Daryanto memberikan parhatian khusus pada Pasal 44 Rancangan Undang-Undang (RUU) Penanggulangan Bencana....