Indonesia Didorong Jaga Perdamaian Laut China Selatan

16-01-2019 / KOMISI I
Anggota Komisi I DPR RI Supiadin Aris Saputra.Foto :Arief/Rni

 

 

Menyusul meningkatnya ketegangan yang terjadi di Laut China Selatan antara Tiongkok dengan Amerika Serikat (AS), Anggota Komisi I DPR RI Supiadin Aris Saputra mendesak Kementerian Luar Negeri agar memanfaatkan posisi Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjaga perdamaian di Laut China Selatan. Di lain sisi, Indonesia juga harus tegas dalam mempertahankan perairan Natuna.

 

Legislator Partai NasDem ini berharap ketegangan tersebut tidak membahayakan bagi wilayah perairan Indonesia, sehingga dapat menghindari konflik yang terjadi antara kedua negara besar tersebut. Untuk itu, ia mendorong agar kapal perang Indonesia patut bersiaga di setiap perbatasan yang berbenturan langsung dengan Laut China Selatan.

 

“Kita dalam posisi non-blok, kita dalam posisi tetap mempertahankan wilayah kita. Kita tidak akan melakukan satu manuver dan agresi yang keluar wilayah laut kita. Nah, tugas angkatan laut kita adalah bagaimana mempertahankan kedaulatan Indonesia di Laut Natuna itu sesuai dengan ketentuan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil. Zona ini yang wajib kita pertahankan,” tutur Supiadin di Gedung Nusantara II DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (16/1/2019).

 

Supiadin menilai apabila konflik ketegangan ini berujung kepada konfrontasi, maka dunia akan mencapai titik nadir dalam hal diplomasi internasional. Maka dari itu ia menegaskan posisi Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap DK PBB harus dapat dimaksimalkan dengan baik, sehingga ketegangan Laut China Selatan yang berbenturan langsung dengan Indonesia dapat dihindari.

 

“Jadi menurut saya, DK PBB turun segera agar situasi di Laut China Selatan ini tidak menjadi daerah konflik baru, karena bagaimanapun nanti Indonesia tidak bisa diam. Tidak juga bisa membiarkan China seperti di situ. Nah ini memang kita lihat ada sebuah tren gejala China mulai menunjukkan dominasinya, dia ingin menunjukkan juga kalau dia sebuah negara besar. nah ini yang kita prihatinkan,” tutur legislator dapil Jawa Barat ini.

 

Sebelumnya, China terus bersikap agresif di Laut China Selatan karena faktor persaingan kekuatan dengan Amerika Serikat di Kawasan Asia-Pasifik. Namun demikian selalu berbenturan dengan Negara Asean termasuk Indonesia yang berusaha mempertahankan Laut Natuna Utara sesuai dengan ketentuan Zona Ekonomi Eksklusif mereka.

 

Indonesia sendiri selama ini selalu menganggap klaim China tak sesuai dengan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Hukum Kelautan (UNCLOS) dan putusan Principal Component Analysis (PCA) pun mengamini pandangan tersebut. Selain itu, meski bukan termasuk negara yang ikut mengklaim wilayah di LCS, AS selama ini berupaya menekankan kebebasan bernavigasi di jalur perdagangan bernilai 5 trilun dolar Amerika Serikat (AS) per tahun itu agar tetap dianggap sebagai perairan internasional. (eps/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Seleksi Anggota KPI Harus Dilakukan Secara Tepat dan Transparan
19-05-2022 / KOMISI I
Panitia Seleksi Calon Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat telah membuka pendaftaran calon anggota baru pada 31 Maret-15 April 2022....
UAS Dideportasi, Legislator Komisi I Desak Dubes Singapura Berikan Klarifikasi
18-05-2022 / KOMISI I
Ustadz Abdul Somad (UAS) beserta anak istri dan rombongannya dideportasi dari Singapura pada Senin kemarin, (16/5/2022).UAS dideportasi dari Singapura dan...
Yan Permenas: Pelantikan Lima Pj Gubernur oleh Mendagri Tidak Perlu Diperdebatkan
13-05-2022 / KOMISI I
Anggota Komisi I DPR RI Yan Permenas Mandenas menilai pelantikan lima penjabat (Pj) gubernur oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito...
Komisi I Kutuk Keras Penembakan Jurnalis Al Jazeera oleh Israel
12-05-2022 / KOMISI I
Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid menyampaikan belasungkawanya yang mendalam kepada keluarga dan kerabat jurnalis Al Jazeera yang...