Erik Satrya Wardhana
No. A-7

Pengaruh seorang Ayah bagi Erik Satrya Wardhana sangat besar sekali dalam mendorong dirinya berpolitik, bahkan sejak di bangku sekolah dasar, dia sudah diajak berdiskusi politik oleh sang ayah. Obrolan ringan mengenai dunia perpolitikan membuat dirinya semakin matang dalam melihat peta politik saat ini.

Ketika Erik beranjak dewasa tepatnya saat SMP dirinya pernah mengikuti demo besar-besaran menolak dicalonkan kembali Presiden Soeharto pada tahun 1978 lalu. Dia menjadi satu-satunya siswa SMP yang berani melakukan demo dan beberapa murid SMA saat itu. Sejak demo tersebut semangat Erik dalam berpolitik semakin menjadi-jadi, dia aktif di berbagai organisasi sosial masyarakat misalnya seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Bergabungnya di HMI  membawa pengalaman yang berharga bagi Erik, dirinya semakin mengenal organisasi secara lebih terstruktur dibandingkan organisasi lainnya. Hingga ketika kuliah di Ekonomi Unpad, akhirnya Erik terpilih menjadi Ketua Senat Fakultas Ekonomi UNPAD dan menjadi ketua senat Gabungan Universitas Padjajaran.

Seusai Kuliah, dirinya akhirnya memutuskan Partai Golkar menjadi Partai pertamanya berlabuh dan menimba ilmu serta memperluas jaringannya di dunia politik. Ketika itu, dia aktif menjadi salah seorang pengurus Partai Golkar tepatnya tahun 1993-1998. ”Bahkan pada tahun 1997 saya sempat menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat namun hanya periode pendek karena terpotong adanya reformasi saat itu,”kata Mantan Pegawai Bank Bukopin yang menjabat sebagai Bank Officer.

Erik juga dikenal sebagai seorang peneliti, bahkan sebelum masuk dalam lembaga Institue of Democracy for Indonesia (IDI) dia pernah meneliti dan mempelajari mengenai kasus Timor-Timur. ”Hasil kajian akhirnya menyimpulkan bahwa Pak Wiranto tidak bersalah dalam kasus tersebut,”paparnya.

Kemudian pada tahun 2000 lalu, karena keterlibatannya di Golkar dirinya dekat dengan berbagai tokoh Politik Partai Golkar,  seperti Pak Wiranto. Dirinya diajak bergabung untuk mengelola lembaga kajian yang dipimpin Pak Wiranto. ”Saya aktif di Lembaga yang bernama IDI Indonesia (institute for Democracy of Indonesia) menjadi seorang sekretaris eksekutif, sejak saat itu saya mulai bekerja dan bergabung bersama dengan Pak Wiranto,”terangnya.

IDI juga sangat aktif dalam memberikan masukan terkait produk legislasi misalnya saja saat amandemen UUD 45, IDI memberikan masukan tertulis dan aktif bersama berbagai tokoh dan lembaga lainnya berdiskusi dengan MPR mengenai amandemen pertama.

Pada tahun 2003, ada wacana konvensi di tubuh Partai Golkar. IDI kemudian melakukan kajian khusus dan merekomendasikan Bapak  Wiranto untuk ikut di dalam konvensi. Akhirnya Wiranto menang dalam konvensi menjadi calon Presiden dari Partai Golkar, namun kalah dalam pemilihan Capres dan Cawapres saat itu.  ”Karena kekalahan politik maka, pada tahun 2004 saya agak beristirahat di dunia politik.  Karena saat itu, saya merasa kekalahan wiranto juga merupakan kekalahan saya,"paparnya

Karena merasa mempunyai hubungan emosional dengan Wiranto, saat pendeklarasian Partai Hanura, Erik kemudian memutuskan bergabung dengan Partai tersebut pada tahun Desember 2006 lalu. ”Pada tahun 2009 ini, saya mencalonkan diri sebagai calon legislatif Dapil III Jawa Barat dan Alhamdulilah saya mendapat amanah ini dari Allah untuk mengemban tugas sebagai wakil rakyat,”paparnya.

Menurut Erik, secara rasional dirinya memiliki pilihan untuk masuk Parpol yang ada, namun secara emosional , terang Erik, hampir tidak punya pilihan. Artinya, kebersamaan yang telah terjalin saat menjadi tim sukses Wiranto secara emosional membuat dirinya tidak punya pilihan. ”Pertimbangan rasionalnya saya tertarik dengan konsep partai Hati Nurani, karena 15 tahun saya aktif di golkar, saya banyak menemukan perilaku-perilaku politik yang tidak terlalu sehat. Kalo pendapat orang politik itu kotor, kalo saya punya obsesi politik itu bisa bersih dan politik itu bisa bermoral,”katanya

Dia menambahkan, Partai Hanura memiliki konsep hati nurani yang berusaha memperbaiki hati nurani masyarakat Indonesia. “Sebenarnya tidak mudah untuk membuat politik yang beretika, yang bermoral karena politik itu identik dengan permainan kotor, fitnah, dan sejenisnya,”paparnya.

Erik mengatakan, politik merupakan proses kerja keras karena itu, dirinya tidak setuju kalau politik itu bisa ditempuh dengan jalan singkat, atau shortcut, melalui politik instan. “Anehnya sekali orang tiba-tiba muncul menjadi politikus dengan cara membangun popularitas melalui dengan media tanpa melakukan kerja politik, karena politik itu membutuhkan proses yang panjang,”katanya.

Ketertarikan Erik pada sektor pertanian membuat dirinya sangat kritis terhadap kebijakan yang berlawanan dengan kepentingan rakyat. Misalnya pada sektor pertanian, Erik menegaskan perlu adanya keterkaitan antara industri dengan pertanian. “Kita jangan menyerahkan industrialisasi kita kepada pasar bebas, kita nanti bisa menjadi tempat buangan sampah karena itu pemerintah harus mendirect investasi kepada program investasi yang menguntungkan buat kita,”paparnya.

Sementara khusus pupuk, Komisi IV DPR akan terus memperjuangkan subsidi bagi benih, pupuk organik maupun majemuk. “Kita akan terus melakukan evaluasi terhadap program subsidi yang telah dilakukan pemerintah karena masih banyak kelemahan yang harus segera diperbaiki,”katanya.

Menyinggung permasalahan kehutanan, Erik mengatakan harus ada audit kehutanan  seperti melakukan penataan konsep RTRWP (Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi). Konsep ini diperuntukkan apabila ada perubahan peruntukan di Provinsi, Kawasan hutan konservasi kita harus jelas berapa jumlahnya, hutan lindung kita berapa dan hutan produksi kita berapa, hal itu masih belum jelas sekarang ini,”tandasnya.

Selaku anggota Dewan, Erik mengharapkan Indonesia semakin sejahtera pada masa mendatang. Hal ini harus didorong oleh semua pihak termasuk wakil rakyat. “Seharusnya semua sub sistem negara ini untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Berbagai macam distorsi yang ada baik yang muncul dari perilaku moral politik yang tidak sehat termasuk di dalamnya kecenderungan korupsi, nepotisme, kolusi, harus betul-betul bisa di tekan,”katanya. (si,na)

 



Tmp/tgl. lahir: Jakarta/1964-04-30
Agama :Islam
Pendidikan :Universitas Indonesia 2004, Magister Perencanaan Kebijakan Publik
Universitas Padjadjaran 1983, Management
Daftar Profil Anggota Lainnya

 Top