Hafisz Tohir: Sawit Jadi Masa Depan Bangsa

07-04-2021 / B.K.S.A.P.

Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Achmad Hafisz Tohir saat mengikuti BKSAP Day di Yogyakarta, Senin (5/4/2021). Foto: Husen/nvl

 

Di tengah proyeksi pertumbuhan populasi dunia yang terus meningkat dan kian menyempitnya lahan pertanian, energi terbarukan semakin menjadi kebutuhan mendesak. Energi terbarukan itu salah satunya dihasilkan dari produk kelapa sawit. Sawit tidak hanya jadi primadona, bahkan jadi masa depan bangsa.

 

“Tidak ada negara lain sebaik negara kita pertumbuhan sawitnya. Kita punya 12 jam sinar matahari, 365 hari, dan tidak ada musim dingin. Maka sawit tumbuh dengan baik. Kita produsen sawit terbesar di dunia. Tantangannya adalah kampanye negatif terhadap produk sawit kita,” kata Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Achmad Hafisz Tohir usai mengikuti BKSAP Day di Yogyakarta, Senin (5/4/2021).

 

Tantangan datang dari kampanye negatif Uni Eropa yang selalu menyuarakan isu lingkungan terhadap produk sawit Indonesia. Menurut Hafisz, isu lingkungan yang disuarakan Uni Eropa dinilai tidak adil. Dulu, memang petani Indonesia menebang pohon untuk menanam sawit. Tapi, kini lahan-lahan tidak produktif diubah menjadi perkebunan sawit, sehingga bernilai ekonomi tinggi dan lingkungan pun terjaga.

 

Bila isu lingkungan, lanjut Anggota Komisi XI DPR RI ini, dikaitkan dengan masa lalu, maka Indonesia juga bisa menggugat negara-negara Eropa yang dulu menggunduli hutannya untuk membangun ibu kota. “Sekarang orang menanam sawit tidak lagi membakar lahan. Zaman sudah berubah. Kalau kita kembali ke masa lalu, kita juga bisa protes pada Inggris dan Prancis. Kenapa Paris hutannya digunduli untuk membangun kota indah Paris. Begitu juga London dan Washington DC. Yang sudah berlalu ya sudah. Kita bicara ke depan,” paparnya.

 

Ditambahkan legislator dapil Sumatera Selatan I ini, Uni Eropa harus membuktikan bahwa perkebunan sawit di Indonesia merusak lingkungan. Justru, katanya, 43 persen lahan sawit itu berada di daerah terlantar yang kemudian diperbaiki ekosistemnya. Jadilah kini lahan sawit. Tidak ada yang rusak, malah lingkungan membaik. "Ini harus kita kampanyekan kepada negara-negara sahabat. Jangan sampai ada yang mengatakan produk sawit mengganggu karbonisasi dunia. Ini harus kita jelaskan kepada dunia," seru politisi PAN itu.

 

Di sinilah BKSAP DPR intens melakukan diplomasi parlemen kepada negara-negara sahabat terutama Uni Eropa. Sawit di Indonesia sudah menjadi masa depan bangsa di sektor perkebunan dan industri. Sawit mampu menggantikan energi fosil yang kini dikenal dengan B30 berupa BBM jenis solar. "Sawit di Indonesia sudah bersahabat dengan lingkungan. Sudah menganut tata lingkungan dan tata kelola yang baik. Bahkan, kita sudah punya konsultan untuk memberi sertifikasi produk sawit yang layak untuk dikonsumsi," jelas Hafisz. (mh/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Indonesia Komitmen Tingkatkan Kerja Sama dengan Brazil
05-10-2021 / B.K.S.A.P.
Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) Parlemen Indonesia - Brazil Luluk Nur Hamidah mengatakan Indonesia dan Brazil akan terus meningkatkan...
Rachmat Gobel Tegaskan Komitmen Penuh DPR terhadap SDGs Parlemen Global
02-10-2021 / B.K.S.A.P.
Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel menegaskan komitmen penuh DPR RI terhadapSustainable Development Goals(SDGs) melalui fungsi-fungsinya. Gobel juga mengajak semua...
DPR Sukses Galang Dukungan Parlemen Dunia Percepat Capaian SDGs
02-10-2021 / B.K.S.A.P.
DPR RI sukses menggalang dukungan global untuk mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan pemulihan pasca-pandemi Covid-19.Melalui forumFirst Global Parliamentary...
DPR Tekankan Pentingnya Rencana Global Akhiri Pandemi di Pertemuan Parlemen Dunia
28-09-2021 / B.K.S.A.P.
Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharanisaat membukaThe First Global Parliamentary Meeting On Achieving The Sustainable Development Goals(SDGs) yang bertajuk...