Mahasiswa Sebagai Masyarakat Intelektual Miliki Ragam Ide dan Gagasan

13-11-2019 / KOMISI III

 

Foto Bersama dengan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Aceh dalam acara Parlemen Kampus 2019. Foto : Surya/mr

 

Mahasiswa merupakan sebuah miniatur masyarakat intelektual yang memiliki corak keberagaman pemikiran, gagasan dan ide-ide yang penuh dengan kreatifitas dalam rangka mewujudkan Tri Darma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian pada masyarakat.

 

Demikian disampaikan Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil saat membacakan makalah Wakil Ketua DPR RI Koordinator bidang Politik dan Kemananan (Korpolkam) Azis Syamsuddin dalam acara Parlemen Kampus 2019 di Universitas Syiah Kuala, Aceh, Rabu (13/11/2019).

 

"Sungguh menarik memang jika kita kembali memperbincangkan persoalan kampus dan dinamikanya yang sangat dinamis. Kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, dan pencerahan, tempat mahasiswa lahir menjadi kaum pemikir bebas yang tercerah," kutip Nasir Djamil.

 

Dengan sifat keintelektual dan idealismenya, sambungnya, mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi entitas (model) yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan. Ciri dan gaya mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atas persoalan-persoalan yang ada. 

 

"Pijakan ini menjadi sangat relevan dengan nuansa kampus yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan pokok persoalan apapun. Dengan kata lain, kampus merupakan laboratorium besar tempat melahirkan beragam ide, pemikiran, pengembangan wawasan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk peranan sosial individu mahasiswa tersebut dalam kehidupan kemasyarakatan sebagai bentuk pengabdian masyarakat," ucapnya.

 

Disampaikannya, mahasiswa yang berada pada usia transisi, yakni berada diantara usia anak dan usia dewasa dimana terjadi proses perkembangan dan perubahan sifat-sifat tradisionalnya menjadi bentuk dan fase yang jauh lebih matang.

 

Hal ini sejalan dengan pandangan yang menyatakan bahwa kehadiran generasi muda bukan semata-mata gejala demografis, tetapi juga gejala sosiologis dan historis yang memandang generasi muda tidak hanya mengisi sebuah episode generasi baru dalam komunitas masyarakat, tetapi merupakan subjek potensial bagi perubahan komunitas itu sendiri . 

 

Dalam sejarah peradaban bangsa, lanjutnya, mahasiswa merupakan aset bangsa yang sangat mahal dan tak ternilai harganya. Kemajuan atau kehancuran bangsa dan negara banyak tergantung pada kaum mudanya sebagai agent of change (agen perubahan). Pada setiap perkembangan dan pergantian peradaban selalu ada mahasiswa yang memeloporinya.

 

"Mahasiswa juga memiliki tanggung jawab yang besar dalam tatanan kehidupan bermasyarakat karena mahasiswa dipandang memiliki kemurnian idealisme; keberanian dan keterbukaannya dalam menyerap nilai dan gagasan baru; semangat pengabdiannya; spontanitas; Inovasi dan kreatifitasnya; keinginan untuk segera mewujudkan gagasan baru; keteguhan janji dan keinginan untuk menampilkan sikap dan kepribadiannya yang mandiri; dan masih langkanya pengalaman yang merelevansikan pendapat, sikap dan tindakannya dengan kenyataan yang ada," tutur Nasir. 

 

Ia mengatakan, dalam kaitannya mencari pola penerapan pendidikan karakter, integritas kearifan lokal di masyarakat merupakan gagasan yang perlu diimplementasikan. Kearifan lokal mengandung nilai-nilai luhur yang perlu dilestarikan. "Dalam kondisi seperti tersebut di atas, generasi muda dianggap adalah generasi pertama yang harus mendapatkan perhatian yang serius,” ungkapnya.

 

Pembinaan dan pendidikan karakter sangat diperlukan bagi generasi muda yang berada pada tataran usia mencari jati diri. “Oleh sebab itu maka generasi muda harus dibentuk karakter yang baik yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Pembentukan karakter generasi muda dengan pendekatan humanis berbasis kearifan lokal melalui pelestarian nilai-nilai budaya dipandang sebagai langkah strategis," pungkas politisi Fraksi PKS itu. (dep/es)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Kemampuan Polri Tangani Aksi Terorisme Sudah Mumpuni
11-08-2020 / KOMISI III
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni menilai selama ini kemampuan Polri sudah cukup baik dan mumpuni dalam menangani...
Penegakan Hukum Bisa Humanis, Tanpa Menakutkan
07-08-2020 / KOMISI III
Anggota Komisi III DPR RI Eva Yuliana menilai, penegakan hukum sebetulnya bisa dilakukan dengan cara humanis tanpa perlu melakukan kekerasan...
Polri Harus Usut Oknum Imigrasi yang Bantu Djoko Tjandra
02-08-2020 / KOMISI III
Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri harus mengusut pula oknum imigrasi yang terlibat di balik pelarian Djoko Tjandra. Di sisi lain...
Polisi Diminta Tidak Tebang Pilih Tangani Kasus Intoleransi
30-07-2020 / KOMISI III
Anggota Komisi III DPR RI Habib Aboe Bakar Alhabsy berharap polisi tidak tebang pilih dalam menangani kasus tindakan intoleransi, dan...