Profil

DR. AULIA AMAN RACHMAN SH, MS,i


 Sosoknya menunjukkan kesederhanaan dan Keterbukaan, terutama untuk masyarakat yang mau menemuinya. Padahal ia bukan sosok yang sembarangan. Lelaki kelahiran Payakumbuh, 63 tahun lalu ini sudah lebih dari 27 tahun mengabdi kepada negara sebagai wakil rakyat atau anggota parlemen. Dimulai dari tahun 1978 ketika menjadi anggota MPR RI sebelum tiga tahun kemudian dilantik menjadi anggota DPR RI hingga sekarang.

Sisi kepemimpinan dan semangatnya sebagai pembela rakyat sudah tampak sejak di bangku kuliah. Di almamaternya, Universitas Indonesia, pada tahun 1968, anak ke-9 dari 10 bersaudara yang masuk ke Fakultas Hukum ini terpilih menjadi anggota senat di fakultasnya. Dua tahun kemudian, ayah dua anak ini terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia sampai tiga tahun. ‘’Saya rasa sebuah pengorbanan untuk rakyat haruslah di perjuangkan selama saya masih di berikan waktu dan kesempatan untuk melakukannya’’, ungkapnya.

Di tengah kesibukannya di organisasi kemahasiswaan, pria yang memilih putri Solo sebagai pendamping hidupnya ini mengikuti pelatihan kepemimpinan, beasiswa PBB untuk Training Youth Leader di New York pada tahun 1970. Sejak itulah kiprahnya mulai merambah ke lingkup internasional yang diantaranya terpilih sebagai Sekjen Organisasi Dewan Mahasiswa Se Asia dan Australia. Di sinilah, ketertarikannya dengan politik semakin kental. Berhubungan dengan organisasi di luar membuat Aulia muda semakin mendalami pemikiran mereka sebagai pemimpin mahasiswa di luar yang menjadikan kampus sebagai instrumen permainan politik mahasiswa. Di matanya, Golkar merupakan organisasi politik alternatif dibanding dua partai lain yang ada. PDI lebih condong ke nasionalisme-demokrat sementara PPP bernuansa relijius Islam. Karena itu, ia lebih memilih Golkar yang menurutnya berada di tengah. Tahun 1983 ia lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan dipercaya menjadi Ketua Departemen Pemuda DPP Golkar. Lima tahun kemudian mengepalai Bidang Cendekiawan dan Luar Negeri sebelum akhirnya dipilih menjadi Wakil Sekjen DPP Golkar pada tahun 1993. Diantara kesibukannya berpolitik, Aulia masih mendalami pendidikannya dengan mengikuti program magister di UI dalam bidang Ilmu Politik yang diselesaikannya tahun 2001. Di bidang hukum, program Doktor Hukum Tata Negara diselesaikan tahun 2007. Di DPR RI, Aulia adalah anggota Fraksi Partai Golkar dan anggota Komisi III DPR RI selain menjadi anggota BAKUMHAM di Dewan Pimpinan Pusat partainya dan tahun ini adalah akhir dari dinasnya di parlemen. Meskipun telah puluhan tahun di DPR, Aulia masih merasa tugasnya belum selesai. Di akhir masa karirnya di parlemen, Aulia mengatakan, ‘’masih melihat peluang negara ini begitu besar tapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia menganalogikan wilayah dari Sabang hingga Merauke yang sama dengan wilayah dari London sampai Mokkow yang melewati beberapa pemerintahan, kultur yang berbeda dan bahasa yang berlainan’.

Kegiatan Aulia memang begitu padat, hingga waktunya bercengkerama dengan keluarga juga semakin sedikit. Pagi berangkat, pulang malam. Bahkan tidak jarang menginap berhari-hari di luar kota demi tugas. Namun, bagi isterinya, kondisi itu tidak dinikmatinya. Bahkan ia bangga memiliki seorang suami yang pekerjaannya membela rakyat, meskipun konsekuensinya mengurangi waktu untuk keluarga.

Sementara di mata sang anak, Tirrel Asanti, sang ayah adalah sosok tanpa cacat. Sayang pada rakyat tidak mengurangi rasa sayangnya pada anak. Apa yang diminta anak, sejauh untuk kepentingan yang lebih baik selalu diberikan. Meskipun, tentu saja, bukan waktu yang diminta. Karena masih ada ribuan bahkan jutaan orang lain yang membutuhkannya, yaitu Rakyat Indonesia. Namun, jika kebersamaan itu tiba, tampaklah bahwa keluarga ini tidak menyia-nyiakan waktu bersama yang ada. Kemesraan diantara mereka tampak nyata.