Profil
MAIYASYAK JOHAN SH MH
Koleksi bukunya begitu lengkap, mulai dari masalah ekonomi, hukum, filsafat, sejarah, biografi, agama, juga novel. Bahkan, di rumahnya di kawasan Kebayoran lama. Perpusatakaan pribadi yang didirikannya tidak mampu menampung koleksinya yang berjumlah lebih dari 11.000 buku. Memang, kesibukannya sebagai politisi tidak bisa membendung hobinya membaca buku. Bahkan, kemana-mana ia selalu membawa buku.Itulah Yasa, anggota Partai Persatuan Pembangunan dan duduk di komisi III DPR biasa dipanggil.
Ayahnya adalah seorang militer dan politisi sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga yang berdedikasi tinggi dalam mengurus suami dan anak-anaknya. Dari lingkungan inilah lelaki kelahiran Kisaran, Sumatera Utara ini dididik dengan keras dan kedisiplinan yang tinggi. Masa Sekolah Dasar hingga kuliah dihabiskannya di Medan,Sumatera Utara. Ia menyelesaikan Sarjana S1 di Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara, Medan. Pendidikan S2 Fakultas Hukum diselesaikannya di Universitas Indonesia, Jakarta. Kini ia sedang menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Dari latar belakang orangtua, Yasa dididik dalam dua perspektif, yaitu segi kedisiplinan dan segi kehidupan bermasyarakat. Dari sinilah ayah dua anak ini mulai memupuk bibit sebagai seorang organisator. Ia mengakui, proses pendewasaan diri dimulai dari masa kuliah di perguruan tinggi. Mulai saat itulah dialog. Meskipun ada segudang pertanyaan, tapi bisa menjembatani untuk mengenal semua kelompok mahasiswa.
Di kampus, ia aktif di Senat, Dewan Mahasiswa hingga ke tingkat universitas. Namun, ketika kegiatan mahasiswa mulai dibatasi pemerintah, darah mudanya bergolak. Pria yang gemar berdiskusi ini mencari ruang untuk kegiatan. Ada realitas sosial yang dilihat, yang mendorongnya untuk terlibat dan untuk memperjuangkan gagasan-gagasan di kampus. Inilah yang mendorongnya untuk terjun ke dunia politik.Politik itu begitu "mobile", karena perkembangannya demikian cepat. Sebelum terjun ke politik, Yasa sempat bekerja, bahkan sejak ia masih kuliah. Ia pernah di dunia pers, penelitian dan hukum. Ia sempat diangkat menjadi pegawai negeri di kopertis sebagai dosen. Namun, ia merasa kurang ada tantangan di situ. Setahun jadi dosen, ia memilih keluar dan memilih profesi bidang hukum sebagai seorang pengacara atau lawyer.
Bagi Yasa, Hukum dan politik itu tidak jauh berbeda. Yang membedakan adalah, kalau politik itu ada kekuasaan dan keterlibatan sejumlah orang sementara lawyer lebih pada tanggung jawab profesionalnya. Sebagai politisi, pria yang senang akan tanaman ini memang menjadiamat sibuk.
Hari-harinya tersita oleh kegiatannya di partai. Namun,ia tetap menyempatkan diri untuk berkumpul bersama keluarga. Ia tetap perhatian pada pendidikan anaknya, meskipun tidak akan memaksakan kehendaknya untuk ikut jejaknya ke dunia politik.Bagi sang anak, Yasa adalah sosok ayah yang sayang pada keluarga. Meski jarang bertemu, sang ayah tetap berusaha menyempatkan untuk berkumpul jika saat itu ada. Ia adalah sosok pemimpin bagikeluarga yang tegas dan disiplin Sebagai anggota DPR, Yasa terus memperjuangkan gagasan-gagasannya demi kepentingan masyarakat luas. Ia mengakui, sistem yang ada sekarang begitu rigid dan berlapis.
Mobilitas untuk menjalankan pemikiran akan suatu gagasan seringkali tidak cukup tersedia. Ada pertemuan antara komitmen personal dengan komitmen kebijaksanaan partai. Namun, itulah tantangannya. Mayasa masih melihat ada sesuatu yang kurang. Berangkat dari cita-cita kemerdekaan, cita-cita NKRI. Cita-cita ini yang belum nampak. Dalam bidang ekonomi, belum nampak apa yang dicita-citakan dengan yang dilaksanakan. Juga masih ada pelanggaran HAM dan kemiskinan. Meski pendidikan naik 20 %, belum ada pemimpin yng punya konsep jelas tentang pendidikan. Ia merasa perlunya duduk bersama membuka perspektif, bagaimana menggunakan dana yang naik 20 % itu.(01/09)/mei/parle








