DPR Tekankan Pentingnya Rencana Global Akhiri Pandemi di Pertemuan Parlemen Dunia

28-09-2021 / B.K.S.A.P.

Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani saat membuka The First Global Parliamentary Meeting On Achieving The Sustainable Development Goals (SDGs) yang bertajuk ‘Mengubah Tantangan Pandemi Covid-19 Menjadi Peluang Mencapai SDGs’. Foto: Kresno/rni

 

Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani menekankan pentingnya Rencana Global untuk mengakhiri Pandemi Covid-19. Mengingat, Puan menyatakan pandemi telah menyebabkan krisis kemanusiaan dimana tercatat lebih dari 124 juta penduduk dunia masuk ke garis kemiskinan dan 131 juta orang terancam kelaparan. 

 

Pemaparan tersebut disampaikan Puan saat membuka The First Global Parliamentary Meeting On Achieving The Sustainable Development Goals (SDGs) yang bertajuk ‘Mengubah Tantangan Pandemi Covid-19 Menjadi Peluang Mencapai SDGs’, di Jakarta, Selasa (28/9/2021) yang diselenggarakan oleh DPR RI dan Inter-Parliamentary Union (IPU) secara fisik dan virtual. 

 

“Dalam upaya mendorong pencapaian SDGs, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, kita perlu mendorong percepatan pemulihan pandemi. Dunia memerlukan Rencana Global untuk mengakhiri pandemi atau Global Plan to End the Pandemic, termasuk global vaccination roadmap,” ujar politisi PDI-Perjuangan itu. 

 

Puan menilai hal tersebut dibutuhkan karena berdasarkan data World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia dari 5,7 miliar vaksin yang telah disuntikkan di seluruh dunia sebesar 73 persen di antaranya hanya pada 10 negara. Bahkan, ungkap Puan, capaian vaksinasi di Afrika masih sangat kecil yakni kurang dari 2 persen.

 

“Namun sebetulnya jika 5,7 miliar vaksin disuntikkan merata kepada 7,8 miliar penduduk dunia, maka 36 persen penduduk dunia sudah mendapat 2 kali vaksin. Sehingga, roadmap ini berguna untuk mencapai distribusi vaksin secara adil dan merata,” jelas Puan sembari menambahkan road map tersebut dapat dimulai dari dose sharing (berbagi vaksin, termasuk melalui Covid-19 Vaccines Global Access (COVAX) facility. 

 

Langkah berikutnya, tegas Puan, adalah dengan peningkatan produksi vaksin global, membantu negara berkembang membuat pusat produksi vaksin, teknologi transfer dan pengecualian hak kekayaan intelektual, serta penghapusan diskriminasi vaksin. Langkah kedua, perlunya masyarakat internasional melakukan koordinasi kebijakan ekonomi saat pemulihan ekonomi global. 

 

Selanjutnya, Puan menegaskan masyarakat internasional juga dinilai perlu berkoordinasi untuk membantu negara berkembang mengatasi dampak sosial dari pandemi seperti ketimpangan, kelaparan, pendidikan, dan kesetaraan gender. "Negara maju harus membantu negara miskin dalam pencapaian SDGs," tukas Puan. 

 

Seperti diketahui, pertemuan parlemen dunia itu digelar secara virtual dari Jakarta selama 3 hari pada 28-30 September 2021 dengan mengundang 179 delegasi parlemen IPU. Kegiatan bertujuan menguatkan komitmen, tindakan dan kerja sama untuk mencapai solusi berkelanjutan di saat kondisi krisis akibat pandemi Covid-19 yang memukul sektor kesehatan, sosial-ekonomi, dan lingkungan. (pun/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Puteri Komarudin Ajak Parlemen Dunia Pastikan Proses Legislasi yang Responsif Gender
30-11-2021 / B.K.S.A.P.
Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Puteri Anetta Komarudin mendorong adanya reformasi hukum yang responsif gender guna...
DPR Minta Dunia Jangan Lupakan Palestina
29-11-2021 / B.K.S.A.P.
Situasi kemanusiaan warga Palestina di wilayah pendudukan dinilai semakin memburuk. Laporan dari PBB maupun berbagai laporan badan-badan independen menyatakan bahwa...
Pertemuan ASEP ke-11 Diharap Satukan Visi Penanganan Covid-19
19-11-2021 / B.K.S.A.P.
Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Muslim berharap, terselenggaranya pertemuan Asia-Europe Parliamentary Partnership (ASEP) atau Kemitraan Parlemen Asia-Eropa ke-11...
Atasi Perubahan Iklim Dunia, Penggunaan EBT Dinilai Penting
17-11-2021 / B.K.S.A.P.
Perubahan iklim telah menjadi perhatian semua orang dan negara-negara dalam beberapa dekade terakhir, karena iklim dalam keadaan darurat akibat bencana...