Profil
Effendi Choirie
GUS CHOI, MATA PISAU NU DI DPR
Sosoknya yang aktif dan energik, baik dalam keseharian maupun pekerjaan membuat Effendy Choirie mudah bergaul dan gampang dikenal. Tak heran jika di daerah pemilihannya, Jawa Timur IX yang meliputi Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro, politisi asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dirinya sangat familiar.
Sebagai wakil rakyat, Gus Choi, Effendy Choirie biasa disapa, selalu konsisten dalam memperjuangkan nasib rakyat. Dalam setiap Rapat Kerja (Raker), Rapat Dengar Pendapat (RDP), ia juga dikenal sangat vocal dan kritis dalam menyampaikan aspirasi konstituen maupun rakyat pada umumnya.
Anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa yang juga pernah menjadi Wakil Ketua Komisi I DPR RI periode 1999-2004 dan 2004-2009 (satu tahun masa persidangan) ini tergolong aktif merespon isu-isu publik yang berhubungan dengan bidang tugasnya, yakni pertahanan, keamanan, politik luar negeri serta informasi dan komunikasi.
Kelihaian dan ketajamannya dalam menyikapi suatu masalah lainnya dapat terlihat saat pria yang baru saja memperoleh gelar doctor dari Universitas Malaya Kuala Lumpur ini membuat Undang-undang tandingan Rancangan Undang-undang (RUU) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pernah bermanuver memimpin walk out fraksi Kebangkitan Bangsa di rapat paripurna DPR saat mendukung Gus Dur.
Sikap kritis dan vocal Gus Choi kembali ditunjukannya ketika merespon kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Ia menjadi salah satu pengusul Hak Angket Kenaikan Bahan Bakar Minyak tahun 2008. Gus Choi secara langsung menyerahkan usulan tersebut kepada Ketua DPR RI Agung Laksono.
Lahir di sebuah Desa Bulangan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang kental dengan nuansa NU, Effendy Choirie adalah orang yang tahu posisi bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa tanpa kiayi dan Nahdlathul Ulama (NU). Tak ayal bila dalam berpolitik, salah satu yang dipahaminya adalah politik memperjuangkan visi dan misi NU.
Ketika berbincang dengan Parlementaria, Gus Choi mengungkapkan bahwa rasanya beban jika harus menceritakan sejarah hidup sendiri, terlebih jika sejarah hidupnya tidak ada yang istimewa.
Sejarah hidup saya tidak istimewa dan bahkan boleh dibilang kelewat sederhana,? ujarnya.
Masa kecil dan remaja, dipenuhi penglihatan atas tokoh-tokoh agama dan politik. Dalam beberapa hal juga terlibat dengan aktifitas-aktifitas yang disuarakan mereka di daerah, mulai dari kampung kelahiran hingga mondhok di Pesantren Langitan.
Gus Choi mengaku jika proses pertumbuhan politiknya dimulai secara lebih serius saat menjadi komisaris Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kala itu, dirinya ditempa menjadi pemantau pemilu, menjadi saksi, dan menjadi organizer partai yang harus memastikan PPP memperoleh suara yang signifikan dan tidak dicurangi oleh partai lain.
Dari proses sosialisasi keluarga dan pendidikan masa kecil yang sangat kental ke-NU-annya, ia merasa harus terlibat dalam proses-proses politik yang dilakukan oleh tokoh-tokoh NU.
Dalam pikiran saya waktu itu, NU adalah sesuatu yang mengantarkan kita ke surga. Ikut NU maka jaminannya tidak lain kecuali surga,? ujarnya.
Ditengah perjalanannya mengembara di Jakarta, Gus Choi tidak pernah menyerah dalam mempertahankan hidup dan membiayai kuliahnya. Dalam perjalanan hidupnya sebelum duduk menjadi wakil rakyat, ia pernah menjadi pelayan warung di terminal pulo gadung kemudian meningkat hingga mampu membeli gerobak dari jerih payahnya. Pengalaman yang cukup pahitpun pernah ia alami ketika ditipu teman. Namun hal itu dapat dilaluinya.
Bergelut di bidang jurnalistikpun pernah ia jalani. Menjadi wartawan dengan harapan unsur-unsur yang terkandung dalam cita-cita menjadi muballigh atau da?i kondang serta jadi guru negeri bisa terangkum. Melalui media, ia dapat berdakwah, amar ma?ruf nahi mungkar, mendidik, menyampaikan kabar atau informasi melalui tulisan.
Didalam benak pria yang dikenal murah senyum ini, terbetik dalam pikirannya bahwa menjadi seorang wartawan tidak hanya sekedar mencari uang guna menyambung hidup, tetapi ada perasaan mewakili NU di dalam dunia jurnalis.
Karier Gus Choi di bidang jurnalistik diawali saat ia menjadi wartawan di Harian Jayakarta. Kala itu ia masih menjadi wartawan honorer. Melalui jurnalistik, dirinya mulai berhubungan dan mengenal secara dekat tokoh-tokoh politik nasional. Setelah manajemen Jayakarta diambil alih Koran Sore Suara Pembaruan, Gus Choi pindah ke Harian Surya Surabaya pada tahun 1989. Bersamaan dengan itu ia aktif sebagai ketua umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DKI Jakarta.
Terjun Ke Panggung Politik
Karier politik Gus Choi mulai bersinar seiring bergulirnya era reformasi. Era dimana partai politik tidak dibatasi. Saat itu, sejumlah tokoh NU mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dimana ia terlibat didalamnya. Dalam keseluruhan pergumulan awal PKB, Gus Choi turut meniti bersama Matori Abdul Djalil dan kawan-kawan lainnya.
Bermodalkan aktif dibeberapa organisasi, membuat ia meneguhkan hati memasuki kancah dunia perpolitikan yang terbilang keras dan membutuhkan ketegaran. ?Saya pun benar-benar menjadi politisi, terlibat dalam kepengurusan PKB di pusat dan akhirnya masuk menjadi anggota DPR/MPR RI,? katanya.
Ketika reformasi 1998 bergulir, era keterbukaan dan demokrasi dapat dinikmati masyarakat, Gus Choi dengan mulus memasuki kancah perpolitikan yang kemudian mengantarnya menjadi anggota legislatif. Sebagai anggota Dewan, ia menilai hal ini merupakan proses aktifitas dalam lingkungan NU. Kemudian institusi dari NU juga membutuhkan kader-kader sebagai basis utama rekruitmen.
?Pilihan saya tetap PKB, walaupun ditawarin oleh partai lain,? tegasnya. Kemantapan hatinya memilih NU, disebabkan dirinya dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga NU.
Ketertarikannya pada dunia politik dan militer dimulai semenjak menjadi wartawan Harian Surya. Hal ini membuat suami dari Noor Akmala Dewi dan ayah dari Noor Izzah Safira dan Ahmad Nasher Alavy ini dipercaya mewakili partainya di Komisi I DPR yang membidangi pertahanan, luar negeri, dan komunikasi.
Momentum
Sebagai sosok yang aktif, diwaktu luangnya Effendi lebih sering menghabiskan waktu kosongnya dengan bermain bersama kedua buah hatinya. Namun jika kedua anaknya sibuk dengan kegiatan sekolah, maka ia memilih berolahraga sepakbola/futsal, ngobrol, atau membaca buku.
Untuk membagi waktunya, ia mengakui tidak ada waktu khusus dan lebih fleksibel saja dalam melakukan kegiatannya.
Selama menjabat anggota DPR, Gus Choi mengakui ada beberapa momen yang hingga saat ini masih melekat dibenaknya. Yang pertama adalah ketika dirinya bermanuver dalam rapat paripurna untuk membela Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
?Ketika itu saya berdebat dan saya bukan pimpinan fraksi namun saya bisa mengajak seluruh fraksi PKB untuk walk out,? kenangnya menggebu-gebu. Kemudian keesokkan harinya, seluruh media massa memberitakannya di halaman pertama.
Kebanggaan berikutnya adalah ketika dirinya bisa mereformasi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Menurutnya, saat itu hanya satu-satunya fraksi yang dapat membuat undang-undang tandingan dari rancangan undang-undang pemerintah tentang TNI.
Bukan sekedar DIM (daftar invetarisir masalah) tetapi Undang-undang,? tegasnya.
Capaian fenomenal seperti yang terjadi tahun 2001, ungkap Gus Choi hanya ada satu dan hingga saat ini belum pernah adalagi fraksi yang bisa membuat undang-undang tandingan. Begitu juga dengan pembuatan UU yang serius dengan paket tandingan UU TNI.
Kesan lain yang sangat melekat dihatinya adalah ketika pembahasan UU Penyiaran dimana dirinya selama dua tahun (2005-2006) di black list oleh seluruh media massa untuk tidak diwawancarai. Karena UU penyiaran dianggap telah merugikan kepentingan swasta. (da)








