Profil

dr. Ribka Tjiptaning


PESAN 4 D IBUNYA DORONG JADI POLITIKUS YANG TEGAR

Pesan 4 D ibunya selalu terngiang di telinga Ribka Tjiptaning, sebelum menjadi seorang politikus ibunya mengharuskan dirinya harus siap untuk di bui, dibuang, diburu dan dibunuh. Karena konsekuensi logis melawan ketidakadilan menjadikan dirinya menjadi seorang perempuan yang dikenal sangat berani, tekun dan jujur dalam mengungkapkan kebenaran.

Pengakuan dan kebanggaannya sebagai seorang anak PKI kembali menyadarkan semua pihak bahwa masih banyak korban semena-mena Orde Baru terhadap keluarga PKI dan masyarakat yang dianggap antek mereka.  Selain itu, ketekunan dari seorang Ning, biasa dia dipanggil, membuahkan hasil dengan tercapainya gelar dokter yang sangat didambakannya. Perjuangan meraih gelar dokter tersebut sangat berat disertai banyaknya cemoohan dari saudara dan kerabat terdekatnya

Sementara, Kejujuran dirinya menyuarakan kebenaran pada setiap aktivitas politiknya juga memperoleh cobaan yang berat, mulai dari diciduk aparat, masuk penjara dan perusakan kliniknya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Ning. Namun berkat itu semua Tuhan menjadikan seorang Ribka pribadi yang hangat, berani, tekun, jujur dan pantang menyerah dalam menyuarakan kebenaran.

Hasil dari semua cobaan hidup ternyata berbuah manis dengan diangkatnya seorang dr. Ribka Tjiptaning menjadi Ketua Komisi IX DPR membidangi masalah Kesehatan.

Ia terlahir dari keluarga ningrat Jawa dan merupakan anak ke tiga dari lima orang saudara (sekandung), ayahnya seorang keturunan Kasunan Solo (Pakubowono) yang bernama Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro. Sedangkan Ibunya dari keturunan Kasultanan Kraton Yogyakarta bernama Bandoro Raden Ayu Lastri Suyati.  

Sewaktu kecil, Ribka yang dilahirkan di Solo, Jawa Tengah 1 Juni 1958, hidup dalam keadaan yang serba kecukupan karena ayahnya seorang konglomerat yang memiliki lima pabrik besar pada saat itu.

Meskipun hidup berkecukupan dan tinggal di rumah yang cukup besar, tetapi ayahnya mengajarkan bahwa rumah itu terbuka untuk semua orang. Ayahnya mengajarkan agar rumah tidak memiliki pagar yang tinggi.

Menurut Ning kalau ingin hidup selamat dan senang, rumah tidak boleh memiliki pagar tinggi atau pagar besi tetapi harus seperti piring. Maksudnya, dalam arti hidup harus sensitif terhadap lingkungan sekitar terutama pada penderitaan rakyat.

Ada satu hal yang tidak dilupakannya dari perbuatan ayah tercinta. Suatu kali ayah Tjiptaning mendapat kenang-kenangan berupa pulpen emas dari China. Pulpen emas yang sangat berharga pada saat itu justru dijual orang tuanya. Uang hasil dari penjualan pulpen tersebut kemudian dibelikan kain dan dibagikan kepada masyarakat sekampung.

Sikap peduli atas masyarakat sekitar yang ditunjukan orang tua Tjiptaning membuat dirinya hingga kini tetap concern membela kepentingan rakyat. Masa-masa bahagia Tjiptaning bersama keluarga tidak berlangsung lama. Tjiptaning yang masih belia dan duduk di bangku taman kanak-kanak sudah mahir memainkan drumband dan terpilih menjadi mayoret drumband yang diberi nama ?Tunas Merah? dan tampil untuk merayakan Hari Ulang Tahun PKI.

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 telah mengubah jalan hidup keluarga yang sangat dicintainya. Tjiptaning yang masih duduk di TK kelas Nol Besar harus menyaksikan awal-awal kejatuhan keluarganya, dimana Ayah yang dikaguminya tidak pernah lagi pulang ke rumah, sedangkan Ibu yang disayanginya dibawa oleh tentara.

Seketika itu juga kehidupan Tjiptaning yang dulunya bahagia bersama keluarga menjadi terpisah dari keluarga besarnya. ?Dalam sehari kehidupan yang saya alami berubah drastis,? kata Ribka Tjiptaning sambil menerawang mengingat masa lalunya.

Dalam kurun waktu pelariannya, Tjiptaning sering berpindah-pindah tempat. Ada satu peristiwa pada masa pelariannya yang sampai kini masih dikenang, yaitu saat bersama sang kakak bermalam di terminal bis cililitan.

Waktu itu kami hanya berbekal salak lima buah. Sampai sekarang kalau saya ulang tahun, kakak saya selalu memberikan lima buah salak,? kata Tjiptaning mengenang masa lalunya seraya menambahkan salak yang diberikan tersebut diharap mengingatkan Tjiptaning akan masa-masa sulit di waktu lampau.

Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara Tjiptaning lah yang paling beruntung karena masih sempat mengenyam pendidikan formal. Waktu duduk di bangku SMP, Tjiptaning tidak pernah membeli buku tulis dan pelajaran untuk keperluan pendidikannya karena biaya hidup yang tidak mencukupi.

Meski begitu semangat untuk tetap mengenyam pendidikan formal sangat besar. Untuk mengejar ketertinggalan pelajaran dari teman-teman sekelasnya, Ia lebih banyak menyalin pelajaran dengan menggunakan kertas bekas ketikan yang digunakan orang lain.

Saat ?berkelana?, Ia sempat tinggal di bekas kandang sapi milik Haji Aman yang tinggal disekitar daerah Kuningan Timur, Jakarta Selatan. Selama tinggal di bekas kandang sapi tersebut, Tjiptaning dalam kesehariannya mencoba mengumpulkan seng dan triplek bekas. Barang-barang bekas yang ia kumpulkan digunakan sebagai tembok untuk menutupi sekeliling kandang sapi yang menjadi ?rumahnya?.

Kandang sapi yang sempat menjadi tempat tinggal Tjiptaning punya kenangan tersendiri baginya yang sampai saat ini dan tidak mungkin dapat dilupakannya. ?Waktu itu saya dikasih ikan asin sama Pak Haji. Sebelum saya makan, ikan itu saya jemur terlebih dahulu. Tapi ikan yang waktu itu jadi makanan istimewa saya di bawa kucing. Saya lihat kucing yang masih makan ikan saya, terus saya kejar dan timpuk sampai kucing itu mati,? katanya.

Perjuangan Ribka untuk bertahan hidup sangat berat mulai dari menjadi pengamen di wilayah Senen, bahkan menjadi Pencopet sempat dilaluinya. ?Pencopet itu punya perjanjian kalau dompet itu jangan ditaruh disebelah kanan tetapi di sebelah kiri, karena kalau ditaruh sebelah kiri mereka tidak berani mencopet, karena yang tahu itu hanya keluarga copet atau dia sendiri seorang pencopet,?Kata Ning sambil tergelak mengenang masa lalunya.

Ning menuturkan kita semua harus belajar nilai-nilai positif dari para preman di jalan raya, mereka sangat tinggi loyalitas, kejujuran dan komitmennya terhadap teman mereka. ?Ini sangat berbeda dengan teman-teman di sini (DPR) dikit-dikit merapat (sesuai kepentingannya),?tegasnya        

Kalau mereka (preman), kata Ning, mereka tidak berani mengambil jatah hasil copetan bersama karena percaya adanya tulah (bencana) itu artinya belajar Jujur. ?Karena itu kalau dasarnya preman masuk politik maka hasilnya akan bagus, menjadi konsisten, komitmen dengan kawan dan organisasi,?katanya.

Murid Pintar

Meskipun tempat tinggal Ribka Tjiptaning yang sering berpindah bahkan menetap di tempat yang tidak layak seperti bekas kandang sapi, namun keinginan dan keuletannya untuk terus maju tetap digenggamnya. Keuletan dan tekad untuk maju telah membawa Tjiptaning pada prestasi belajar yang mengagumkan.

Sewaktu mengenyam jenjang pendidikan, Ia merupakan murid yang termasuk pintar dan selalu mendapat juara kelas. Prestasi belajar Tjiptaning telah menarik perhatian guru-guru di sekolahnya. Rasa simpatik yang ditunjukan guru membuat Tjiptaning mendapat dispensasi uang sekolah.

Ia lulus SMP pada tahun 1975 kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya ke SMAN 14 Cililitan, Jakarta Timur. Saat Tjiptaning mengenyam pendidikan Menengah Atas, yang bersedia menjadi wali murid adalah orang yang menolongnya saat bermalam di terminal Cililitan yang juga sahabat Ayahnya yaitu Om Tjip.  

Beban berat yang dipikul Tjiptaning membuatnya mencoba mencari penghasilan tambahan untuk tetap bisa bertahan hidup dan meneruskan pendidikan. Sewaktu duduk di bangku kelas I SMA, Tjiptaning sempat menjalani profesi sebagai pengamen jalanan di terminal bis dalam kota cililitan.

?Selain menjalani profesi sebagai pengamen jalanan, saya juga pernah menjalani pekerjaan sebagai kondektur bis MDT jurusan Blok-M ? Cililitan,? ujarnya.

Desakan untuk tetap bertahan hidup dan terus meneruskan sekolah membuat Tjiptaning sempat terjun ke ?dunia hitam?. Aktifitas yang dijalaninya tergolong rawan mengingat bila sampai ia tertangkap maka bui ataupun bogem mentah dari masyarakat akan menimpanya.

Seorang siswa berprestasi seperti Tjiptaning terpaksa menjadi pencopet untuk membayar uang sekolahnya. Menurutnya sekolah merupakan salah satu yang paling utama dalam hidupnya. ?Saya mencopet karena terpaksa harus bayar uang sekolah,? katanya.

Tekad kerasnya untuk terus melanjutkan jenjang pendidikan sempat diutarakan Tjiptaning kepada Ibunda tercinta. Tjiptaning ingin menjadi seorang dokter dan oleh sebab itu ia sangat berharap dapat meneruskan pendidikan di fakultas kedokteran.  

Cita-citanya untuk menjadi dokter ditanggapi dengan nada pesimis oleh Ibu tercinta. Rasa pesimis yang ditunjukan tersebut karena keadaan keluarga yang tidak mungkin lagi membiayainya untuk kuliah.

Keinginan Tjiptaning untuk kuliah dapat terwujud ketika Tjiptaning bekerja sebagai tukang pel di Gereja Bethel. Saat bekerja di Gereja tersebut, Tjiptaning bertemu dengan Letnan AURI Soewito. Melihat ketekunan Tjiptaning dalam bekerja dan tekad kerasnya untuk melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran membuat Soewito menawarkannya untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke universitas.

Pada tahun 1978 Tjiptaning berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan lulus kuliah pada tahun 1990. Karena keterlibatannya yang aktif di organisasi pemuda membuat kuliah Tjiptaning tidak selesai tepat pada waktunya.

Setahun setelah selesai kuliah, tepatnya tahun 1991, Tjiptaning berhasil mewujudkan impiannya untuk bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Tugu Ibu. Honor yang diterima Tjiptaning pada awal tugasnya sebagai dokter hanya Rp 7.500 per hari tanpa mendapat uang makan dan transport.

Aktivitas klinik Waluya

Di tahun 1992 tepatnya tanggal 26 Maret, Ibu dari enam anak ini berhasil membuka klinik kesehatan yang diberi nama ?Klinik Waluya Sejati Abadi? di Ciledug yang modal awalnya dipinjam dari seorang teman tanpa bunga pinjaman. Dalam waktu tidak berapa lama kliniknya berkembang hingga memiliki cabang di daerah Petukangan Jakarta Selatan. Dari hasil mengelola klinik dengan baik akhirnya Tjiptaning dapat membeli sebuah rumah dengan cara kredit.

Dari kilnik yang dikelolanya, Tjiptaning akhirnya mulai berkenalan dengan para aktivis muda di Jakarta yang kerap kali menentang pemerintahan orde baru. Perkenalan tersebut diawali ketika kliniknya kedatangan tiga orang aktivis yang bermaksud untuk berobat. Perjuangan para aktivis muda menurut Tjiptaning paling tidak membuka mata masyarakat Indonesia untuk bisa tampil dalam pentas politik tanpa merasa takut.

Banyaknya para aktivis yang berobat ke kliniknya membuat kliniknya menjadi sorotan dari aparat keamanan. Kliniknya selalu diawasi aparat keamanan hingga saat ini terutama menjelang peringatan hari buruh sedunia. Terlebih ketika para aktivis muda tersebut banyak yang terluka ketika berdemonstrasi di Kedutaan Belanda, ketika itu para aktivis yang terluka dibawa ke kliniknya sampai ada satu aktivis yang ditangkap di klinik miliknya ketika sedang berobat. Mulai saat itulah klinik yang dibangunnya dengan dana pinjaman tersebut menjadi sorotan aparat.

Akibat tingginya kegiatan aktivis di klinik Ning, aparat menutup klinik tersebut dengan dugaan akan adanya resolusi di Klinik tersebut. ?Mereka menganggap di Klinikku akan ada resolusi dan anak-anak PRD dirawat di Ciledug juga anak-anak anti Menwa kalau berantem mereka dibawa ke Klinikku,?terangnya.

Ning mengatakan, kliniknya juga pernah menyembunyikan buronan Timtim Xanana dkk saat itu. Bahkan saat Xanana dan kawan-kawan di Penjara dia tidak diperbolehkan mendapat obat-obatan saat sakit, akhirnya Ribka memberanikan diri memberikan obat untuknya.  ?Saat kemerdekaan Timtim saya mendapat undangan VIP, bahkan Panglima tentaranya Xanana saat itu, sempat kita bela-bela juga,?ungkapnya

Klinik Waluya Sejati Abadi milik Ribka Tjiptaning pernah dikepung tentara 3 truk dan dimasuki oleh tentara. Hal tersebut membuat para dokter dan suster ketakutan. ?Mereka takut dan lari semua menghadapi tentara,?katanya.

Dengan memberanikan dirinya, Ning menemui para aparat, namun seketika anaknya Ning, yang ke 4, masih kelas 1 Sekolah Dasar bertanya kepada aparat. ?om mau menangkap mama saya yah,?kata anak Ning kemudian, tentara tersebut mengatakan, om temannya mama,katanya.

Kembali anaknya Ning mengatakan, mama tidak punya teman yang bersepatu (boot PDL). Seketika ibunya Ribka Tjiptaning menangis karena peristiwa tersebut hampir sama dengan kejadian Ribka kecil saat orangtuanya diperiksa oleh aparat.

Kejadian tersebut sangat berbekas di hati anak-anaknya Ribka, hal tersebut menyadarkan mereka semua seorang Ribka Tjiptaning adalah milik rakyat bukan hanya milik keluarga.

Terjun Ke Dunia Politik

Masa lalunya yang hitam dan didikan yang diberikan sang Ayah untuk selalu berpihak kepada rakyat telah menarik minat Tjiptaning merealisasikan tekadnya dalam membela kaum lemah. Tekad tersebut dilakoninya dengan terjun ke dunia politik.

Tahun 1983 Tjiptaning masuk ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI).  Sebelum mengawali karier politiknya bersama partai politik, Tjiptaning terlebih dahulu bergabung dengan organisasi massa (Ormas) Pemuda Demokrat. Setelah lima tahun bergabung dengan PDI, pada tahun 1988 Ribka Tjiptaning menduduki jabatan sebagai Ketua Ranting PDI Kelurahan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Semangat dan tekad Ning dalam berpolitik sangat kuat. Hal tersebut dibuktikannya dengan tingginya keterlibatan dirinya apabila terdapat pemilihan-pemilihan di partai. ?Meskipun tidak terpilih menjadi ketua setiap ada pemilihan pimpinan organisasi saya selalu ikut,?kenangnya.

Hasil kerja keras Ning membuahkan hasil, saat Megawati Soekarnoputri terpilih menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI pada tahun 1993, Ribka Tjiptaning menjadi Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Kodya Tangerang.

Perjalanan yang penuh liku dan perjuangan seakan belum juga berhenti menerpa Tjiptaning. Tahun 1996 sewaktu PDI mengalami dualisme kepemimpinan, Ribka Tjiptaning menjadi salah seorang yang memimpin aksi demonstrasi menentang kepemimpinan Suryadi yang dinilai merupakan boneka pemerintah orde baru.

Dualisme kepemimpinan di PDI yang kemudian meletus menjadi tragedi berdarah 27 Juli 1996 telah membuat Tjiptaning menjadi salah seorang yang dicari aparat keamanan. Peristiwa yang juga tidak akan pernah dilupakannya akibat tragedi 27 Juli adalah saat diambil paksa aparat pada tanggal 14 Agustus 1996. ?Pada tanggal 17 Agustus subuh hari, aku dilepaskan,? kata Tjiptaning.

Seharusnya, kata Ning, itukan sudah penahanan bukan lagi interogasi saja. Bahkan Munir saat itu, membuat surat tegas teguran kepada Pangdam Silliwangi dan Pangdam Jaya. ?Munir juga membuat dan menulis spanduk di Klinik Waluya Sejati Abadi, yang menyatakan tentara tidak boleh masuk ke klinik karena klinik rakyat namun mereka tetap masuk saja,?katanya   

Perjalanan Tjiptaning untuk duduk di kursi Parlemen sangatlah berat. Meskipun rintangan yang harus dihadapinya sangat berat bahkan dirinya menyadari tidak akan lolos, Tjiptaning tetap datang dan mengikuti penelitian khusus (Litsus) di Rindam, Condet. ?Saya tetap datang dan ikut walaupun saya tahu tidak akan lolos,? jelas Tjiptaning.

Dalam perjalanannya, Ia harus sering berhadapan dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Polri, Badan Intelejen ABRI (BIA) kerena aktivitasnya. Tjiptaning dikenal dekat sekali dengan para aktivis muda yang selalu eksis dalam melakukan perlawanan terhadap rezim militer orde baru.

Sebelum terjun ke dunia Politik, ia menyatakan semua konsekuensi politik harus siap ditanggung seperti di bui (dipenjara), dibuang, diburu dan dibunuh. ?Biasanya orang akan menjadi pengkhianat saat diburu (dikejar-kejar) dan dibuang seperti dibuang dari keluarga besar dan anak-anak marah dengan aktivitas politik kita, sedangkan kalau dibuih itu sudah divonis,?tuturnya.

Ia menambahkan semuanya sudah dirasakan seperti dibui, dibuang, diburu. ?Semua itu sudah saya rasakan tinggal D terakhir saja belum yaitu dibunuh,?kata Ning sambil tergelak mengingat kisahnya yang lalu

Ribka Tjiptaning juga sangat akrab dan dekat dengan aktivis HAM Almarhum Munir, bahkan Munir menjadi pengacaranya Ribka saat dirinya mengalami tekanan dari para aparat. Saat itu, kata Ribka, seorang Pati tentara statement dikoran yang menekan dirinya supaya diperiksa, kemudian Munir menegaskan tanpa surat panggilan dari kepolisian dan kejaksaan tidak berhak aparat mengambil Ribka Tjiptaning.

Akibat aktivitas politiknya yang tinggi, Ning sering merasakan di interogasi dan bahkan ditahan oleh aparat. Hal tersebut sempat membuat Ning menjadi sedikit traumatis dan takut mengalami penculikan oleh oknum aparat. ?Saya sempat kaget dan sering memakai sepatu kalau sedang tidur,?katanya sambil tergelak mengenai kisahnya yang lalu.

Masuk Parlemen

Penantian Ribka Tjiptaning untuk dapat terjun ke dunia parlemen semakin mendekati kenyataan ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden Indonesia. Kebijakan yang diambil Gus Dur untuk menghentikan litsus telah memberi titik terang bagi Tjiptaning untuk lebih nyata lagi berkarya di dunia politik.

Saat Pemilu 2004 Tjiptaning diminta Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) untuk menjadi calon anggota legislatif (Caleg) nomor urut dua dari daerah pemilihan Jawa Barat III, tepatnya wilayah Sukabumi dan Cianjur. Perjuangannya untuk duduk di Parlemen tidak mudah. Menurut Tjiptaning daerah pemilihannya bukan basis pendukung partainya.

Keinginan yang kuat dan perjuangannya dalam membela masyarakat lemah membuat Tjiptaning jadi lebih mudah dikenal masyarakat. Dalam kampanyenya, Tjiptaning memasang foto waktu ia memeriksa warga masyarakat.

Orang-orang melihat foto itu, dan mereka bilang ini bu dokter,? katanya seraya tertawa riang mengingat hal tersebut.

Sikap Tjiptaning yang keras belum bisa dilepasnya meskipun saat ini telah menjadi Ketua Komisi IX DPR. Salah satu sikapnya yang keras adalah tidak hadir pada saat pelantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ia menyatakan tidak takut di tegur Partai ataupun Fraksinya atas sikap tersebut.

Saya tidak tahu kalau Bu Mega juga tidak datang,? kata Tjiptaning yang sangat dekat dengan para buruh.      

Meskipun telah duduk di Parlemen, Tjiptaning tetap menjaga idealismenya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. ?Politik atau parpol itu bukan tujuan kepentingan tetapi alat perjuangan rakyat,?katanya. (ol/si/bs)