BUMN Asuransi Harus Jaga ‘Good Governance’

30-11-2020 / KOMISI VI

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Gde Sumanjaya Linggih saat memimpin Raker Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN Erick Thohir, di Ruang Rapat Komisi VI DPR RI, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (30/11/2020). Foto : Kresno/mr

 

Rapat Kerja Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN menekankan agar BUMN yang bergerak dalam bidang asuransi menyelenggarakan manajeman secara good governance. Manajeman BUMN Asuransi dituntut agar bertanggung jawab sejalan dengan prinsip pasar yang efisien, pencegahan korupsi menjalankan disiplin anggaran yang akuntable. Harapan tersebut mencuat saat pembahasan mengenai permasalahan Asuransi Jiwasraya, selain itu saat rapat turut dibahas berkenaan dengan roadmap BUMN dan restrukturisasi BUMN.

 

“Komisi VI DPR RI meminta kepada Kementerian BUMN untuk mengawasi kinerja BUMN Asuransi dan Penjaminan dengan tetap menjaga good governance," ungkap Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Gde Sumanjaya Linggih saat memimpin Raker Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN Erick Thohir, di Ruang Rapat Komisi VI DPR RI, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (30/11/2020).

 

Demer, sapaan akrabnya memaparkan, Komisi VI berharap permasalahan yang terjadi pada Jiwasraya tidak terulang kembali terutama kepada BUMN Asuransi maupun BUMN lainnya. Selain itu,  Komisi VI pun mendukung skema, konsep, dan timeline restrukturisasi dan penyelamatan polis Jiwasraya dan kebutuhan pendanaan yang dibutuhkan dari PMN pada UU APBN 2021 sekurang-kurangnya Rp 12 triliun dari alokasi Rp 20 triliun dan sesuai RAPBN 2022 sebesar Rp 10 triliun ditambah bunga surat utang, untuk pelunasan atas surat hutang yang diterbitkan oleh BPUI Indonesia Financial Group (IFG) sebagai bridging di tahun 2021.

 

Hal lain yang tak kalah penting adalah, Komisi VI meminta agar IFG yang telah resmi ditetapkan sebagai BUMN holding perasuransian dan penjaminan menjadi BUMN Asuransi memiliki daya saing tinggi dan visi ambisius untuk mensejajarkan diri dengan lembaga asuransi terbaik di dunia. IFG harus memastikan long term business sustainibility. Dengan demikian, ke depannya diharapkan sudah tidak diperlukan suntikan dana dari pemrintah namun justru dapat memberikan dividen untuk mendukung APBN.

 

"Komisi VI DPR RI meminta kepada Indonesia Financial Group (IFG) dan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) untuk menjalankan proses restrukturisasi secepatnya dan memitigasi semua kemungkinan risiko yang akan terjadi," ujar politisi dari Fraksi Golkar ini juga. (eko/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Martin Manurung Dorong Kementerian BUMN Terus Lakukan Pembenahan
19-10-2021 / KOMISI VI
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Martin Manurung mengatakan pembenahan di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus berjalan meski...
Anggota DPR Serap Aspirasi dari Pekerja Pembangkit Listrik PT SBA
18-10-2021 / KOMISI VI
Anggota Komisi VI DPR RI Rafli menemui 52 orang tenaga kerja Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PT Solusi Bangun...
Gunakan APBN, Nevi Zuairina Nilai Proyek Kereta Api Cepat Bermasalah
12-10-2021 / KOMISI VI
Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina menilai ada persoalan besar dari proyek kereta cepat Jakarta Bandung. Bila dirunut kembali...
Nevi Zuairina Soroti Pengangkatan Komisaris dan Direksi PT Aviasi Pariwisata Indonesia
10-10-2021 / KOMISI VI
Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina meminta Pengangkatan jajaran Komisaris dan Direksi pada PT Aviasi Pariwisata Indonesia agar memperhatikan...