Lamhot Sinaga: Biofarma Tulang Punggung Pertahanan Kesehatan Indonesia

22-12-2021 / KOMISI VII

Anggota Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga saat mengikuti Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI ke PT Bio Farma di Bandung, Jawa Barat, Senin (20/12/2021). Foto: Erman/Man

 

Anggota Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga mengatakan, saat ini Industri Farmasi Indonesia khususnya BUMN Farmasi sudah jauh tertinggal dibandingkan dengan farmasi swasta, apalagi dengan industri farmasi global. Dirinya mendorong agar PT Bio Farma (Persero) yang saat ini menjadi holding, mengejar ketertinggalan itu sehingga menjadi tulang punggung pertahanan kesehatan Indonesia.

 

“Saya melihat, Bio Farma ini kan usianya sudah ratusan tahun, namun kalah bersaing dengan industri farmasi swasta. Nah kalau holding Bio Farma ini, juga BUMN Farmasi tidak bisa mengejar ketertinggalan, maka kesehatan republik ini akan sangat terganggu ke depannya. Itu yang akan kita dorong," ujar Lamhot saat mengikuti Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI ke PT Bio Farma di Bandung, Jawa Barat, Senin (20/12/2021),

 

Politisi Fraksi Partai Golkar ini mengungkapkan, ada dua hal yang harus dilakukan oleh Bio Farma untuk mengejar ketertinggalannya. Pertama, ujarnya, Bio Farma perlu mengembangkan industri farmasi berbasis herbal. "Pada saat ini dunia sudah mengarah ke obat-obatan herbal. Karena, ketika kita menggunakan obat-obat berbasis herbal, efek sampingnya sangat minim dan tidak menimbulkan penyakit lainnya," terang Lamhot.

 

Selanjutnya, yang perlu didorong kepada Bio Farma agar bisa mengurangi importasi bahan baku obat. Mengingat, industri farmasi sangat bergantung kepada bahan baku impor. Dari data yang didapat Lamhot, sekitar 95 persen bahan baku yang digunakan industri farmasi dalam negeri adalah impor.

 

Wakil rakyat dapil Sumatera Utara II ini mendorong agar Bio Farma membuat perencanaan terkait industri farmasi yang raw materialnya berasal dan diproduksi di dalam negeri. Hal ini diyakini Lamhot dapat menutupi kekurangan bahan baku yang kerap dikeluhkan oleh industri farmasi dalam negeri.

 

"Nah sepanjang kita mempunyai ketergantungan terhadap importasi bahan baku, maka farmasi kita akan kesulitan dan sangat tidak dibolehkan, karena kedaulatan kesehatan kita tidak akan tercapai kalau masih mempunyai ketergantungan terhadap importasi. Ke depan saya ingin mendorong kedua hal tersebut (industri herbal dan mengurangi importasi baham baku)," pungkasnya. (es)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Negara Harus Lebih Cepat Respon Perkembangan Industri
19-05-2022 / KOMISI VII
Anggota Komisi VII DPR RI Nurhasan Zaidi menekankan negara harus hadir dengan lebih cepat merespon perkembangan dan tumbuhnya industri yang...
Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi, Komisi VII Dorong Pembangunan Kawasan Industri Manufaktur
19-05-2022 / KOMISI VII
Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto mendorong pembangunan kawasan industri manufaktur yang lebih baik, tidak hanya meningkat secara kuantitas,...
Legislator Komisi VII Minta Pemerintah Selamatkan Petani Sawit Rakyat
18-05-2022 / KOMISI VII
Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mengingatkan kebijakan pemerintah melarang ekspor CPO dan turunannya harus diikuti dengan kebijakan pembelian Tandan...
Anggota DPR Desak Pemerintah Investigasi Kebakaran Kilang Minyak Pertamina
17-05-2022 / KOMISI VII
Anggota Komisi VII DPR RI Diah Nurwitasari menyesalkan kembali terbakarnya kilang minyak Pertamina, seperti yang baru terjadi di Balikpapan akhir-akhir...