Profil

Ferry Mursyidan Baldan


Bagi Ferry Mursyidan Baldan, konstituen atau rakyat pemilih sangatlah berarti. Menjaga komunikasi dengan rakyat yang memilihnya merupakan suatu hal yang wajib ia lakukan. Karena itu, paling tidak dua kali dalam sebulan Ferry menyempatkan diri menemui konstituen secara langsung.

Menurut wakil rakyat dari daerah pemilihan Bandung ini, dengan sistem yang semakin berkembang seperti saat ini, komunikasi dengan konstituen bukan hanya sekedar simbol. Dan merupakan kewajiban bagi Ferry untuk memberikan laporan tugas?tugas kepada konstituen di daerah pemilihannya.

Ferry adalah sosok anggota dewan yang menguasai tugasnya sebagai anggota Dewan. Ferry termasuk orang yang mudah diwawancarai dan menguasai persoalan yang berkembang. Tak heran ia selalu menjadi nara sumber bagi kalangan wartawan peliput kegiatan DPR mengenai berbagai persoalan aktual. Kedekatannya dengan kalangan pers, diakuinya turut memperlancar tugasnya sebagai anggota dewan.

Peraih penghargaan sepuluh angota Dewan terbaik periode 1999-2004 versi koordinatoriat wartawan DPR kepada Ferry adalah tepat, karena penguasaannya terhadap bidang Komisi yang digelutinya, pemahamannya atas berbagai peraturan perundang-undangan dan tata tertib DPR, bobot intelektual, integritas moral, komitmen kepada kepentingan rakyat pemilih, konsistensi sikap dan perbuatan selama duduk di DPR, serta popularitas di kalangan wartawan.

Tetap Bertahan
Ferry, merupakan sosok yang pandai membaca situasi. Ketika banyak kader Partai Golkar, Partai yang mengantarnya ke Senayan hingga tiga periode, berbondong-bondong hengkang dari Partai tersebut dan pindah ke partai lain yang diperkirakan lebih menguntungkan, Ferry dengan kepiawaiannya membaca situasi, selain kesetiaannya kepada Partai Golkar tentunya, memilih tetap bertahan di Partai berlambang pohon beringin tersebut. Terbukti, Ferry akhirnya kembali terpilih untuk ketiga kalinya sebagai anggota Dewan.
Pilihannya itu, tentu saja dengan pertimbangan yang matang dan Ferry bersama rekan-rekannya yang tetap setia dengan partai bekerja keras membangun kembali kebesaran Partai Golkar.
Dengan demikian usaha yang ia lakukan bersama kader Golkar lain tidak sia-sia, terbukti anggota dewan sekarang didominasi oleh kader partai berwarna kuning dan berlambang pohon beringin.


Kiprah di Senayan
Sebelum menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan Bandung, pengalamannya di Senayan dimulai ketika ia terpilih menjadi anggota MPR periode 1992-1997 mewakili organisasi pemuda/mahasiswa.
Pada 1992 ia resmi menjadi anggota Golongan Karya (Golkar/sekarang Partai Golkar). Dan pada tahun yang sama, ia mempersunting rekannya sesama aktifis di HMI, Hanifah Husein.
Ferry menuturkan pilihannya kepada Golkar sebagai wadah berkiprah di politik praktis, karena Golkar mencerminkan miniatur Indonesia. Selain itu di dalam organisasi sosial politik ?istilah untuk Golkar kala itu? potensi politis serta intelektual sangat besar, sehingga selain menyalurkan aspirasi politik, ia juga bisa mengembangankan karir politiknya.
Pemilu 1997 merupakan pengalaman pertama bagi Ferry menjadi anggota calon legislatif dan mengantarnya menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan Bandung. Ferry ditempatkan di Komisi II, komisi yang di antaranya membidangi pemerintahan dalam negeri, hukum, kepolisian, dan aparatur negara. Seharusnya masa keanggotaan DPR hingga 2002, tapi gelombang gerakan reformasi dan tumbangnya rezim orde baru memaksa dipercepatnya pemilu, otomatis periode DPR hasil pemilu 1997 ini hanya sampai 1999.
Selanjutnya pemilu 1999 kembali mengantarkan Ferry ke Senayan, untuk kedua kalinya menjadi anggota DPR periode 1999 -2004. Pada periode ini, Ferry dipercaya menjadi Wakil Ketua Komisi II. Dalam periode inilah, Ferry terlibat dalam penyusunan UU yang dinilai banyak pengamat sebagai landasan menuju Indonesia yang demokratis, yakni UU No 22/1999 tentang Otonomi Daerah, UU No 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, dan Pansus tiga UU bidang Politik, khususnya UU parpol dimana Ferry sebagai Ketua Pansus.
Selain tugas legislasi, sebagai mantan Ketua Komisi II, peran Ferry juga cukup besar dalam proses seleksi atau fit and proper test pejabat negara atau anggota komisi independen, seperti KomisiPemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN), Komisi Pemilihan Umum (KPU), Mahkamah Agung (MA), Mahkamah Konstitusi (MK), Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPTPK/sekarang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)).
Ferry juga terlibat dalam Pansus RUU N0 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang melahirkan Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (Pilkada). Dalam UU itu, Ferry dipercaya sebagai Wakil Ketua Pansus. Terakhir Ferry dipercaya sebagai Ketua Pansus Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (RUU PA).
Kini, obsesi Ferry adalah menjadi pemimpin partai atau yang lebih luas lingkupnya, yaitu presiden.


Bersikap Biasa Saja
Meskipun menjadi seorang anggota dewan, tegas Ferry, jangan merasa menjadi seorang pejabat. Seorang anggota dewan harus bersikap biasa-biasa saja, sebagaimana umumnya masyarakat.
Ditanya pendapatnya mengenai anggota DPR sekarang, Ferry mengaku sulit untuk memberikan penilaian. Menurutnya, yang harus dipahami adalah mekanisme kerja di DPR itu adalah kolektif. Jadi, sehebat apa pun anggota dewan, tetap tidak bisa merepresentatifkan institusi dewan itu sendirian.
Yang penting, katanya, bagaimana kita meramu menjadi sesuatu yang berarti, katakanlah sebuah kesepakatan, membangun konsensus. Karena ini semua merupakan seni berkomunikasi.
Oleh sebab itu kita harus menerima dan tidak usah dipersepsikan macam-macam. Yang penting kita terbuka dengan teman-teman wartawan, jangan ada yang disembunyikan, kalau mereka bertanya kita sampaikan.
Seperti rapat yang membahas tentang anggaran pilkada dilakukan secara tertutup kita dikecam oleh pers. Padahal maksudnya dilakukan tertutup adalah untuk menghindari salah persepsi dari kalangan pers mengenai perdebatan yang terjadi dalam rapat tersebut, sehingga berita yang dimuat tidak dipelintir.


Sosok Aktivis
Menjadi anggota parlemen bukanlah cita-cita pria berpenampilan necis ini. Sejak kecil, Ferry bercita-cita ingin menjadi seorang pilot pesawat terbang atau diplomat, agar bisa melanglang buana ke berbagai negara.
Upaya yang maksimal telah dilakukan Ferry untuk meraih cita-citanya itu. Bahkan Ferry sempat melamar ke berbagai perusahaan penerbangan. Namun, keinginan itu kandas karena ia berkacamata.
Manusia punya kehendak, tapi Tuhan yang menentukan. Pada akhirnya putra dari pasangan Baldan Nyak Oepin Arif dan Syarifah Fatimah yang asal Aceh dan lama bermukim di Bandung, Jawa Barat, ini menjadi seorang politisi dan anggota parlemen.
Kesuksesannya dalam berkarir di politik praktis tidak terlepas dari aktivitas dan kiprahnya di kampusnya dulu. Alumni fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Bandung, ini tidak hanya aktif di organisasi internal kampus, organisasi ekstern kampus juga ia terjuni. Tak heran, pria kelahiran, 16 Juni 1961 ini lebih dikenal sebagai aktivis berbagai organisasi kemasyarakatan.
Sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ferry pernah menjabat sebagai Ketua Umum Badko, Jawa Barat (1988-1990) dan Ketua Umum PB HMI (1990-1992). Ia pernah pula menjadi Sekjen DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indoensia (AMPI)/ 1998-2003), dan Ketua DPP Kosgoro (1994-1999).
Jabatan sebagai Ketua Badko HMI inilah yang membawanya berkenalan dengan sejumlah alumni HMI yang berkipah di Partai Politik, di antaranya Akbar Tandjung, yang merupakan salah satu tokoh idola pria berkacamata ini.
Dengan pengalaman di berbagai organisasi kemasyarakatan tersebut dan didukung latar belakang keluarganya yang juga keluarga aktivis, membuat Ferry semakin matang pengalamannya. Dengan referensi tersebut memudahkan Ferry terjun ke dunia politik praktis dan menunjang kinerjanya sebagai wakil rakyat.
Keseriusannya di dunia aktivis ini bukan merupakan pelarian dari tidak tercapai cita-citanya, tapi karena banyak hal yang melatarbelakangi kenapa ia bisa sepenuhnya serius dan cocok di dunia aktivis ini.

Bertemu Tambatan Hati
Ferry mengenal Hanifah pada suatu kegiatan di HMI dimana Hanifah menjadi panitianya. Bak gayung bersambut, cintanya dengan Hanifah disambut dengan tangan terbuka. Maka pada 1993, Ferry mempersunting Hanifah Husein, rekannya sesama aktivis di HMI.
Rumah tangga yang telah dijalani selama 12 tahun ini dibangun dengan membina rasa sayang, saling percaya, dan saling menghormati. Padatnya jadwal sebagai anggota Dewan, bukan alangan bagi mereka untuk berbagi kasih.
Mereka berdua selalu menyediakan waktu-waktu khusus untuk bersama, seperti mengagendakan hari sabtu dan minggu untuk kebersamaan mereka. Waktu tersebut mereka gunakan untuk sekedar jalan-jalan atau makan bersama. Meskipun waktu kebersamaan mereka acap kali terganggu, namun mereka memahami itu merupakan konsekuensi sebagai wakil rakyat. Diakuinya, terkadang sang istri suka timbul rasa cemburu karena banyaknya aktivitas dan sering berhubungan dengan orang lain.
Diakuinya, dalam rumah tangga terkadang banyak menghadapi tantangan yang cukup besar. Misalnya, tantangan keduanya yang belum diberi kesempatan mempunyai keturunan. Namun, hal itu bukan menjadikan suatu masalah yang besar bagi keduanya.
Dengan bijak Ferry berujar, dengan adanya cobaan tersebut, jangan membuat hubungan suami istri menjadi tegang, karena segala sesuatu sudah diatur oleh Tuhan. Artinya, jika dibayangkan kalau hidup kita ini disempurnakan oleh Tuhan, maka kita menjadi orang yang tidak pandai bersyukur atas limpahan kasih sayang yang telah Tuhan berikan kepada kita.