Profil
Edy Jauzie Bafadal, SH
Sosok yang terlahir 16 Juni 1965 di Lombok Timur ini, memang mempunyai jiwa pejuang yang sangat tinggi. Penampilannya memang terlihat kalem dan sederhana, cara bicara yang sangan santun akan membuat kita larut berbincang dengannya. Anak ke tiga dari sembilan bersaudara yang lahir dari seorang Ayah yang juga seorang politikus dari Partai Persatuan Pembangunan ini, sangat mengalir darah dan lingkungan politik yang sangat kuat. Berangkat dari keluarga politik, ia menjalankan pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi Nusa tenggara Barat. Selain mendapatkan didikan agama yang kuat dari keluarganya, ia sangat rajin bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya dengan mendengar dan mendalami apa yang menjadi persoalan di masyarakat. Didalam pendidikan selain belajar, sosok Edi tidak bisa tinggal diam, ia mengikuti beberapa organisasi yang ada di sekolah maupun di kampusnya.
Dikampus inilah ia mulai dapat menyalurkan semua pemikiranya tentang perjuangan melawan ketidakadilan dalam berbagai hal, terutama perhatian pemerintah pusat terhadap daerah-daerah yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Tamat kuliah bukan berarti ia berhenti menyuarakan kritik terhadap Pemerintah, Pengalaman yang semakin matang dalam dunia politaik membuat sosok Edi terpanggil untuk memasuki dunia politik dan meninggalkan Profesinya sebagai seoran Notaris yang saat itu masih sangat cemerlang masa depannya, namun ia tidak melihat sisi materi yang ada, akan tetapi daerah dimana ia tinggal masih sangat membutuhkan orang seperti Edi, karena ia lahir di tempat penduduk yang tingkat pendidikan dan kemakmuranya sangat jauh dari kemajuan.
Perjuangan demi perjuangan dari berbagai cara telah ia tempuh, baik organisasi besar maupun kecil, hingga ia memutuskan untuk melanjutkan perjuangannya melalui sebuah sistem yaitu menjadi seorang anggota DPR, karena ia berpendapat, ‘’bersuara diluar sistem sangatlah lamban perubahannya. Dan memasuki sebuah partai adalah pilihan yang paling tepat dalam menyuarakan aspirasinya, maka ia memutuskan masuk pada partai yang memang menjadi pilihannya, yaitu Partai Persatuan Pembangunan. Pada periode 2004 – 2009 ia masuk menjadi anggota PAW (Pergantian Antar Waktu) DPR – RI dari Partai Persatuan Pembangunan dan duduk di Komisi VIII yang membidangi Agama, pemberdayaan Perempuan perlindungan anak, dan sosial.
Berangkat dari sebuah tekat untuk merubah kesimpangan dan carut marutnya Pemerintahan,. Disitulah ia merasa perjuangan tetap harus di tegakkan. Telah banyak UU yang ia rumuskan bersama teman – temanya di DPR dan telah ia selasaikan dengan baik, Aspirasi yang ia dengar dari para konstituenya dapat langsung ia perjuangkan melalui rapat – rapat dengan Pemerintah. Perjuangan buat saorang Edi Fauzi Bafadel adalah abadi. Karena dengan perjuangan secara terus menerus semua yang kita harapkan akan terwujud dengan baik. Namun apalah arti perjuangan tanpa dukungan dari sebuah keluarga. Rasa pengabdian keluarga terhadapnya tidak akan ia lupakan sampai kapanpun, bahkan ia akan selalu memberikan yang terbaik buat keluarganya..
Seandainya kelak ia sudah tidak duduk menjadi wakilrakyat, maka cita – cita terbesar seorang Edi adalah kembali menjalani sebagai seorang Notaris dan tetap berjuang walaupun kembali di luar sistem demi kepentingan masyarakat nusa dan bangsa (mei)








