Komisi IX Dukung Pengembangan Vaksin Buatan Dalam Negeri

12-03-2021 / KOMISI IX

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Laka Lena saat rapat kerja Komisi IX DPR RI dengan Kementerian Kesehatan, Menristek/Kepala BRIN, Kepala BPOM, Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM), membahas pengembangan Vaksin Merah Putih dan Vaksin Nusantara, Rabu (10/3/2021). Foto: Azka/Man

 

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Laka Lena mendukung percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 termasuk pengembangan kandidat Vaksin Nusantara.

 

Hal tersebut disampaikan Melki usai rapat kerja Komisi IX DPR RI dengan jajaran Kementerian Kesehatan, Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro, Kepala BPOM, Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Letjen TNI (Purn) Prof. Dr. dr Terawan Agus Putranto dan Prof. DR. C. A Nidom, drh, MS., membahas pengembangan Vaksin Merah Putih dan Vaksin Nusantara, Rabu (10/3/2021).

 

Menurut Melki, mendukung pengembangan obat dan vaksin adalah satu langkah mewujudkan kemandirian di bidang farmasi yang juga untuk mempercepat akses dan ketersediaan obat dan vaksin yang dibutuhkan dalam masa pandemik.

 

“Untuk itu, Kemenkes dan Badan POM perlu memiliki political will dalam mendukung pengembangan vaksin dalam negeri (Vaksin Merah Putih dan Vaksin Nusantara-red) agar prosesnya sesuai dengan standar dan persyaratan Good Laboratory Practice (GLP), Good Manufacturing Practice (GMP) dan Good Clinical Practice (GCP) untuk memastikan khasiat, mutu dan keamanannya,” ujarnya

 

Selain itu, pihaknya juga mendesak Kemenkes dan Badan POM untuk berkoordinasi dengan Kemenristek/BRIN untuk terus mendukung dan melakukan pendampingan terhadap pengembangan kandidat vaksin buatan dalam negeri. “Dengan tetap memperhatikan persyaratan wajib dalam proses pengembangan vaksin dan sesuai dengan peraturan perundangan yang ada demi memastikan khasiat, mutu, dan keamanannya,” pesan Melki.

 

Kepada Badan POM, Melki meminta untuk segera mengeluarkan persetujuan pelaksanaan uji klinis (PPUK) fase 2 bagi kandidat Vaksin Nusantara agar penelitian ini dapat segera dituntaskan selambat-lambatnya tanggal 17 Maret 2021. "Jika sampai pada batas waktu yang ditentukan tidak selesai, maka Komisi IX DPR akan membentuk tim mediasi untuk menyamakan persepsi dan pemahaman antara Tim Peneliti Vaksin Nusantara dan Badan POM," tegasnya.

 

Terakhir, Legislator Fraksi Partai Golkar itu meminta tim peneliti vaksin nusantara untuk menyampaikan perkembangan hasil uji klinis fase 1 kepada publik, guna menghindari kesimpangsiuran informasi terkait hasil uji klinis fase 1 kandidat Vaksin Nusantara. "Kami juga minta Badan Litbangkes Kemenkes untuk terus memberi dukungan anggaran kepada peneliti kandidat Vaksin Nusantara," tutupnya. (rnm/es)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Kurniasih Mufidayati Minta Jaringan Penipu PMI Ilegal Dibongkar
06-10-2022 / KOMISI IX
[Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Kurniasih Mufidayati. Foto: Dok/Man} Belum lama ini Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) bersama Polda...
Soroti Maraknya PHK pada Startup, Kurniasih Mufidayati: Ini Akan Semakin Memberatkan Pekerja
04-10-2022 / KOMISI IX
Badai PHK startup kembali terjadi. Kini dalam waktu berdekatan setidaknya tiga startup yang salah satunya berstatus 'Decacorn' terpaksa merumahkan karyawannya....
Pemerintah Harus Pastikan Faskes Berikan Perawatan Maksimal untuk Korban Kanjuruhan
04-10-2022 / KOMISI IX
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah memberikan pelayanan perawatan terbaik untuk korban tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa...
Upayakan PPPK Tenaga Perawat, Komisi IX Serap Aspirasi DPRD Jawa Timur
04-10-2022 / KOMISI IX
Komisi IX DPR RI menerima kunjungan Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur guna membahas kebijakan pengadaan dan penempatan tenaga Kesehatan...