Profil

DR. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc


KOMITMEN SEORANG PENDIDIK DARI SENAYAN

Selama masyarakat belum berpendidikan, maka pencapaian masyarakat madani itu cuma sekedar mimpi,? kata Dr Irwan Prayitno, MSc, Ketua Komisi X DPR yang membidangi masalah pendidikan, dalam satu kesempatan.
Alumnus S2 dan S3 dari Universiti Putra Malaysia itu, mempunyai obsesi besar bahwa pendidikan merupakan ujung tombak bagi bangsa ini dalam mengejar ketertinggalannya dari bangsa-bangsa lain. Masyarakat yang terdidik merupakan prasyarat bagi tercapainya masyarakat madani yang beradab serta tegaknya norma-norma.
Karenanya sebagai salah seorang wakil rakyat, Irwan sangat berharap perjuangannya di lembaga legislatif bisa mempercepat pencapaian masyarakat madani dan berperadaban itu melalui terbitnya kebijakan-kebijakan secara nasional yang mendukung ke arah itu.

Memang jika berbicara tentang Irwan Prayitno, maka artinya pula tidak lepas dari latar belakang profesi dan cita-citanya sebagai seorang guru sekaligus pendakwah. Ia pernah menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi, seperti Dosen Psikologi Industri, AKABAH Bukit Tinggi (1991-1994), Dosen Luar Biasa (Kuliah Psikologi Industri) FMIPA, Universitas Andalas, Padang (1991-1995), dan juga Dosen Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Kendati berdarah Minang, Irwan sangat paham dengan filosofi guru dalam pepatah Jawa bahwa guru adalah sosok yang di-gugu omongane lan ditiru kelakoane (dipercaya ucapannya dan dicontoh tindakannya). Baginya, menyandang profesi guru berarti harus menjaga citra, wibawa, keteladanan, integritas, dan kredibilitasnya. Ia tidak hanya mengajar di depan kelas, tapi juga mendidik, membimbing, menuntun, dan membentuk karakter moral yang baik bagi siswa-siswanya.
Kiprahnya di DPR sangat mewarnai hadirnya guru-guru di Indonesia dengan kualitas yang bisa diandalkan dan mampu melahirkan nilai-nilai unggul dalam praktik dunia pendidikan.

Tidak hanya itu, ia selalu mengangankan agar terlahir sosok-sosok manusia yang memiliki karakter beriman, amanah, profesional, antusias dan bermotivasi tinggi, bertanggung jawab, kreatif, disiplin, peduli, pembelajar sepanjang hayat, visioner dan berwawasan, menjadi teladan, memotivasi (motivating), mengilhami (inspiring), memberdayakan (empowering), membudayakan (culture-forming), produktif (efektif dan efisien), responsif dan aspiratif, antisipatif dan inovatif, demokratis, berkeadilan, dan inklusif.

Namun antara harapan dengan kenyataan, seringkali sulit bertemu dan hal itu juga membuat ayah 10 orang anak itu terpaksa berkompromi dengan realitas. Semisal ketika pemerintah berencana melaksanakan Ujian Nasional (UN) yang kemudian memicu pro dan kontra. ?Pakar-pakar pendidikan itu yang sama-sama profesor pendidikan, ada yang mendukung UN dan ada yang menolak UN dan keduanya punya rujukan yang mungkin sama-sama benar. Tapi tidak bisa ketemu,? kata mantan calon Gubernur Sumatra Barat ini.
Demi mengatasi kebuntuan, sebagai pimpinan Komisi X yang membidangi masalah itu, Irwan dihadapkan pada posisi harus memilih dan akhirnya diputuskan dengan melihat kecenderungan mana yang paling mungkin. Dan yang paling memungkinkan adalah UN dilaksanakan.Menurutnya, UN itu lebih kepada perbedaan pemahaman dan cara berpikir yang tidak mungkin untuk bisa disamakan
Itulah politik. Jadi tidak bisa mana yang benar dan mana yang salah karena realitas politiknya itu beragam. Tidak mungkin di kanan atau kiri terus, kita musti maju. Dan itu harus, karena kita menginginkan penyelesaian,? ujar Irwan bijak. Sebelumnya, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS), partai yang membawa Irwan ke Senayan, termasuk salah satu fraksi yang menolak UN.
Membela aspirasi dengan menolak UN misalnya, perlu rasionalitas berdasarkan beberapa logika. Misalnya, menolak karena ada penyimpangan, menolak karena ada sesuatu.

?Nah, Ketika penolakan itu disampaikan kepada pemerintah dan pemerintah berjanji akan memperbaiki dan mengatasi dengan kebijakan, pengawasan ketat dan sebagainya, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada pemerintah melakukan perbaikan. Kita tidak bisa terus menolak, tidak mungkin. Maka kita akan pertimbangkan dengan persyaratan,?kata Irwan mengemukakan alasan kenapa F-PKS akhirnya menerima UN
Saat awal duduk di kursi DPR RI, bagi pria kelahiran 20 Desember 1963 itu juga cukup mengagetkan. Pasalnya, fraksi reformasi (Gabungan Partai Amanat Nasional/PAN dan PK) kemudian mengamanatkannya menjadi Ketua Komisi VIII (bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, Lingkungan Hidup, LIPI, danBATAN). Walaupun sejak semula ia tidak begitu paham mengenai politik praktis, kecuali tentang dunia dakwah di kampus-kampus, Irwan akhirnya mampu menjalankan amanat itu dengan baik hingga selesai masa jabatannya di tahun 2004.

Pada pemilu 2004, Irwan kembali mencalonkan diri dan konstituennya masih mempercayainya dan mengamanatkan masa jabatan kedua sebagai anggota DPR RI periode 2004-2009.
Sepanjang kiprahnya di Senayan, Irwan merasa puas dan senang apabila bisa memenuhi asirasi masyarakat yang diwakilinya. Namun ketika dia mendapat amanat rakyat dan tidak mampu memenuhinya, maka hal tersebut dirasakan sangat mengganggunya.
?Kalau kita sudah berjanji tapi tidak terpenuhi, itu bisa membuat kita ngumpet dan jadi beban yang berat,? ujar mantan aktifis HMI ini.
Sebagai anggota legislatif, ia memang tidak mempunyai kuasa menjalankan program-program pemerintahan yang langsung menyentuh nasib rakyat. Hal maksimal yang bisa dilakukan hanyalah menyampaikan aspirasi masyarakat ke eksekutif dan merekalah yang menjalankannya. Jika eksekutif melaksanakan amanat legislatif sesuai dengan yang diharapkan konstituen, maka kerja wakil rakyat itu baru bisa dibilang selesai.

Kendati tidak selalu nyaman, berbagai tugas dan kewajibannya selaku politisi itu dirasakan Irwan lebih sebagai satu kenikmatan tersendiri. ?Politisi memang tidak selalu nyaman. Kita acapkali berbeda pendapat dengan berbagai pihak, kita mesti berdebat, kita mesti melakukan sesuatu pembelaan, rasionalisasi, hubungan ke masyarakat yang mendalam untuk memahami berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat. Nah, itu semua merupakan perjuangan,? kata pria berkaca mata itu
Bagi Irwan, tantangan itu ada kenikmatan tersendiri. Sebagai politisi, selama 24 jam non stop harus kuat mentalnya, mesti teguh dan juga handal. Termasuk ketika menyerap aspirasi masyarakat dan memperjuangkannya dan kemudian menyampaikan kembali pesan kepada masyarakat. Padahal menghadapi masyarakat juga tidak mudah karena bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat merupakan suatu dinamika tersendiri.

Pria yang dikenal amat santun ini memang tidak pernah memilah-milah aspirasi mana yang harus diperjuangkan. ?Aspirasi dari dari kelompok mana pun, partai mana pun, itu sesuatu yang bagus dan sesuatu yang rasional dan harus diperjuangkan,? tegas politisi yang rajin mengunjungi konstituennya paling tidak sebulan sekali selama 3 hari.
Menyalurkan aspirasi itu merupakan tanggung jawab seorang politisi. Di situlah penilaian masyarakat tentang bagus atau tidak seseorang politisi. Kalau dia tidak bisa menyalutkan aspirasi, untuk apa menjadi wakil rakyat. (tim)