Profil

Drs. H. Arief Mudatsir Mandan, M.Si


Anggota DPR Harus Mampu Beri Solusi Nyata Untuk Rakyat

Bak bejana yang telah tertempa, Arief Mudatsir Mandan, wakil rakyat yang lama berkecimpung di dunia politik ini mampu menggagas pemikiran yang cemerlang untuk menaikkan citra DPR RI yang telah terpuruk di mata rakyat, yaitu anggota DPR RI harus mampu memberikan solusi nyata guna membantu rakyat agar dapat keluar dari permasalahan hidup yang mereka hadapi.

?Anggota DPR RI harus mampu memberikan solusi nyata untuk membantu rakyat agar dapat keluar dari permasalahan hidup yang mereka hadapi. Untuk itu DPR RI harus mampu menemukan sistem penyerapan aspirasi yang tepat agar dapat memberikan jalan terbaik bagi rakyat. Jangan hanya sekedar menampung aspirasi,? kata anggota DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan ini dengan tegas..

Menurut Arief, sistem penyerapan aspirasi yang dilakukan DPR RI saat ini kurang efektif dan kurang optimal untuk membantu rakyat keluar dari permasalahan yang mereka hadapi. Sebab, kunjungan kerja terutama kunjungan kerja pribadi yang dilakukan anggota DPR RI biasanya hanya bersifat insidentil.

?Sering kali kita hanya datang ke suatu daerah, tanya jawab dengan masyarakat tentang permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi, tapi kita tidak memberikan solusi nyata, ? katanya.

Karena itu Arief berpendapat, idealnya kunjungan penyerapan aspirasi itu tidak hanya merupakan kunjungan penyerapan aspirasi  biasa, melainkan kunjungan penyerapan aspirasi plus memberikan solusi.

Lebih lanjut Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR RI ini mengatakan penyerapan aspirasi plus memberikan solusi ini, hanya  bisa dilakukan kalau anggota DPR yang bersangkutan itu sering datang ke Konstituen.

?Idealnya saat turun ke lapangan, mengunjungi masyarakat, anggota DPR RI harus dibantu tenaga ahli yang dapat membantu dalam   menyerap aspirasi sekaligus memberikan solusi untuk memecahkan masalah yang saat itu disampaikan masyarakat kepada anggota yang bersangkutan, ? papar lulusan tahun 1999, program studi Sosiologi Pascasarjana Universitas Indonesia ini dengan intonasi yang enak disimak.

Arief yang juga pernah menjadi Kepala Proyek Pengembangan Masyarakat Desa melalui pondok Pesantren pada 100 Pondok Pesantren di Jawa dan Sumatera pada tahun 1980-1983 ini mengibaratkan proses penyerapan yang dilakukan Dewan seperti itu sebagai memutar sebuah kaset.

?Karena proses seperti itu akan diulang lagi pada reses yang berikutnya. Mereka akan melakukan hal yang sama, dan itu terasa sangat mubazir. Padahal rakyat berharap banyak. Apalagi berbarengan dengan makin meningkatnya pengangguran, kemiskinan, persoalan pertanian, kelautan perikanan yang di daerah. Di tambah adanya bencana. Semuanya perlu uluran tangan, solusi dari kita, ?papar anggota DPR RI yang pernah menjadi Kepala Pusat Studi dan Pengembangan Irigasi (PSPI) LP3ES tahun 1989-1990 ini dengan gamblang.

?Alangkah baiknya jika kita mengikuti sistem pengembangan masyarakat. Kita dapat gunakan sebagian dana untuk penyerapan aspirasi tersebut untuk program-program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat. Misalnya saja kita dapat gulirkan dana kepada masyarakat dalam bentuk modal dagang. Bagi rakyat di daerah uang seratus, dua ratus ribu rupiah sudah cukup untuk modal berdagang sayur mayur atau lauk pauk. Saya rasa program-program konkrit seperti itu akan lebih bermanfaat bagi rakyat sekaligus dapat meningkatkan kepercayaan  rakyat terhadap anggota DPR. Bahwa anggota DPR itu tidak hanya pandai bicara, namun juga pandai memberikan solusi-solusi nyata untuk masalah-masalah yang mereka hadapi,?  papar wakil rakyat yang dikenal rajin mengunjungi daerah pemilihannya ini sambil menerawang.

Suara Terbanyak

Pemikiran kedua yang ditawarkan anggota DPR yang ikut memprakarsai berdirinya Yayasan Bakti Indonesia yang bergerak di bidang Pengembangan Masyarakat dan Studi-studi terhadap masalah sosial dan keagamaan ini adalah, ke depan wakil rakyat yang duduk di DPR adalah orang-orang yang benar-benar diberikan mandat secara langsung oleh rakyat.

Itu artinya sistem pemilihan anggota DPR harus diubah dari sistem nomor urut menjadi suara terbanyak, sehingga anggota DPR akan lebih legitimate,? jelas wakil rakyat yang pernah menjadi aktivis Forum Ilmu Sosial Transformatif (FIST) di tahun 1984 ? 1986 ini dengan tegas.

Lebih jauh Arief yang di tahun 1981-1985 ini terjun langsung di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia sebagai anggota Relawan ini berharap partai politik harus lebih bijak dalam merekrut dan menentukan kader-kader yang akan diberikan amanat menjadi wakil rakyat.

Pemikiran ketiga yang disodorkan mantan Kepala Proyek Pengembangan Masyarakat Desa dengan menggunakan metode pendekatan PAR (Participatory Action Research) pada 16 Desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah ini untuk meningkatkan citra dewan dimasyarakat adalah anggota DPR harus  mampu meningkatkan kepedulian mereka terhadap konstituennya.

Anggota DPR harus bersikap reaktif. Begitu mendengar ada permasalahan di daerah pemilihannya, dia harus langsung terjun ke lapangan, menjadi fasilitator untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Anggota DPR itu kan dipilih dan diberikan amanat oleh rakyat. Jadi dia juga harus mempertanggungjawabkan amanat tersebut kepada rakyat yang telah memilih dia. Karena itu sistem pemilihan dengan mempergunakan mekanisme suara terbanyak sangat tepat untuk diberlakukan. Sebab sistem tersebut dapat meningkatkan rasa responsibility dari anggota DPR yang terpilih,? paparnya.

Besar di LSM

Menjadi politisi sebenarnya bukan merupakan pilihan hidup yang dicita-citakan Arief. Meski sejak mahasiswa pada akhir 1970-an, Arief kerap ikut dalam kegiatan demonstrasi, namun laki-laki yang dibesarkan dalam keluarga Islam yang santri ini justru bermimpi menjadi seorang filsuf.

Saya sangat kagum dengan pemikiran-pemikiran bijak yang digagas Aristoteles, Plato, Socrates, Descrates, Immanuel Kant, Ibnu?Araby, Harun Yahya. Mereka dengan pikiran yang luas mengemukakan pandangan mereka tentang berbagai hal dan peristiwa yang ada di muka bumi ini. Seperti Harun Yahya misalnya, secara ilmiah dan runtut dia mampu menjelaskan tentang bagaimana alam semesta terjadi sebagai hasil penciptaan dari pihak Allah dan satu-satunya pengetahuan yang benar tentang asal mula alam semesta ditemukan dalam firman Allah yang diturunkan kepada kita dengan mengupas berbagai pandangan dari para filsuf sebelum dia seperti Immanuel Kant,? ungkap anggota Dewan yang kini tengah melanjutkan pendidikan S3-nya di Fakultas Sosiologi Universitas Indonesia ini dengan pandangan mata berbinar.

Namun akhirnya tangan Tuhan jua yang menuntun putra dari H Mandan Rosyad ini untuk berkiprah di dunia Lembaga Swadaya Masyarakat yang kala itu dikenal dengan sebutan organisasi non pemerintah atau ornop usai menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Tarbuyah IAIN Suan Kalijaga, Yogyakarta pada tahun 1981.

Sebenarnya berkecimpung di dunia LSM juga merupakan kerja politik, tetapi politik partisipan, bukan politik praktis. Sebab di LSM kita bisa ikut terjun langsung berkiprah mengembangkan masyarakat lapis bawah. Itu kan juga merupakan kerja politik, ? kata Arief.

Tercatat, lebih dari 12 tahun, laki-laki kelahiran Jepara, Jawa Tengah, 11 November 1956 ini berkiprah di lembaga swadaya masyarakat. Pada 1980-1990, Arief aktif di Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan, Ekonomi, dan Sosial yang dikenal dengan nama LP3ES, lalu ikut aktif melaksanakan Program Pengendalian Hama Terpadu-FAO 1990-1992, dan di UNDP sebagai National Project Manager Strengthening NGO's for Social Welfare and Development 1992-1995.

Saya sangat enjoy bekerjasama dengan mereka. Seperti waktu saya menjadi konsultan untuk beberapa lembaga internasional waktu terlibat dalam Program Pengendalian Hama Terpadu di WHO bekerja sama dengan Bappenas, mereka sangat profesional, prakstis dan implementatif dalam menuntaskan permasalahan di masyarakat, ? cerita Arief tanpa bermaksud menyombongkan diri.

PPP dan Dunia Politik

Arief yang pernah dipercaya sebagai Project Officer Community Development Programme and Training untuk wilayah negara Pasifik Selatan, Melbourne, Autralia pada tahun 1987-1988 ini secara resmi mulai terjun ke dunia politik melalui Partai Persatuan Pembangunan. Arief yang kala itu menjadi mahasiswa program S2 di Fakultas Sosiologi Universitas Indonesia mulai bergeliat di dunia politik. Saat PPP di bawah  kepemimpinan Hamzah Haz pada tahun 1998-2003, Arief Mudatsir Mandan dipercaya menjadi Ketua Litbang PPP, hingga pada akhirnya di tahun 2003-2007, Arief dipercaya sebagai Ketua Harian DPP PPP.

Hubungan Arief dengan Hamzah Haz, politisi yang pernah diberi mandat oleh rakyat untuk menjadi Wakil Presiden di Masa pemerintahan Megawati ini tergolong dekat. Kedekatannya dengan Ketua Umum PPP Periode 1998-2003 itu bisa dilihat dari dua buku yang ditulisnya pada 2002; Hamzah Haz, Konsistensi dan Integritas Perjuangan di Bawah Panji-panji Ka'bah serta Indonesia Baru dan Kemandirian Nasional.

Selain menjabat sebagai Ketua Harian di DPP PPP, di parlemen, Arief dipercaya untuk duduk sebagai anggota Komisi Pertahanan dan Wakil Ketua Komisi Anggaran. Meski Arief menjadi  pimpinan di Panitia Anggaran yang dikenal sibuk berkutat dengan rapat-rapat yang berkepanjangan dan melelahkan, Arief ternyata tak pernah berhenti untuk memuaskan rasa hausnya akan ilmu pengetahuan. Di sela-sela kesibukannya sebagai politikus, ia kini tengah menyelesaikan program doktor di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia.

Kecintaannya pada ilmu pengetahuan, membuat Arief memandang segala hal dengan kaca mata yang jernih. Termasuk dalam memandang Partai Persatuan Pembangunan, tempat Arief memperjuangkan keyakinan politiknya. Bagi Arief, Partai yang memiliki semboyan ?BANGKIT BERSAMA UNTUK PERUBAHAN? tersebut merupakan tempat yang tepat untuk turut serta mewujudkan masyarakat yang adil dam makmur.

Namun Arief, sebagai kader muda yang berwawasan luas memiliki impian dan harapan yang jauh lebih tinggi lagi terhadap Partai Persatuan Pembangunan. Mimpi dan harapan tersebut dirangkaikan secara elok dan terstruktur dalam buku yang diluncurkannya menjelang Muktamar PPP beberapa waktu lalu. Dalam buku yang bertajuk ?Trilogi Pembaruan PPP? tersebut, Arief memaparkan berbagai hal yang terkait dengan pembaruan PPP. Mengapa PPP perlu direvitalisasi, kapan momentum yang tepat untuk melakukan revitalisasi yang tepat untuk melakukan revitalisasi PPP, dan harapannya akan terwujudnya Umat Islam Indonesia yang memiliki visi serta menguasai teknologi informasi .

Dalam buku Trilogi Pembaruan PPP yang terdiri dari ?Revitalisasi Idiologi (Mendefinisikan Kembali Peran Politik Kaum Santri)?, ?islam Indonesia (Inklusif, Modern, dan Bermartabat)? dan ?Berpihak Kepada Rakyat (Implementasi Amar Maruf Nahi Munkar)? secara khusus Arief membedah Partai tempat dia berkiprah di dunia politik dan memaparkan impian dan harapannya pada Partai tersebut secara lugas.

Selain itu PPP juga harus selalu antisipatif dan cepat tanggap terhadap masalah-masalah perekonomian dan persoalan-persoalan yang menyangkut masyarakat dan rakyat banyak, sehingga PPP akan benar-benar berfungsi sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat,? tegas Arief yang selalu mendasarkan setiap perjuangannya pada sembilan prinsip yaitu prinsip ibadah, istiqomah(konsisten:red), kebenaran, kejujuran, keadilan, musyawarah, persamaan, kebersamaan dan persatuan dan prinsip amar ma?ruf nahi munkar (menyeru dan mendorong melaksanakan segala perbuatan yang baik serta mencegah segala perbuatan yang tercela:red).

Lugas dan Cerdas

Berbagai gagasan dan pemikiran cemerlang meluncur dari suami Tina Rosdiana dan Bapak dari dua anak, Geo Asasi dan Rai Agasi ini. Pembawaannya yang santai ternyata tak mengurangi bobot pemikiran seorang Arief Mudatsir Mandan. Rasanya sangatlah wajar bila Arief dalam Muktamar PPP beberapa waktu lalu turut meramaikan bursa pemilihan Ketua Umum Partai berlambang Ka?bah itu.

Latar belakang Arief yang aktif sebagai Ketua Senat sewaktu mahasiswa dan kiprahnya dalam  berbagai organisasi keagamaan seperti Gerakan Pemuda Ansor, NU menempa Arief menjadi sosok yang istimewa di tengah begitu banyaknya politisi muda. Jauh dari kesan temperamental seperti kebanyakan politisi muda lainnya. Arief yang pernah aktif sebagai wartawan di Majalah PRISMA LP3ES pada tahun 1983-1986 ini dikenal sebagai sosok yang serius dan santai dalam memimpin rapat-rapat di Panitia Anggaran.

DPR harus membuat prioritas. Dalam menetapkan target-target pelaksanaan ketiga fungsinya, hendaknya DPR jangan terlalu ambisius.Termasuk dalam melaksanakan fungsi legislasi. Sebaiknya kita jalankan saja program yang ada dalam Prolegnas. Sebab membuat UU bukan suatu pekerjaan yang mudah. Sebab DPR dituntut untuk membuat UU yang komprehensif dan tahan lama. Jangan sedikit-sedikit diubah, ? katanya.

Kritik rakyat terhadap DPR yang memandang citra dan kinerja DPR semakin merosot pun ditanggapi Kepala Pusat Studi dan pengembangan Irigasi (PSPI) di tahun 1989 ? 1990 ini dengan bijak. ?Kritik tersebut harus kita jadikan sebagai bahan untuk berintrospeksi dan mengkritik diri kita sendiri. Kita harus mampu menyikapi kritik tersebut dengan serius dengan cara berupaya meningkatkan kinerja kita,? tegasnya.

Faktor lain yang menyebabkan turunnya citra Dewan di mata rakyat adalah anggota DPR kurang melakukan kegiatan-kegiatan nyata di lapangan guna mewujudkan tercapainya masyarakat yang sejahtera.

Karena itu sekarang merupakan saat yang tepat bagi DPR untuk merevitalisasi peran dan fungsinya bagi rakyat. Anggota DPR harus mampu untuk menjadi wakil rakyat dalam arti sebenarnya. Bahwa anggota DPR harus dekat dengan rakyatnya dengan arti yang sesungguhnya. Yaitu angggota DPR itu hadir dan terlibat dalam berbagai  persoalan yang ada di masyarakat. Jika itu dapat diwujudkan, saya yakin citra DPR dengan sendirinya akan meningkat seiring dengan bertambahnya empati masyarakat kepada DPR,?  tegas Arief.

Alangkah eloknya jika setiap wakil rakyat di negeri ini memiliki pemikiran dan mimpi yang sama dengan seorang Arief Mudatsir Mandan. Semoga saja, sebab Indonesia yang saat ini tak putus di rundung malang, akibat musibah demi musibah yang datang silih berganti membutuhkan pemimpin dan negarawan yang memiliki pemikiran-pemikiran yang cerdas, progresif dan praktis untuk mengentaskan sebagian besar rakyatnya yang berada di bawah garis kemiskinan. (ha/sw)