Profil
Nizar Dahlan
KIPRAH SEORANG KADER MASYUMI
Keberadaan di parlemen disadarinya sebagai satu amanah yang dibebankan rakyat kepadanya melalui Partai Bulan Bintang (PBB). Karena DPR itu berskala nasional, maka beban moral seorang Nizar Dahlan tidak hanya terbatas pada konstituen yang diwakilinya saja, Sumatra Barat II, melainkan juga kepada segenap rakyat Indonesia harus diperjuangkan nasibnya.
Jiwa politisi memang sudah mengalir dalam tubuh Nizar Dahlan. Sejak kecil, cucu dari Musa Datuk Sardi, seorang tokoh Muhammadiyah dan juga tokoh Masyumi ini memang sudah sering diajak sang kakek untuk mengikuti rapat-rapat partai Masyumi.
Sang kakek, Musa Datuk Sardi, kala itu merupakan seorang pedagang besar di Bengkulu. Bahkan saat proklamator RI Bung Karno diasingkan Belanda ke Bengkulu, Musa Datuk ikut berperan menjodohkan Bung Karno dengan Fatmawati.
Dari pihak ibu, Nizar juga memiliki seorang kakek yang juga tokoh Persis, yakni KH. Ihsa Anshari. Persis adalah sebuah organisasi Islam yang memiliki jumlah massa cukup besar dan disegani kala itu.
Dalam usia yang sangat belia, yakni 4 tahun, Nizar kecil sudah sering mendengarkan kisah-kisah kepahlawanan tokoh-tokoh Masyumi yang diceritakan sang kakek. Karenanya pula mindset tentang Bulan Bintang (simbol organisasi Masyumi) telah tertanam sedemikian dalamnya di benak Nizar Dahlan.
Pada waktu pemilu pertama tahun 1955, saat orang sibuk-sibuknya dengan partai politik, saya sudah membawa-bawa bendera partai Masyumi,? ujar Nizar mengenang massa kecilnya.
Berbagai peristiwa dan pengenalan secara dini dunia politik itu terekam secara baik dalam pikiran seorang Nizar Dahlan. Karenanya sangat wajar pula apabila Nizar Dahlan merasa terpangggil terjun di arena politik, karena keluarga besarnya adalah para aktivis Masyumi. ?Saya ingin melanjutkan perjuangan orang-orang tua yang sangat saya kagumi, terutama K.H. Ihsa Anshari, tokoh Masyumi yang masih keluarga dekat saya,? Nizar menuturkan..
Darah pejuang dan aktivis yang kental mengalir dalam tubuhnya semakin diperkuat lagi dengan hadirnya seorang istri, Noorjannah Shomad, yang juga dari kalangan aktivis perjuangan. Sang istri merupakan salah seorang cucu dari KH. Nur Ali, seorang pahlawan nasional dari Bekasi, yang dikemudian hari dikenal dengan nama Singa Betawi.
Pernah baca puisi Antara Karawang-Bekasi karya Chairil Anwar? Nah munculnya sajak itu karena diilhami oleh perjuangan KH Nur Ali. Jadi komplit sudah kalau dilihat dari sisi pejuangnya,? kata pria kelahiran Bengkulu 24 Februari 1953 itu.
Walaupun panggilan jiwa untuk berkiprah sebagai seorang politisi sedemikian kuat dan silsilah keluarga pun didominasi darah perjuangan, namun sempat pula Nizar dilanda alergi bersentuhan dengan dunia politik.
Kisahnya pada saat mahasiswa dan aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Bandung pada 1978, Nizar bersama rekan-rekannya sesama aktivis sempat ditahan militer selama hampir setahun di rumah tahanan Guntur, Jakarta. Kala itu ia bersama rekan-rekannya menolak Presiden Soeharto dicalonkan kembali sebagai presiden dalam Sidang umum MPR 1978.
Saya diadili di pengadilan mahasiswa dan divonis satu tahun potong masa tahanan. Kita dituduh subversif dengan ancaman hukuman mati. Tapi pada akhirnya kita dituduh menghina kepala negara. Waktu itu dikenal dengan nama Tahanan Mahasiswa Kampus Kuning,? cerita pria ramah ini..
Efek dari semua itu, maka segala aktivitas mahasiswa. baik Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa dibekukan. Lalu muncullah nama Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) di tahun 1978.
Selanjutnya saat usai menjalani masa tahanannya dan dibebaskan, Nizar malah tidak tertarik sama sekali terjun dalam politik praktis. ?Saat itu saya melihat konstalasi politiknya seperti itu di mana kekuasaan Soeharto begitu dominan sementara partai hanya sebagai pelengkap suatu negara agar bisa dikatakan demokratis. Saya waktu itu kan menentang pak Harto, karena melenceng dari tujuan orde baru. Dia lebih menitikberatkan kepentingan kroninya ? kata Nizar menjelaskan.
Kalau pun ada persinggungan dengan dunia politik, Nizar hanya bersedia menjadi simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai partai yang diyakininya mampu menyalurkan aspirasinya selama ini, yaitu partai yang bernafaskan Islam. Selain PPP, partai yang eksis disaat rezim orde baru berkuasa hanyalah Golkar dan PDI.
Dua puluh tahun kemudian, saat tiba waktu kejatuhan rezim orde baru dan reformasi bergulir, sejumlah kader muda Masyumi yang dipelopori Yusril Ihza Mahendra mencoba menghidupkan kembali organisasi massa Islam tersebut melalui pendirian Partai Bulan Bintang (PBB). Seolah menemukan romantisme sejarah d imasa lalu, Nizar Dahlan kontan tertarik dengan tawaran bergabung dengan PBB.
Karena memang fanatisme saya ke Masyumi itu tinggi sekali, seperti di bawah alam sadar gitu, maka sama-sama kita dirikan Partai Bulan Bintang. Saya melihat Partai Bulan Bintang itu seperti mengembangkan kembali misi-misi Masyumi dalam membangun bangsa ini dan pernah membubarkan diri di tahun 60-an,? ujarnya.
Di PBB, Nizar dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai Wakil Sekretaris Jenderal dan pada Pemilu 2004, Nizar kembali ke Senayan. Kali ini dia bukan sebagai demonstran seperti saat mahasiswa dulu, melainkan sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari daerah pemilihan Sumatra Barat II, tempat orang tuanya berasal di Maninjau, serta siap memperjuangkan aspirasi rakyat. Kini, Nizar adalah pelaku dan penentu yang ikut menentukan nasib negeri ini.
?Karena itu, waktu saya dilantik jadi anggota DPR dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya menitikkan air mata. Saya terharu! Dulu, saya datang ke sini jadi demonstran bahkan ditahan selama hampir satu tahun dan sekarang saya malah dilantik jadi anggota Dewan. Nah itu berkesan betul buat saya,? cetus Nizar mengenang saat pelantikannya pertama kali sebagai anggota DPR.
Menjadi anggota DPR adalah panggilan hati nurani untuk ikut menyumbangkan pikiran dan tenaga,? ujarnya.
Komitmen Tegakkan Syariat Islam
Dalam pandangannya, Masyumi mempunyai satu cita-cita yang sangat mulia yakni ingin menegakkan syariat Islam. Ketika konstitusi disusun, ada gagasan Piagam Jakarta yang mencakup tambahan tujuh kata yang menyebutkan adanya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Artinya negara ini betul-betul mengontrol melalui hukum tentang bagaimana orang melakukan syariat itu secara utuh dan tidak setengah-setengah.
Memiliki konsep tentang bagaimana menegakkan syariat Islam dalam kehidupan bernegara berbeda dengan menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Artinya syariat Islam itu masuk dalam hukum positif, berupa konstitusi atau suatu undang-undang, yang mengontrol prilaku warga masyarakat yang memeluk agama Islam. Perangkat hukum seperti itulah yang dibutuhkan bangsa Indonesia agar ada semacam daya paksa dari negara kepada warganya untuk melakukan hal-hal yang lebih baik.
Menerapkan konsep penegakkan syariat Islam di sini bukan membentuk negara Islam, jangan salah,? katanya.
Nizar tidak ragu-ragu meneruskan garis perjuangan Masyumi yang sejak awal mempunyai design menjadikan syariat Islam sebagai salah satu pilar dalam ketatanegaraan bangsa Indonesia.
Itu yang membuat saya terobsesi memperjuangkan syariat Islam. Bagaimana syariat Islam itu masuk ke dalam hukum positif dan kemudian kita betul-betul dikontrol sebagai umat Islam melalui undang-undang,? katanya.
Urgensi menerapkan syariat Islam tersebut, menurut Nizar, diperlukan mengingat sekarang ini bangsa Indonesia tidak jelas wujudnya seperti apa. Dikatakan sebagai negara sekuler sangat mungkin dan bisa pula disebut sebagai bangsa kapitalis atau bahkan negara koruptor.
Jadi artinya pondasi dan kekuatan moral kita itu betul-betul rapuh di dalam mengelola negara. Itu harus betul-betul kita akui,? katanya.
Banyaknya orang-orang yang terlibat dalam kasus korupsi, dalam hematnya, lebih disebabkan karena banyak orang sudah tidak punya kekuatan iman sebagai benteng dalam menjalankan kegiatan mereka sehari-hari. Moral bangsa itu sudah sangat rapuh sehingga salah satu obatnya adalah dengan menerapkan syariat Islam itu. Itulah salah satu perjuangan PBB agar bangsa ini bisa mengubah sikap moralnya.
Selama ini walaupun umat Islam masing-masing melakukan kegiatan di bidang keagamaan tetapi tidak ada semacam kewajiban negara untuk melakukan kontrol. Nah inilah salah satu kekurangan kita. PBB menghendaki agar umat Islam dikontrol dengan syariat Islam yang dibakukan melalui satu hukum positif,? ujarnya.
Nizar menegaskan, partainya tidak ambisius untuk mengejar target yang muluk-muluk. Yang penting, kata Nizar, bagaimana misi PBB ini bisa diperjuangkan walaupun tidak akan tercapai dalam waktu dekat. Tapi paling tidak obesesi itu bisa dibangun.
Nah, kalau Yusril bisa menjadi presiden, kan obsesi ini bisa diwujudkan menjadi kenyataan, paling tidak dalam hal Undang-undang Syariat Islam itu bisa masuk ke dalam hukum positif, sehingga tidak amburadul seperti sekarang ini kita,
Di saat yang sama, pondasi yang kurang kuat bisa mengakibatkan runtuh negara ini. Terlalu banyak contoh kekuatan asing yang ingin dan selalu mencoba mengobok-obok bangsa ini. Tapi kalau ada benteng moralitas yang cukup kuat sebagai pondasi berbangsa dan bernegara, menurut Nizar, Insya Allah bangsa bakal berdiri lebih kokoh.
Contoh soal pribadi saja misalnya, saya ingin korupsi. Lalu saya berfikir korupsi itu kan tidak baik dan saya ini juga dari partai Islam. Maka paling tidak sudah ada kontrol yang mengingatkan diri sendiri agar menjauhi perilaku seperti itu,? katanya. Lain halnya jika sama sekali tidak ada kontrol, maka bisa saja terjadi kader-kader partai yang kebetulan menjadi pejabat negara berprilaku korup atau menghalalkan segala cara.
Sejujurnya Nizar menilai bahwasannya bangsa ini bukannya mengalami suatu kemajuan tapi malah kemunduran. Tidak ada yang bisa dibanggakan pada diri bangsa Indonesia.
Atas dasar itu semua, Nizar memandang perlunya setiap politisi mempunyai latar belakang berpolitik yang jelas. Selain itu, untuk menjadi politisi yang baik menuntut naluri politik yang bersih pula yang akan menentukan ke mana dia akan melangkah, apa yang akan dilakukannya atau apa yang akan dicapainya. Jika tidak ada komitmen yang jelas, maka wajar saja apabila ada anggota DPR yang sama sekali tidak pernah berbicara atau bahkan tidak pernah datang menghadiri sidang-sidang.
Sementara kalau saya mengukur diri, betapa saya pontang panting menjadi anggota dewan. Rapat sini rapat situ dan kita bukan sekedar hadir tapi juga memberi kontribusi pemikiran, berdebat, aktif di sana sini. Jadi kalau dilihat dari sini, alangkah naifnya jadi anggota dewan jika hanya mencari status,? katanya.
Banyak aktifitas yang dilakukannya sejak di bangku SMP, ikutt KAPPI, Ikatan Pelajar Muhammadyah (IPM) HMI, KAHMI Jaya, Ketua Yayasan Bina Lingkungan Hidup, Direktur Pusat Studi Pengembangan Daerah, Wakil Direktur Lembaga Studi Otonomi Daerah, dan Pengembangan Masyarakat UMJ, Anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, Pendiri Forum Reformasi untuk Demokrasi, Keadilan dan Keutuhan Nasional.
.Sebagai anggota Dewan yang pada satu saat bergelimang fasilitas dan peluang untuk menyalahgunakan jabatan, sejujurnya Nizar mengakui besarnya godaan di sana, Karenanya ia melihat dari sisi kontrol moralitas dan syariat Islam, maka hal itu ternyata sangat efektif menjadi benteng pertahanan diri.
Saya bukannya tidak pernah tergoda akan hal itu, jujur saya katakan. Tetapi saya ingat kalau saya lakukan ini dan ketahuan misalnya maka akan jadi masalah dan tentunya merusak diri sendiri,? katanya.
Apalagi kehadiran Nizar di Senayan itu berawal dari kiprahnya sebagai seorang aktivis di masa lalu yang gencar menentang otoritarianisme yang dibangun Soeharto hingga akhirnya ia harus membayarnya dengan masuk bui. Sebagai mantan aktivis, ia punya naluri bagaimana caranya bersikap sebagai seorang politisi. Selain itu, Nizar mengaku juga dikontrol oleh partai yang berasaskan Islam
Jadi ada semacam benteng untuk diri saya untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik,? jelas pehobi badminton, catur, dan membaca ini.
Merajut Kiprah di Senayan
Sebagai seorang wakil rakyat, Nizar sangat sadar bahwa keberadaanya di gedung parlemen itu benar-benar untuk mewakili rakyat. Artinya ada jutaan orang di belakang dirinya yang mempunyai setumpuk aspirasi dan harus diakomodir.
?Bagaimana sih aspirasi mereka ini diperjuangkan. Nah itu yang harus diingat betul. Saya duduk di sini bukan karena kehebatan saya. Tidak sama sekali,? katanya.
Keberadaan di parlemen itu disadarinya sebagai satu amanah yang dibebankan rakyat kepadanya melalui Partai Bulan Bintang. Karena DPR itu berskala nasional, maka beban moral seorang Nizar Dahlan tidak hanya terbatas pada konstituen yang diwakilinya saja, melainkan juga kepada segenap rakyat Indonesia harus diperjuangkan nasibnya.
Perjuangan itu misalnya saja bagaimana mengontrol jalannya roda pemerintahan atau mengoreksi eksekutif yang terdeteksi melakukan satu kebohongan publik, menyimpang, atau berprilaku tidak benar. Semua itu menjadi kewajiban DPR untuk mengingatkan dan menegur orang-orang yang tengah menjalankan amanah sebagai pemerintah. ?Nawaitu (niat) saya sih amar ma?ruf nahi munkar 9memerintah kebaikan, mencegah kemunkaran) sampai-sampai saya diadukan ke polisi karena dituduh menghina kepala negara,? katanya.
Sebagai ahli geologi tamatan Universitas Padjajaran Bandung, Nizar mempunyai kepedulian tinggi terhadap masalah lingkungan hidup. Karena itu saat terpilih menjadi anggota Dewan, ia duduk di Komisi VII DPR, komisi yang membidangi masalah Pertambangan dan Energi, Lingkungan Hidup, serta Riset dan Teknologi.
Dengan dukungan ilmu dan pemahaman yang luas tentang masalah pertambangan, termasuk perminyakan itu, Nizar tampil kritis terhadap berbagai kebijakan perminyakan yang diambil pemerintah. ?Banyak sekali yang saya paham tentang masalah-masalah teknis dan itu cukup membantu. Jadi pemerintah gak bisa bohong ke saya soal angka-angka dan ini pula yang membuat teman-teman di Komisi VII senang,? katanya.
Penguasaan masalah yang prima telah membawa Nizar Dahlan kedalam berbagai tim strategis bentukan DPR, semisal tim pengawas lumpur sidoarjo dan panitia angket BBM DPR.
Saat pemerintah mengambil kebijakan menaikkan harga BBM, Nizar menjadi salah satu anggota DPR yang bersuara lantang menentang sehingga ia sempat dituduh telah menghina Presiden SBY dan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Bahkan ia sempat pula dilaporkan ke polisi. Namun ketika semua saksi sudah diperiksa dan tinggal tersisa Nizar Dahlan seorang, penyidik kepolisian ternyata tidak kunjung memeriksa dirinya.
Jika ingin memeriksa saya kan harus berdasarkan atas ijin persetujuan presiden. Sementara presiden sendiri kita hina. Ini beda dengan Zaenal Maarif (mantan Wakil Ketua DPR yang direcall PBR). Jadi sebenarnya bukan menghina tetapi mengkritik kebijkaan,? katanya. Kala itu Nizar benar-benar berdiri menentang kebijakan presiden sebagai seorang wakil rakyat.
Demikian pula saat pemerintah berencana menaikkan harga gas Elpiji Pertamina. Nizar sangat marah dalam raker dengan pemerintah di Komisi VII dan juga mengeksposenya di sejumlah stasiun televisi swasta. Mungkin akibat faktor rewelnya anggota DPR yang satu ini, Presiden SBY pun akhirnya mengurungkan niat menaikkan harga jual gas Elpiji kepada masyarakat.
Dengan bermodalkan warna politik yang jelas, yakni Islam, Nizar bersyukur hingga empat tahun masa jabatanya sebagai wakil rakyat masih terjaga untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar kaidah serta moral Islam.
Sampai sekarang ini syukur Alhamdulillah saya tidak hanya sekedar jadi anggota dewan, tetapi juga cukup bermanfaat di tengah-tengah masyarakat,? tuturnya. Bahkan ia sempat pula dijuluki sebagai salah seorang vokalis DPR.
Demikian pula dengan persyaratan electoral treshold yang coba diterapkan dalam UU Pemilu, Nizar dengan keras menyuarakan penolakkannya karena melihat hal itu sangat tidak adil. Menurut dia, sangat tidak adil apabila wakil-wakil rakyat yang telah terpilih sesuai dengan jumlah suara yang ditentukan UU, tetapi kemudian dinafikkan keberadaanya hanya karena tidak memenuhi porsi minimal 2,5 persen atau tidak mencukupi 14 kursi parlemen.
Rakyat mewakilkan kita untuk menjadi wakilnya dan lalu semua itu dibatalkan atau diberikan kepada orang lain. Jelas nggak adil itu. Iya kalau dialihkan pada partai yang sesama Islam... Kalau diarahkan untuk partai yang non Islam, terus terang saya tidak akan rela,? ujarnya.
Di Senayan, walaupun fraksi Bintang Pelopor Demokrasi (tempat Nizar Dahlan bergabung) hanya beranggotakan 11 orang, namun jumlah yang relatif sedikit itu cukup disegani oleh fraksi-fraksi lainnya di DPR. Banyak kritik dan argumentasi mereka yang didengar tidak saja oleh kawan, tetapi juga lawan-lawan politik.
PBB pun melihat kiprah putra Masyumi itu sebagai satu prestasi tersendiri sehingga pada Pemilu 2009, Nizar masih dipercaya menempati nomor urut 1 dalam penyusunan daftar caleg PBB. Penempatan di nomor urut ?peci? di PBB tentunya didasarkan pada sejumlah tolok ukur seperti aktivitas di parlemen, komitmen moralitas, etika, hingga aktivitas di partai, yang keseluruhannya mempunyai nilai.
Kecintaannya terhadap faham Masyumi memang tidak diragukan. Bahkan ia tak bergeming ketika ditawari untuk pindah partai. ?Selain itu, agak berat juga saya meninggalkan PBB, karena saya sebagai pendiri,? cetus Nizar.
Pengakuan atas kapasitas dan kapabilitas itulah yang membuat seorang Nizar Dahlan merasa cukup berfungsi. Berangkat dari niat ingin melanjutkan garis perjuangan yang telah didesign Masyumi, sedikit demi sedikit perbaikan itu mulai dilakukan, meskipun semua itu belum menunjukkan hasil yang maksimal. Salah satu tugas berat yang menanti di depan mata adalah menyiapkan sebanyak mungkin kader dan konstituen demi membangun kejayaan Masyumi. Di masa lalu Masyumi adalah partai besar yang mendominasi hampir di semua daerah.
Romantisme Berkeluarga
Perkenalan Nizar dengan sang isteri berawal saat ia masih dalam tahanan penjara di Guntur. Awalnya, Noorjannah Shomad yang juga seorang mahasiswi IAIN itu membesuk rekan-rekannya aktivis mahasiswa IAIN yang turut ditahan bersama Nizar di penjara Guntur.
Getar asmara semakin menggelora tatkala Nizar akhirnya mengetahui bahwa Noorjannah itu juga seorang aktivis pergerakkan dan ada kesamaan dalam silsilah keluarga besar mereka, yakni berlatarkan Masyumi dan sama-sama berjuang membentuk front anti komunis. Karenanya setelah terbebas dari masa hukumannya, hubungan yang terjalin di antara keduanya semakin erat hingga akhirnya mereka bersepakat melanjutkan ke jenjang perkawinan.
Nah pas saya tahu kayak gitu (latar belakang keluarga yang sama), saya memperkenalkan diri (ke keluarga Noorjannah) waktu itu adalah hari Kamis, dan besoknya hari Jumat saya langsung disuruh menikah. Jadi memang tidak punya persiapan sama sekali. Bisa dibayangkan itu,? ujarnya seraya tergelak.
Jadi saya punya sejarah tersendiri sama isteri saya, kenal di penjara dan ternyata keluarganya juga aktivis, punya pesanteren di bekasi. Hari ini berkenalan dan besoknya sudah dinikahkan,? katanya.
Seusai dinikahkan, sang istri yang masih menyandang status mahasiswi dan tinggal di asrama putri IAIN itu harus keluar dari asramanya. Dengan bermodalkan sejumlah uang hasil sumbangan pernikahan dari sanak kerabat, pasangan baru itu mencoba mencari rumah sederhana yang layak untuk mereka tinggali. ?Waktu nikah itu banyak juga yang nyumbang dan dapat duit Rp60 ribu waktu itu. Saya ingat betul. Rp 30 ribu kita gunakan untuk bayar panjer rumah dan sisanya 30 ribu lagi beli perabotan rumah tangga, seperti gelas, piring, kompor,? ujar ayah dari Qorrie Aina Nizar (21) sambil tergelak lagi.
Kondisi awal berumah tangga sangat seadanya. Selembar kasur yang ada pun hanya dilapisi sarung lantaran tidak punya seprei untuk menutupinya. Demikian sempitnya sepetak rumah yang didiami itu, maka ketika mau masuk rumah tamu-tamu yang masuk harus buka sandal atau sepatunya dan langsung duduk seperti di mushola. Walau keadaan rumah tangganya sederhana dan apa adanya, namun Nizar bersama sang istri merasa bahagia hidup bersama.
Hidup pas-pasan itu tampaknya mulai ada tanda-tanda segera berakhir setelah sepekan usai menikah, kemudian Nizar ditunjuk sebagai pimpinan salah satu proyek di Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), yakni proyek uranium di Sumatera Barat.
Kebetulan yang ngetes saya di Batan itu juga seorang aktivis dari ITB. Jadi ketika mewawancarai saya, dia mengenal saya dan saya langsung dinyatakan diterima,? katanya dengan senyum simpul terhias dibibirnya.
Sebagai pimpro, tentunya kucuran uang semakin deras mengalir ke kocek Nizar. Ada uang lapangan, oprasional, representasi, dan lain sebagainya. Dengan modal yang bertambah sedikit demi sedikit itu, keluarga Nizar mulai membeli sejumlah perabotan rumah tangganya. Nizar sangat bersyukur dan menikmati rezeki halal yang datang tanpa diduga-duga itu.
Karier di Batan ternyata tidak berlangsung lama karena beberapa waktu kemudian Nizar dipecat oleh Sudharmono yang kala itu menjabat sebagai Mensesneg. Kariernya yang meroket pesat ternyata memicu iri dari sejumlah orang yang juga bekerja di Batan. Masa lalu Nizar sebagai aktivis yang berseberangan dengan pemerintah yang berkuasa kala itu bahkan pernah pula mendekam di penjara menjadi peluru tajam yang efektif untuk menyingkirkannya dari Batan.
Tapi ketika saya mau dipecat, temen-temen saya di situ juga ikut ke luar semuanya sehingga waktu itu Batan kehilangan banyak tenaga profesional,? ujarnya tergelak.
Solidaritas di antara sesama tenaga profesional memang cukup menonjol di Batan dan apalagi Kepala Dinas yang pertama kali mewawancarainya juga betul-betul terkesan dengan kinerja seorang Nizar Dahlan. Ada pula hikmah ke luar dari Batan, yakni sesaat kemudian Nizar segera ditarik PT. Aneka Tambang. Kebetulan pula saat kuliah dulu ia sempat mendapat beasiswa dari Aneka Tambang karena dinilai cukup berprestasi. Besar beasiswa yang didapat saat itu jumlahnya Rp15 ribu per bulan.
Sekitar empat tahun bekerja di Aneka Tambang, muncul lagi problem baru. Problem di tahun 1982 itu berawal saat pemilu dan kala itu Nizar ditugaskan melaksanakan proyek Humas di Kalteng.
?Pas waktu itu pemilu, tentu kita melakukan pemilihan di situ kan dan bilik Tempat Pemungutan Suara (TPS) ada di lingkungan proyek Aneka Tambang,? katanya. Saat itu Nizar ditunjuk sebagai Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) untuk melakukan pemungutan suara di lingkungan proyek dan juga memantau TPS yang ada di masyarakat setempat.
Di TPS itu, Nizar menemukan fakta bahwa petugas KPPS lah yang melakukan pencoblosan semua surat suara pada tanda gambar Golkar, sementara masyarakat hanya duduk bergerombol menonton. ?Jadi surat suara itu mereka (petugas KPPS) kumpulin dan langsung ditusuk sekaligus di tempat Golkar. Nah itu saya foto-foto,? katanya.
Giliran di TPS Aneka Tambang, Nizar menerapkan berbeda dengan pola di masyarakat setempat yakni benar-benar sesuai dengan aturan di buku panduan, pemilih dipanggil satu persatu dan dipersilahkan memilih. Cara mencoblos yang benar itu ternyata membuat kaget karyawan-karyawan Aneka Tambang karena selama ini cara tersebut tidak lazim.
Sementara itu untuk pelaksanaan proyek juga ada mandornya, yakni seorang militer mantan anggota Kopassus asal Jawa Barat. Mandor itu sempat mengingatkan Nizar agar suara pemilih itu diarahkan ke Golkar saja seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Karena Nizar telah berkomitmen memegang teguh kejujuran dan aturan yang ada, akhirnya Mandor itu menginstruksikan kepada segenap karyawan yang ada bahwa mereka boleh memilih partai mana saja sesuai hati nurani masing-masing.
?Kebetulan banyak orang Banjar di TPS Aneka Tambang dan mereka pada umunya memilih PPP. Jadi di TPS Aneka Tambang itu Golkar cuma dapat 3 suara yang lainnya memilih PPP,? ujar Nizar seraya terkekeh-kekeh.
Buntut dari kekalahan Golkar di TPS Aneka Tambang itu adalah Nizar dicari-cari pihak yang berwajib. Kekalahan Golkar di satu TPS berarti sebuah kesalahan besar. Sang mandor yang setia mendampinginya akhirnya memberi nasehat agar Nizar segera kabur ke Jakarta setelah menilai situasi tidak kondusif lagi. Nizar memenuhi nasehat itu dan kabur ke Jakarta dengan naik speed boat pada malam itu juga menempuh jarak 350 km ke Banjarmasin.
Di saat yang sama, semua surat suara yang telah dicoblos di TPS Aneka Tambang dan memenangkan PPP diganti di Kecamatan. Golkar yang semula hanya mendapat tiga suara diganti dengan perolehan suara PPP, sementara PPP menggantikan Golkar mendapat tiga suara saja.
Sesampainya di Jakarta, Nizar langsung dipanggil atasannya untuk menerima pemecatan saat itu juga. ?Saya langsung di panggil, sampai mereka menggebrak meja. Udah kamu ini dipecat!? katanya mengenang ucapan sang Boss Aneka Tambang yang memecatnya.
Atas perlakuan itu, Nizar sempat memprotesnya dengan dalih bahwa ia di sana hanya bertugas melakukan penelitian dan pelaksanaan tugas sebagai Ketua KPPS sudah sesuai petunjuk dan tidak untuk memenangkan Golkar. Siapa pun yang jadi pemenang di TPS itu juga bukan urusannya. Sejak saat itu keberadaan Nizar di Aneka Tambang mulai diacuhkan dan tidak diberi apa-apa.
Di tengah berbagai kesulitan hidup itu, Dewi Fortuna tampaknya kembali berfihak pada Nizar Dahlan. Tidak lama berselang, tiba-tiba ada perusahaan minyak asing, PT. Milchem Indonesia, yang membutuhkan tenaga profesional. Nizar ikut tes, lulus dan langsung bekerja bersama banyak orang asing di sana.
Gaji saya di Aneka Tambang itu hanya Rp35 ribu sebulan. Tapi di perusahaan minyak yang baru gaji saya Rp670.000 ribu dan dibayar pakai dolar. Waktu itu dolar sekitar Rp600-an,? ia menuturkan.
Setelah tiga bulan bekerja, dilakukan evaluasi dan hasilnya gaji dinaikkan lagi menjadi Rp900 ribu. Dari rezeki yang berlipat-lipat ganda itu, Nizar mampu membangun rumah di Cirende. ?Itulah hikmahnya saya dikucilkan. Artinya apa yang saya lakukan itu benar koq, sehingga imbalan yang saya dapatkan sebaliknya. Ya Alhamdulillah. Coba kalau saya masih di Aneka Tambang...,? katanya.
Dengan iming-iming gaji tinggi, Nizar memboyong rekan-rekannya di Aneka Tambang ke tempatnya yang baru. ?Siapa sih yang tidak tergiur dan akhirnya kosong juga tuh Aneka Tambang,? katanya.
Dengan kariernya yang terus bersinar, Nizar tetap memberikan komitmen penuh kepada keluarganya. Jika ada waktu terluang di balik setumpuk kegiatannya itu ia menyempatkan diri untuk berada di tengah-tengah keluarganya. Waktu luang dimanfaatkan misalnya saja untuk jalan-jalan atau berbelanja bersama keluarga.
Selama bekerja di industri perminyakan, ritme kerjanya adalah 2 minggu dilapangan dan 2 minggu di rumah. Sementara untuk membekali putri tercintanya, Nizar mempercayakan pada pendidikan di madrasah ibtidaiyah. ?Jadi dasar keagamaannya cukup kuat, apalagi ibunya itu dasarnya dari pesantren,? dalihnya.
Mengenai prinsip hidupnya, Nizar Dahlan selalu berpandangan agar bagaimana ia bisa bermanfaat buat bangsa, negara, agama, dan teman-temanya. ?Artinya saya lebih mengutamakan bagaimana bisa memberikan sumbangan pemikkiran, apa saja yang bisa saya lakukan,? ujar Nizar.
Setiap teman mempunyai arti tersendiri bagi seorang Nizar Dahlan, karena tanpa pernah diduganya, justru teman-temannyalah yang selama ini banyak memberikan bantuan. Karena itu pula Nizar Dahlan selalu memupuk rasa kesetiakawanannya yang tinggi.
?Itu yang jadi modal saya. Apakah itu di kalangan partai atau teman-teman lainnya, pokoknya banyak teman yang bantu saya. Pertemanan itu penting dan membuat saya happy. Karena teman itu sangat berarti untuk saya, maka saya akan menjaga sekali hubungan pertemanan itu,? demikian Nizar Dahlan. (parlementaria)








