Diah Pitaloka: RUU TPKS Perjuangkan Ruang Bagi Perempuan

27-11-2021 / LAIN-LAIN

Anggota DPR RI Diah Pitaloka saat menjadi pembicara pada diskusi Media DPR RI dengan tema ‘Stop Kekerasan Seksual di Sekitar Kita!’. Foto: Runi/rni

 

Anggota DPR RI Diah Pitaloka mengungkapkan persentase kekerasan seksual pada perempuan telah mencapai 90 persen. Hal ini yang menyebabkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) lebih identik kepada perempuan serta menimbulkan aksi afirmatif untuk memperjuangkan ruang politik bagi perempuan dalam memperjuangkan nasib serta martabatnya. 

 

“Ya tentu dengan semangat affirmative action yang memperjuangkan ruang politik bagi perempuan termasuk di lembaga legislatif ini dan kita merasa ini bagian dari dorongan moril kita untuk memperjuangkan nasib kaum perempuan termasuk di gedung DPR/MPR ini,” ucap Diah dalam Diskusi Media DPR RI dengan tema ‘Stop Kekerasan Seksual di Sekitar Kita!’ di Ruang Abdul Muis DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (26/11/2021). 

 

Diah mengatakan RUU TPKS ini merupakan hal yang tidak mudah. Ia menilai, RUU ini menantang paradigma mainstream yang menjadi mayoritas di dalam masyarakat yang mengakibatkan konteks hukum, sosiokultural, sosial budaya cenderung menakuti korban kekerasan seksual. 

 

Oleh karena itu salah satu agenda penting dalam RUU TPKS ini berbicara mengenai pencegahan yang di dalamnya berisikan pendidikan. “Karena begitu kuatnya pandangan sosial yang katanya patriarki, karena masih melihat perempuan memiliki tempat berbeda dengan laki-laki dan ini cukup kental di lingkup masyarakat,” terang Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu.

 

Dirinya menegaskan RUU ini tidak hanya sebagai gerakan normatif, tetapi terbaca dan terasa gerakan sosialnya di masyarakat dalam membongkar paradigma patriarki itu. “Jadi kita berharap kesadaran publik yang menjadi gerakan sosial itu bisa merubah paradigma hukum,” tandas Anggota Komisi VIII DPR RI itu. 

 

Meski RUU TPKS masih terkendala sejumlah perdebatan antar-fraksi di DPR, Diah optimistis RUU ini bisa disahkan. Apalagi semangat anggota DPR periode ini terkait RUU TPKS terbilang lebih baik. “Kalau RUU ini gagal disahkan, bagaimana nasib korban-korban atau kasus-kasus kekerasan seksual. Kita harus merespons lewat produk hukum. Jangan sampai banyaknya kasus kekerasan seksual menjadi wajah peradaban Indonesia,” ujar Diah.

 

Ia berharap, RUU TPKS ini dalam kerangka serta kehidupan bernegara mampu untuk terus mengedepankan perubahan mengenai konstruksi pikir sosial budaya di masyarakat. “Kita kedepankan dalam melakukan perubahan yang hari ini masih melahirkan ketidakadilan terutama bagi sebagian besar  kaum perempuan, sesuai dari data yang kita terima,” tutupnya. (mld,rnm/es)

 

SAKSIKAN VIDEO TERKAIT : DISKUSI ‘STOP KEKERASAN SEKSUAL DI SEKITAR KITA!’



  • SHARES
BERITA TERKAIT
PIA DPR Kembali Gelar Pengajian dan Kajian Bulanan
25-01-2022 / LAIN-LAIN
Persaudaraan Isteri Anggota (PIA) DPR RI kembali menggelar pengajian dan kajian rutin bulanan, setelah absen selama kurang lebih dua tahun...
Saniatul Lativa Salurkan Bantuan Rp1,8 Miliar di Jambi
17-01-2022 / LAIN-LAIN
Anggota Komisi IX DPR RI Saniatul Lativa menyalurkan bantuan Tenaga Kerja Mandiri (TKM) senilai Rp1,8 miliar di Provinsi Jambi pada...
Perayaan Natal Parlemen Momentum Bangun Persaudaraan Antar Umat
13-01-2022 / LAIN-LAIN
Anggota DPR RI Lamhot Sinaga menyatakan Perayaan Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 MPR, DPR dan DPD RI merupakan kegiatan...
‘Kuliner UMKM’ pada Perayaan Natal Bersama Wujud Kepedulian Parlemen Terhadap UMKM
12-01-2022 / LAIN-LAIN
Anggota DPR RI Lamhot Sinaga menyatakan rangkaian Perayaan Natal Bersama MPR, DPR dan DPD RI tidak hanya sebatas rangkaian ibadah...