Profil

Ir. H. Roestanto Wahidi Dirdjojuwono, MM


Politisi yang satu ini, tiba-tiba menjadi incaran para pemburu berita dipenghujung tahun 2005 lalu. Betapa tidak, saat itu ia harus siap menjawab pertanyaan dari berbagai media massa baik cetak maupun elektronik seputar kunjungan BURT DPR ke Mesir.


Sosok yang akrab dipanggil Roestanto dan memiliki nama lengkap Roestanto Wahidi Dirdjojuwono ini berasal dari Fraksi Demokrat. Roestanto terpilih menjadi Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) pada tanggal 16 November 2005.


Penampilannya rapi dan sikap yang ramah dengan postur badan yang tinggi semampai dan kaca mata yang tak pernah lepas dikenakannya, Rustanto menceritakan perjalanan hidupnya kepada Parlementaria di ruang kerjanya yang terkesan indah dan rapi. foto-foto keluarga juga ikut menghiasi ruang kerjanya.
Tidak pernah terpikir dibenak Roestanto untuk menjadi seorang politikus. Saat menamatkan sekolahnya di SMA, ia bercita-cita menjadi tentara Angkatan Laut. Ia terobsesi menjadi anggota TNI Angkatan Laut karena salah satu kakaknya menjadi seorang tentara dan melihat seragam dinas yang serba putih terkesan rapi dan gagah dipandang.


Kiprahnya didunia politik dimulai sejak tahun 1999 ketika aktif menjadi pengurus DPP yayasan Islam. Dari Ormas Islam inilah, ia kemudian menjadi Anggota MPR dari Utusan Golongan. Sejak saat itu Rustanto mulai mengenal gedung wakil rakyat di Senayan.
Ketika Fraksi Utusan Golongan di MPR sudah tidak ada, ia lalu diajak salah seorang saudaranya untuk bergabung ke Partai Demokrat yang pada waktu itu masih terbilang partai baru.
Kenapa ia tertarik masuk ke partai tersebut ? Menurut pria kelahiran Yogyakarta ini, melihat dari Platform partainya, pendirinya dan ikonnya yang bagus, membuat ia tertarik bergabung dengan Partai Demokrat. Sebagai partai yang baru, masih memerlukan dan mencari banyak kader. Dari situlah Rustanto baru terlibat aktif di politik yang sebenarnya.

Mensyukuri Karunia
Pria yang menamatkan Master Of Business Administration (MBA) dari Newport University California, USA dan Magister Manajemen (MM) dari Universitas Indonusa Esa Unggul ini berasal dari keluarga besar. Ia anak kedelapan dari sebelas bersaudara atau anak laki-laki terkecil.
Ayah Rustanto seorang Pegawai Negeri, sehingga untuk menyekolahkan sebelas anaknya, semua harus hidup serba sederhana. Saat Rustanto diterima di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Gajah Mada, saat itu ayahnya sudah memasuki pensiun.
Namun, walaupun ayahnya sudah pensiun tidak menjadi halangan baginya untuk melanjutkan kuliah. Karena keberuntungannya itulah ia sangat mensyukuri karunia yang diberikan kepadanya.
/?Mungkin jika orang lain dengan kondisi ekonomi seperti itu, bisa lulus kuliah seperti saya adalah hal yang surprise,/? kata Rustanto bangga dengan perjuangannya hingga bisa menyandang gelar insinyur.


Setamat Rustanto dari Fakultas Teknik Arsitektur pada tahun 1974, maka kiprahnya menjadi konsultan di bidang arsitektur berkembang pesat. Siapa yang tidak kenal sosok Rustanto, dalam dunia properti sosoknya pasti tidak akan asing lagi.
Dari tahun 1974 hingga 1997 ia berprofesi sebagai seorang konsultan. Jadi jika dihitung-hitung sudah hampir 25 tahun ia menjadi seorang konsultan. Sudah banyak proyek yang dibangun dari hasil karyanya. Diantara bangunan tersebut hasil karyanya adalah Menara gedung BNI, gedung WTC dan gedung Metropolitan yang semuanya berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman.
Tahun 1997 Roestanto alih profesi sebagai konsultan properti. Ia bergabung dengan PT Mandalapratama sebagai pengembang Kawasan Industri Cikampek yang sebagian lahannya dipakai untuk pabrik mobil Timor.
Sejak itu karir Roestanto kian melesat naik di bisnis properti. Belakangan ia tidak lagi sebagai konsultan, tapi ikut aktif sebagai pengelola di sejumlah perusahaan properti seperti di Mandala Griya Cipta dan PT Putra Ciptawahana Sejati. Ia juga mengembangkan kawasan resor terpadu di Belitung, meski segudang tanggung jawab ada dipundaknya.


Ternyata, selain kegiatannya yang begitu padat, Rustanto masih menyempatkan waktu untuk mengajar di Fakultas Teknik jurusan Arsitektur Universitas Tarumanegara dari tahun 1975 hingga 2004. Ketertarikan dirinya menjadi seorang dosen dikarenakan dengan mengajar ia juga bisa mengamalkan ilmu kepada para mahasiswa.
Ia mengajar mulai dari menggambar arsitektur, perencanaan sampai dengan membimbing tugas akhir mahasiswa. Walaupun disadarinya, imbalan sebagai seorang dosen itu tidak seberapa, namun ia lebih menekankan panggilan jiwa untuk mengamalkan ilmu dan pengalaman yang didapat selama ini.
Bahkan kiprahnya didunia pendidikan menghantarkannya menjadi Pegawai Negeri Sipil di Kopertis Wilayah III Jakarta. Saat itu (tahun 1980) ia diminta pihak universitas untuk masuk di Kopertis III. Akhirnya Roestanto harus berhenti karena menjadi anggota Partai Demokrat dan pada tanggal 1 Januari 2004 pensiun dengan golongan IV B.
Keseriusan pria dengan tiga anak dan satu cucu ini di dunia pendidikan ternyata tidak sampai disitu. Rustanto masih menyempatkan waktunya untuk menulis buku-buku ilmiah. Beberapa buku yang telah beredar dipasaran adalah Sistem Bangunan Pintar, Inteligent Building The Future yang diterbitkan oleh Pustaka Wiramuda Bogor, Juli 2001 dan Kawasan Industri Indonesia sebuah Konsep Perencanaan dan aplikasinya, diterbitkan juga oleh Pustaka Wiramuda, Bogor, Nopember 2003.

Bertemu Di Arena Bowling
Orang pasti bertanya, Rustanto yang berasal dari Yogyakarta ini kenapa terpilih menjadi anggota DPR dari Daerah pemilihan Jawa Barat II (Bandung). Ternyata sang istri tercinta memang berasal dari Bandung.
Walaupun sebagai wakil rakyat dari bumi Priangan, Rustanto berkenalan dengan sang istri di Jakarta tepatnya di arena Bowling di kawasan Blok M. Arena bowling inilah yang menyatukan dua sejoli ini sehingga menjadi tempat kenangan manis bagi Rustanto.
Dari buah perkawinan itu, Rustanto dikarunia tiga orang anak, dua laki-laki dan satu puteri. Walaupun saat itu gaji Rustanto masih kecil, tapi sang istri mengabdikan penuh dirinya sebagai ibu rumah tangga. Dan sekarang, ia dapat berbangga hati melihat semua putra putrinya telah menamatkan gelar Sarjana.
Sebagai orang tua sudah seharusnya Rustanto bangga melihat putra putrinya berhasil. Tidak ada kiat khusus yang diterapkan dalam keluarganya dalam mendidik putra putrinya. Namun, ia punya prinsip dalam menjalani hidup manusia boleh mempunyai cita-cita tinggi, tetapi Allah juga yang telah mengaturnya. Jadi apapun yang telah kita lakukan jika tidak atau belum tercapai sebaiknya dinikmati saja.
Dalam kegiatannya yang padat itu, pria yang hobi bermain golf ini tidak pernah lupa meluangkan waktunya buat keluarga, terutama akhir pekan. Rustanto memang sangat mahir bermain golf. Terbukti di ruang kerjanya ada beberapa piala yang disabetnya dari beberapa kejuaraan Golf. Namun selain olah raga Golf yang dilakukannya seminggu sekali, bapak yang sudah mempunyai satu orang cucu laki-laki ini juga senang berenang.

Tentang Politik Kotor
Banyak orang beranggapan dunia politik itu kotor. Lain halnya pandangan Rustanto, ia memang melihat dan merasakannya. Tapi sejauh itu untuk membangun, baginya tidak menjadi masalah dan tidak dipermasalahkan.
Sambil mengingat saat ia menjadi Anggota MPR dari Utusan Golongan, Rustanto menceritakan, waktu di MPR jujur saja suasana saat itu lebih cenderung kepada pertemanan politik meskipun teman itu adalah lawan politiknya. Tapi setelah menjadi Anggota DPR, dia baru merasakan nuansa politiknya sangat kental. Walaupun diakuinya, tempat ia duduk (Komisi V) perbedaan antar fraksi itu tidak kelihatan.
Hal ini disebabkan Komisi dimana ia duduk adalah Komisi yang tidak berhubungan dengan politik karena Komisi V membidangi Perhubungan, Telekomunikasi, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat dan Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal. Lain halnya jika di Komisi I, II maupun III, yang kental akan muatan politiknya. Tentunya Rustanto duduk menjadi anggota Komisi V sangatlah tepat. Apa yang digeluti di Komisi V tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah ia geluti di properti.
Pria yang pernah memperoleh penghargaan International Best Executive Awards, 2003-2004 dari Asean Programme Consultant Indonesian Consortium ini melihat perkembangan dunia properti Indonesia saat ini cukup bagus. Apalagi sekarang rupiah sudah menguat dan investor banyak yang mau masuk. Walaupun ada beberapa kendala dalam menyediakan perumahan rakyat, sebagai akibat dari kenaikan BBM yang berpengaruh pada harga bangunan yang naik rata-rata 30% sehingga sangat mempengaruhi harga bangunan.
Dalam hal ini, Komisi V telah meminta kepada Menteri Perumahan Rakyat dalam menyediakan rumah sederhana lebih memperhatikan harga jual yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Karena itu, jika ada kenaikan jangan mengikuti kenaikan dari bahan bangunan, pasti tidak akan laku. Selain itu, perlu membuat suatu terobosan teknologi dengan menggunakan teknologi yang terapannya bagus sehingga harga tetap tetapi kekuatan dan keindahannya masih sama.
Diharapkan, harga rumah-rumah tersebut nantinya dapat terjangkau oleh masyarakat menengah kebawah (masyarakat berpenghasilan rendah), khususnya untuk rumah sangat sederhana.

Pengalaman Mesir
Pria ramah yang menguasai bahasa Inggris ini mengambil pengalaman berharga dari kasus Mesir tahun lalu. Walaupun hujatan datang dari berbagai media massa dan masyarakat, ia dapat menerimanya dengan lapang dada, dan semua itu dikembalikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Rustanto menyadari, sifat rapat BURT yang tertutup itu menimbulkan kesan Pers sulit untuk mendapatkan informasi. Tapi dalam Tata Tertib DPR telah ditetapkan bahwa sifat rapat BURT itu memang tertutup. Hal itu dilakukan karena di dalam rapat BURT, kita mengolah anggaran dan membahas tentang kebijakan-kebijakan intern untuk dewan. Sifatnya yang tertutup itulah, sehingga ada kesepakatan bahwasanya tidak akan membocorkan apalagi memberitahukan hasil rapat kepada wartawan.
Menurut Rustanto ada hal-hal tertentu yang dapat dipublikasikan bila sifatnya lebih kepada kebijakan. Namun untuk hal-hal yang sifatnya masih rahasia, tentunya tidak dapat dipublikasikan. Yang berhak berbicarapun dalam hal ini adalah Wakil Ketua DPR RI Bidang Korkesra.
Rustanto sangat setuju adanya keterbukaan, bahkan untuk urusan gaji anggotapun memang tidak ada yang perlu dirahasiakan. ?Banyak orang bilang gaji anggota DPR itu besar, tapi cukup tidak cukupnya gaji yang diterima anggota itu relatif,? katanya. Tapi ia selalu mensyukuri apa yang didapat.
Banyak masyarakat yang tidak tahu, anggota dewan harus menyisihkan sebagian pendapatannya untuk konstituennya. ?Kalau kita tidak menyisihkan dana, jika ada keperluaan mendadak seperti permintaan sumbangan dan lain-lain, dari mana uang itu kita berikan, tentunya kita tidak bisa menolaknya,? jelasnya.
Surprise Ditunjuk Ketua BURT
Sosok yang pernah menjadi Wakil Ketua Badan Profesional Ikatan Arsitek Indonesia Pusat dari tahun 1996-1997 ini melihat kinerja Anggota Dewan sekarang cukup baik, dari segi legislasi, pengawasan maupun anggaran. Walaupun dari sisi legislasi, RUU yang disahkan masih belum sesuai dengan target, namun sekarang sudah ada penekanan untuk menambah produk legislasi kita.
Banyak pengalaman yang didapat Rustanto selama menjadi anggota DPR. Hal yang tak terlupakan baginya ketika ia ditunjuk menjadi Ketua BURT.
Sebagai orang yang dipercaya duduk menjadi Ketua BURT, Rustanto berharap kedepan bisa benar-benar menampung aspirasi dari para anggota. Namanya juga mengurus rumah tangga anggota dewan, jadi betul-betul dapat diurus dengan baik, mulai dari gaji, fasilitas dan sebagainya. Baik disini bukan berarti mewah, tapi anggota dewan betul-betul bisa nyaman.
Seni dan Kompromi
Perbedaan latar belakang profesi dari seorang arsitek menjadi polikus ternyata tidak menyulitkan pria yang sebelumnya pernah menduduki jabatan Direktur Utama diberbagai perusahaan swasta ini. Ternyata Rustanto menikmati profesi barunya, dari sebelumnya tidak pernah berpikir untuk menjadi politikus, akhirnya ia sekarang berkecimpung ke dunia politik.
Pada saat di arsitektur memang sangat dibutuhkan sentuhan seni yang tinggi dan juga emosi, tetapi didunia arsitektur sebagai konsultan juga tidak terlepas dari hubungan dengan pihak lain sehingga tercipta suatu produk arsitektur.
Di situ diperlukan kompromi antara idealisme dengan kenyataan yang ada dilapangan, karena sudah kebiasaan kita melakukan kompromi dalam artian positif sehingga pada saat iapun pindah ke bidang properti yang lebih banyak kompromistis. Jika dulu ia yang dibayar sebagai konsultan, sebaliknya sekarang ia yang membayar konsultan.
Dan rupanya dibidang politik juga seperti itu, meskipun ada hal-hal yang sifatnya idealis kemudian karena kepentingan partai, fraksi dan kepentingan lain yang mengharuskan kita harus kompromi baik itu dengan intern partai atau fraksi sendiri dan kompromi dengan fraksi lainnya.
/?Saya tidak terkejut melihat itu, karena kita melakukan kompromi-kompromi dalam arti yang positif. Karena menurut saya kompromi dilakukan karena kita mempunyai latar belakang dan idealisme yang berbeda,/? ujarnya bijak mengakhiri bincang-bincangnya dengan Parlementaria. (mp/tt/nt)