Profil
Ir. Fary Djemi Francis, MMA
Ramah, pandai bergaul dan dekat dengan konstituen merupakan cerminan sosok anggota DPR Fary Djemy Francis dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pengalaman terlibat langsung di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) membuat dirinya peka terhadap persoalan-persoalan riil rakyat kecil
Saat melakukan kunjungan kerja ke Kupang, tepatnya ke Lakekun Barat, Kecamatan Kobalima, guna menyerap aspirasi masyarakat di wilayah tersebut, seorang Fary bahkan menyempatkan diri untuk bermalam di rumah warga-warga sekitar, tidak bermalam di hotel yang telah disediakan oleh Sekretariat.
Ketika bemalam dengan warga Kupang, Fary banyak menemukan persoalan pokok masyarakat yang banyak dikeluhkan oleh mereka. “ini sebagai bentuk pendidikan politik artinya kita tidka berpikir untuk masyarakat tetapi juga dapat menjadi bagian dari masyarakat, karena itu saya lebih memilih bermalam di rumah-rumah warga sekitar, tidak di hotel,”terang wakil rakyat dari Dapil NTT II (Timor, Sumba, Rote, Subu, Semau).
Melihat program 100 hari pemerintahan SBY, Fary menilai program 100 hari SBY belum benar-benar sampai dan menyentuh daerah-daerah. Bahkan, lanjut Pria kelahiran 7 Februari 1968 ini, saat Kunjungan Kerja (Kunker) ke daerah-daerah tidak satupun mitra kerja di daerah menyebutkan program 100 hari khususnya di bidang infrastruktur.
“Program 100 hari belum menyentuh daerah-daerah jadi jangan terlalu berharap terhadap program 100 hari mampu menyenangkan hati rakyat padahal di daerah tidak ada program tersebut,”papar Pria yang berkecimpung selama 15 tahun di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Menurut Pria alumni pasca sarjana di bidang agribisnis IPB ini, seluruh komponen bangsa harus berkerja keras guna mengharmonisasikan visi misi yang disesuaikan dengan pembangunan di daerah-daerah. Artinya, pusat harus fokus ke daerah untuk mendukung program di pemerintah daerah. “misalnya saja di NTT ada gerakan prioritas NTT sebagai daerah produksi jagung, peternakan dan Koperasi, nah disitu harusnya pemerintah fokus mendukung program daerah,”papar Direktur Increase dan in house consultant pada beberapa lembaga bantuan keuangan seperti JICA, GTZ,Plan Unicef, iinet Japan, Care ini .
Dia menambahkan, kita harus datang mendengarkan program-program daerah dan mendukung program tersebut. “Kita harus mendukungnya guna menselaraskan dengan target pembangunan nasional seperti pengurangan pengangguran, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan tenaga kerja,”terang Ayah 3 orang anak ini.
Berbicara mengenai keterlibatan Fary di dunia Politik, Menurutnya,keterlibatan bergabung bersama Gerindra tanpa disengaja. Pada saat itu, bahkan, Fary mengaku tidak terlalu suka dengan dunia politik. “Saya ini vini vidi vici artinya saya datang langsung menang, bahkan saya ini tidak menjadi pengurus di Gerindra seperti Pengurus DPP, bahkan DPD Gerindra, hanya diminta bergabung dengan Gerindra,”terang Suami dari Yoza O Johanes ini.
Ketika itu, cerita Fary, saat diajak gabung dirinya sempat bertanya kepada rohaniawannya, dan langsung dijawab tuhan memiliki rencana lebih besar untukmu. “setelah dari rohaniawan saya bertanya kepada keluarga bahkan mereka tidak menolak saya bergabung di dunia politik dan maju sebagai calon legislatif saat itu,”cerita Fary kepada Parlementaria.
Menurut Fary, dirinya tidak pernah keluar uang satusenpun saat maju mendaftarkan menjadi calon legislatif (caleg) di Partai Gerindra. Bahkan saat itu, tambahnya, masih berlaku nomor urut bukan suara terbanyak, hingga MK akhirnya memutuskan suara terbanyak. “Saya buktikan bahwa saya penduduk asli juga mampu menjadi anggota dewan,”terang Pria yang menang suara sebesar 18 ribu suara bersaing dengan Politisi kawakan seperti Setya Novanto, Charles Mesang, Herman Hery.
Dia menambahkan, dari 7 kursi, sebesar 6 kursi berasal dari Pusat DKI Jakarta. “Saya sendiri yang berasal dari Kupang,”terang Fary bangga. Fary melanjutkan,seluruh anggota dewan harus membangun pendekatan dengan masyarakat, bukan pendekatan seperti sinterklas. (si/iw)








