Komisi I Dukung Diplomasi Ekonomi Pemerintah

13-11-2019 / KOMISI I

Anggota Komisi I DPR RI Abdul Kadir Karding. Foto : Naefuroji/mr

 

Anggota Komisi I DPR RI Abdul Kadir Karding mendukung prioritas politik luar negeri (polugri) Indonesia untuk tahun 2019-2024, khususnya pada penguatan diplomasi ekonomi. Guna memperkuat diplomasi ekonomi, tutur Karding, pemerintah perlu menyusun beberapa langkah strategis, salah satunya penguatan pasar domestik.

 

Ia mengusulkan, duta-duta besar aktif melakukan promosi produk Indonesia di pasar tradisional maupun non-tradisional sebagai salah satu bentuk diplomasi ekonomi. “Di era globalisasi dan percepatan informasi ini peran Kementerian Luar Negeri sangat strategis, karena itu harus kuat diplomasinya,” ungkap Karding dalam Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Menteri Luar Negeri di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Selasa (12/11/2019).

 

Politisi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) DPR RI ini juga mempertanyakan kelanjutan diplomasi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang dilakukan Pemerintah. Menurutnya, isu CPO merupakan salah satu langkah diplomasi untuk menjaga kepentingan strategis ekonomi nasional.

 

“Kita mendorong Kementerian Luar Negeri melakukan upaya-upaya khusus terhadap keberlangsungan pasar CPO kita. Mengingat, ada perbedaan tarif bea produk CPO Indonesia dan CPO Malaysia di pasar India, dan ini cukup merugikan,” tandas legislator dapil Jawa Tengah VI itu.

 

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memaparkan prioritas Politik Luar Negeri dan Diplomasi tahun 2019 - 2014 yang disebut formula 4+1. “Prioritas politik luar negeri Indonesia akan bertumpu pada 4+1. Kita sebut formula 4+1," ujar Menlu Retno.

 

Formula itu akan bertumpu pada penguatan diplomasi ekonomi, perlindungan yang lebih baik terhadap WNI di luar negeri, peningkatam diplomasi kedaulatan dan kebangsaan serta peningkatan peran Indonesia di Kawasan dan Global. Sementara,  +1 adalah peningkatan infrastruktur diplomasi.

 

Menlu menambahkan,  lima tahun ke depan merupakan tahun yang sibuk bagi diplomasi Indonesia. Pada 2020, Indonesia masih akan duduk sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB sekaligus menjadi anggota Dewan HAM PBB periode 2020-2022.

 

Di tahun yang sama, Indonesia akan menjadi Ketua Global Health and Foreign Policy. Masih 2020, Indonesia akan menyelenggarakan Halal Sumit dan juga Indo Pasific Infrastructure And Connectivity Forum. Sementara pada tahun 2023, Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN dan juga Ketua G-20. (ann/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Jangan Hapus Sanksi Iklan Minuman Keras dan Eksploitasi Anak pada RUU Ciptaker
12-08-2020 / KOMISI I
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mengkritik penghapusan sanksi bagi pihak yang menyiarkan iklan yang bertentangan dengan...
RUU Ciptaker Dapat Melemahkan Peran KPI
09-08-2020 / KOMISI I
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menilai Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) dapat memperburuk kualitas penyiaran...
Abdul Kharis Minta Kemenlu Pastikan Keselamatan WNI Pasca Ledakan Lebanon
05-08-2020 / KOMISI I
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menyampaikan duka mendalam atas ledakan hebat yang mengguncang ibu kota Lebanon,...
Penyelesaian RUU PDP Semakin Krusial
05-08-2020 / KOMISI I
Anggota Komisi I DPR RI Christina Aryani melihat bahwa urgensi Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP) sudah sangat krusial...