Legislator Apresiasi Konsep Pendidikan di PMI Dea Malela

15-07-2019 / KOMISI X
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menghadiri acara Pembukaan Tahun Ajaran baru di PMI Dea Malela, Pamangong Kabupaten Sumbawa Besar NTB. Foto: Odjie/Od

 

 

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengapresiasi konsep pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Modern Internasional (PMI) Dea Malela, Sumbawa Besar. Di pondok pesantren tersebut, santri diajak untuk memiliki wawasan yang luas dan global agar terjauh dari paham radikal dan sempit.

 

Kekaguman tersebut diungkapkan Hetifah saat berkesempatan menghadiri acara Pembukaan Tahun Ajaran dan Pelantikan Santri-Santriwati baru di PMI Dea Malela, Pamangong Kabupaten Sumbawa Besar, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (14/7/2019).

 

“Sangat luar biasa sekali. Kemauan untuk belajar dan memadukan antara kecerdasan akademis sehingga kemampuan memahami ajaran agama begitu besar. Saya kira Pesantren Dea Malela ini adalah salah satu contoh pesantren modern yang mencoba untuk mengajarkan anak-anak berwawasan luas dan global," sanjung Hetifah.

 

Politisi Partai Golkar ini makin kagum ketika berdialog langsung dengan santri internasional PMI Dea Malela yang berasal dari Malaysia, Thailand, Kamboja, Filipina, Timor Leste dan Rusia. "Mereka belajar bersama, berbagi pengetahuan dan pengalaman. Menurut saya ini akan menjadi jaringan (network) yang luar biasa dalam membangun suatu peradaban baru atau mereka menyebutnya Lembah Peradaban (The Valley of Civilization)," imbuhnya.

 

Ia juga mengapresiasi support dari pemerintah daerah, kementerian, BUMN hingga perusahaan swasta yang mendukung pembangunan komplek pendidikan PMI Dea Malela. "Pasal 31 UUD kita mengamanatkan tujuan pendidikan itu bukan hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, namun juga untuk membentuk akhlak mulia, membentuk keimanan dan ketaqwaan sejak dini," tutur Hetifah.

 

Politisi dapil Kalimantan Timur ini menilai model pendidikan seperti PMI Dea Malela sangat menginspirasi. Kedepan ia ingin model pengajaran agama tidak hanya diberikan untuk membangun pemahaman yang sempit dan tidak toleran yang berpotensi melahirkan paham radikal. "Saya melihat di sini anak-anak begitu luas wawasannya begitupun para tenaga pendidiknya mudah-mudahan konsep pendidikan Islam seperti ini bisa menjadi rujukan kedepan," tandasnya.

 

Sementara itu, Din Syamsudin yang merupakan Ketua Dewan Pembina mengungkapkan PMI Dea Malela tidak mendikotomi ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu umum, semuanya dipandang sebagai unity of knowledge. Semua ilmu disajikan dalam semangat integrasi, unifikasi dan sinergi yang diwujudkan dalam konten mata pelajaran. "Formula sedemikian rupa disampaikan kepada peserta didik menggunakan arabic dan english sebagai media of instruction sejak tingkat VIII (Kelas 2 SMP)," paparnya.

 

Pada pembukaan tahun ajaran baru 2019-2020 PMI Dea Malela menerima sekitar 150 santri baru dari daerah di seluruh Indonesia bahkan berbagai negara lainnya. Dari Jumlah tersebut termasuk di dalamnya ada santri dari luar negeri sebanyak 50 orang yang berasal dari Thailand, Kamboja, Malaysia, Timor Leste dan Rusia.  (oji/es)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Hetifah Minta Kemendikbud Prioritaskan Penyelesaian Masalah Guru Honorer
09-07-2020 / KOMISI X
Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan pada tahun 2020-2021 Indonesia diprediksi akan kekurangan sekitar 960 ribu guru. Merespon hal itu,...
Komisi X Evaluasi Program PJJ
09-07-2020 / KOMISI X
Panja Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Komisi X DPR RI sedang mengevaluasi program PJJ bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Peta jalan...
Komisi X Bahas Kebutuhan Guru Nasional
08-07-2020 / KOMISI X
Persoalan kebutuhan guru selalu menjadi hal pelik di dunia pendidikan. Jumlah guru berstatus aparatur sipil negara (ASN) masih harus ditambah...
Komisi X Mulai Bahas RUU SKN
08-07-2020 / KOMISI X
Komisi X DPR RI mulai membahas Rancangan Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional (RUU SKN) dengan para pakar. RUU ini ingin merevisi...