Peringati 29 Tahun Genosida Khojaly, Parlemen Indonesia Sampaikan Duka Mendalam

24-02-2021 / B.K.S.A.P.

Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) Indonesia - Azerbaijan Muhammad Iqbal. Foto : Dok/Man

 

Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) Indonesia - Azerbaijan Muhammad Iqbal menyampaikan penghormatan untuk mengenang para korban pembantaian Khojaly, yang terjadi di wilayah Nagorno-Karabakh, Azerbaijan, 29 tahun lalu. Tragedi kemanusian tersebut menjadi sejarah kelam konflik Armenia dan Azerbaijan.

 

“GKSB memandang pembantaian Khojaly sebagai luka mendalam sepanjang sejarah kemanusiaan, sehingga menekankan bahwa siapapun yang bertanggung jawab terhadap genosida Khojaly harus dibawa keadilan," kata Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI itu dalam siaran persnya, Rabu (24/2/2021).

 

Pada awal 1988, Armenia memulai tindakan agresif mereka terhadap Azerbaijan untuk memisahkan Nagorno-Karabakh dari Azerbaijan. Kemudian pada 25 dan 26 Februari 1992, terjadi pembantaian terhadap penduduk etnis Azerbaijan di Kota Khojaly. Sebanyak 613 penduduk tewas, termasuk 106 perempuan, 63 anak-anak, dan 70 lansia. Ratusan orang terluka parah dan 1.275 penduduk tertawan sebagai akibat kejadian tersebut.

 

“Dengan penuh simpati dan duka mendalam, Parlemen Indonesia menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada korban. GKSB berharap Tuhan mengampuni mereka yang telah kehilangan nyawa, serta berbelasungkawa kepada keluarga dan masyarakat Azerbaijan yang berduka,” ungkap Iqbal.

 

Peringatan 29 tahun tragedi genosida Khojaly harus dimaknai sebagai momentum untuk memulai kembali usaha perdamaian internasional untuk menyelesaikan konflik di wilayah Nagorno-Karabakh antara Amenia-Azerbaijan. Untuk itu, Armenia didesak untuk mematuhi Resolusi Keamanan PBB 822, 853, 874 dan 884 dengan menarik seluruh angkatan bersenjatanya dari wilayah Azerbaijan serta memulangkan satu juta pengungsi Azerbaijan.

 

“GKSB DPR menganggap penting untuk mengenang korban yang kehilangan nyawa akibat pembantaian Khojaly, seraya mengingat tragedi yang mengerikan tersebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan yang tidak boleh terjadi kembali di bagian dunia manapun. Tragedi tersebut harus menjadi pengingat akan nilai perdamaian," tutup politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut. (alw/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
DPR Dorong Sinergi Akademisi dan Pemprov dalam Diplomasi Internasional
09-04-2021 / B.K.S.A.P.
Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI mengajak Perguruan Tinggi untuk turut serta dengan pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi...
BKSAP DPR Bangun Sinergi Diplomasi Parlemen di Kampus
09-04-2021 / B.K.S.A.P.
Kampus dan mahasiswa merupakan cikal bakal lahirnya demokrasi di Republik Indonesia melalui proses reformasi yang legendaris tahun 1998 silam. Wakil...
Perkuat Hubungan Antar Parlemen, DPR Kunjungi Parlemen Turki
07-04-2021 / B.K.S.A.P.
Untuk menunjukkan ikhtiar DPR RI dalam memperkuat hubungan yang menyeluruh antara Parlemen Indonesia dengan Parlemen Turki, Delegasi Grup Kerja Sama...
Diplomasi Parlemen Menambah Ruang Diplomasi Indonesia
07-04-2021 / B.K.S.A.P.
Keberadaan diplomasi parlemen menambah ruang diplomasi dalam merespon isu-isu internasional untuk kepentingan nasional. Ini bagian dari diplomasi total Indonesia. Ketua...