Santoso Ajak Parpol Buka Kesempatan Calon Pemimpin yang Beragam

06-12-2021 / KOMISI III

Anggota Komisi III DPR RI Santoso. Foto: Dok/Man

 

Anggota Komisi III DPR RI Santoso mengajak pimpinan partai politik (parpol) dengan membuka ruang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk terlibat dalam pesta politik di Indonesia mendatang, guna menghapus politik identitas yang terjadi di masyarakat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan pada rakyat untuk memilih pemimpin dengan pilihan yang banyak dan beragam.

 

“Saya mengajak kepada pimpinan partai, di 2024 mendatang jangan tercipta lagi politik identitas, sehingga hal itu tetap bertahan. Jadi berikan kesempatan pada rakyat untuk memilih pemimpinnya yang pilihannya banyak, sehingga tidak terkebiri. Sehingga tidak tercipta pengkotakan semacam ini,” terang Santoso dalam RDPU Komisi III DPR RI  dengan perwakilan Ahlussunnah Wal Jamaah dalam rangka menerima masukan tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Senin (6/11/2021).

 

Politisi Partai Demokrat pun menilai, keadaan agama islam yang diidentikkan dengan teroris tersebut juga dipengaruhi situasi politik identitas yang terjadi sejak 2014 lalu di Indonesia. Kondisi tersebut, menurutnya, membentuk kubu yang saling tarik menarik sebagai akibat dari politik identitas yang terjadi masyarakat.

 

“Politik tersebut (politik identitas) begitu mengental pada pilpres 2014 dan 2019 lalu. Kenapa? Dengan dua kutub kekuatan, yang satu didukung oleh golongan apa dan di golongan satunya didukung golongan lainnya, sehingga pasca-Pilpres pun terjadi kekuatan tarik menarik dari kedua kutub itu,” urai Santoso.

 

Tak hanya itu, lanjut Santoso, kejadian yang terjadi saat ini merupakan dampak dari konflik Amerika Serikat dari Afganistan dan konflik dengan kehadiran Osama Bin Laden di Timur Tengah. Dengan kejadian tersebut, di Indonesia sendiri berpengaruh pada pandangan masyarakat,sehingga timbul istilah terorisme.

 

“Namun (di Indonesia) diterima secara negatif oleh mereka yang melihat keberadaan islam di Indonesia. Untuk itulah dalam situasi ini, dengan mundurnya Amerika, tidak lagi fokus pada penanganan terorisme, tidak lagi fokus pada ajaran ajaran, apakah islam atau lainnya yang dianggap frontal atau brutal,” sambung Santoso.

 

Dirinya berharap, pada masa Pilpres mendatang, akan ada banyak calon pemimpin dan wakil pemimpin yang banyak dan beragam, sehingga masyarakat memiliki berbagai pilihan yang lebih tepat yang kemudian politik identitas yang saling tarik menarik, bahkan saling berkonfrontasi dapat diminimalkan di masa mendatang.

 

“Saya harapkan mari kita sama sama berdoa, agar para ulama, para habaib tidak masuk  di dalam konflik politik identitas itu. Meskipun kita memiliki hak politik siapa yang menjadi calon kita, baik legislatif maupun presiden. Kedewasaan inilah yang kita butuhkan,” tutup legislator dapil DKI Jakarta III tersebut. (hal/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Komisi III DPR Apresiasi Kapolri Tetapkan Irjen FS Tersangka Kasus Brigadir J
10-08-2022 / KOMISI III
Komisi III DPR RI mengapresiasi kerja Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan jajaran Polri yang telah menetapkan mantan Kadiv Propam...
Anggota DPR Nilai Polri Telah Tegas Tangani Kasus Brigadir J
10-08-2022 / KOMISI III
Anggota Komisi III DPR RI Eva Yuliana mengapresiasi Kepala Kepolisian Republik Indonesi (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam penanganan kasus...
Revisi UU Narkotika Fokus Tindak Hukum BandarĀ 
10-08-2022 / KOMISI III
Anggota Komisi III DPR RI Taufik Basari mengungkapkan revisi Undang-Undang (UU) Narkotika akan dikhususkan membuat suatu sistem baru terhadap penanganan...
Demo Kenaikan Tarif TN Komodo, Benny K Harman Imbau Aparat Tidak Hadapi Dengan Kekerasan
03-08-2022 / KOMISI III
Unjuk rasa menentang kenaikan tarif masuk Taman Nasional Komodo (TNK) masih terjadi. Kali ini demonstrasi dilakukan oleh warga asli Pulau...