Bandara Kertajati Belum Dimanfaatkan Maksimal

28-06-2018 / KOMISI V

Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo Soekartono, foto : jaka/hr

 

 

Hingga kini, Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, belum dimanfaatkan secara maksimal. Ini bisa dilihat dari intensitas penerbangan yang sepi di Kertajati. Citilink yang mendapat penugasan beroperasi di sana juga menghentikan sementara. Anggaran Rp3 triliun untuk membangun bandara ini menjadi sia-sia.

 

Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo Soekartono menyampaikan hal ini, Kamis (28/6/2018), di ruang kerjanya, Komplek Parlemen, Jakarta. Bandara yang diklaim terbesar di Indonesia ini, ternyata menurut Bambang, tak sesuai faktanya. Kapasitas Kertajati bila dibandingkan dengan sejumlah bandara lain di Indonesia sangat jauh berbeda. Parking stand Kertajati hanya bisa untuk 10 pesawat. Sangat jauh dari idealnya sebuah bandara besar.

 

Bambang lalu mencontohkan, bandara di Yogyakarta memiliki kapasitas parking stand 22. Di bandara lainnya seperti Surabaya 44, Balikpapan 18, Semarang 16, Makassar 37, dan Cengkareng 106. Belum lagi fasilitas garbarata Kertajati hanya empat. Bandara internasional di Cengkareng punya 67 garbarata. Idealnya, sebuah bandara besar kelas internasional harus memiliki setidaknya 50 parking stand.

 

“Pemerintah harus bertanggung jawab, karena tak ada satu pun penerbangan di Kertajati. Jadi, sampai saat ini belum dimanfaatkan dengan baik,” nilai Bambang. Fakta lain tentang Kertajati, sambung politisi Partai Gerindra ini, volume penumpang di Ketajati hanya 5 juta per tahun. Sementara di Balikpapan bisa mencapai 15 juta per tahun. Begitu juga di Surabaya bisa 40 juta per tahun, Semarang 6,5 juta, dan Cengkareng 60 juta. Kertajati juga belum memiliki terminal cargo hingga kini.

 

Bambang juga menyampaikan fakta akses transportasi massal dari dan ke Kertajati belum ada. Selama ini para penumpang pesawat di Bandara Kertajati masih menggunakan transportasi ojek. Jarak tempuh Kertajati ke Bandung mencapai tiga jam dan ke Jakarta enam jam. Melihat akses transportasinya yang masih minim, masyarakat pun, kata Bambang, tak berminat bepergian ke Bandara Kertajati.

 

Pada bagian lain, politisi dari dapil Jatim I ini, menyorot kondisi apron di Kertajati yang masih berupa beton dan belum diaspal. “Itu berbahaya bagi pesawat. Turbin pesawat bisa rusak karena menyedot banyak partikel debu dari landasan. Panjang landasan Kertajati juga hanya 2.750 m. Idealnya, mencapai 3.500 m agar bisa didarati pesawat berbadan besar seperti Boeing 777.

 

Belum lagi, Air Traffic Control (ATC) di Kertajati berada di sisi landasan. Ini jelas Bambang bisa berbahaya pula bagi penerbangan. Suatu saat ada saja pesawat yang mungkin melenceng saat mendarat, sehingga menabrak menara ATC. “Idealnya, menara ATC ditempatkan di sisi terminal atau di belakangnya, sehingga aman bagi penerbangan,” ujarnya. Yang juga mengkhawatirkan adalah masih banyak hewan ternak yang masuk area bandara, sehingga mengganggu aktivitas penerbangan. Otoritas Bandara Kertajati harus memberi perhatian atas semua hal ini.(mh/sc)  

 


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Pembangunan Daerah 3T Harus Menjadi Prioritas
19-09-2018 / KOMISI V
Wakil Ketua Komisi V DPR RI Ibnu Munzir menilai pemerintah perlu memprioritaskan program-program pembangunan kawasan perdesaan, khususnya di daerah terdepan,...
Anggaran Keselamatan Publik Butuh Perhatian
18-09-2018 / KOMISI V
Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo Soekartono mengkritisi penyusunan pagu anggaran Badan Nasional dan Pencarian Orang (Basarnas) dan Badan...
DPR dan Pemerintah Serius Prioritaskan Masyarakat Desa Kalentambo dan Patimban
18-09-2018 / KOMISI V
Anggota Komisi V DPR RI Nurhasan Zaidi menegaskan, DPR RI dan pemerintah serius untuk membantu menangani permasalahan petani warga Desa...
Komisi V Pertanyakan Pengawasan Itjen terhadap Kinerja Kementerian PUPR
17-09-2018 / KOMISI V
Anggota Komisi V DPR RI Jhonny Allen Marbun mempertanyakan pengawasan yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Pekerjaan Umum dan...