Dyah Roro: Ekspor Semen Solusi Atasi ‘Oversupply’

26-01-2022 / KOMISI VII

Anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII dengan Dirjen IKFT Kementerian Perindustrian, Dirjen Minerba Kementerian ESDM dan Ketum Asosiasi Semen Indonesia, di Gedung Nusantara I, Senayan, Selasa, (25/1/2022). Foto: Munchen/Man

 

Anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti menawarkan beberapa solusi terkait adanya kelebihan pasokan atau oversupply pada industri semen. Ekspansi pasar semen ke luar negeri atau mengekspor produk material bangunan itu jadi solusi di tengah situasi pasar saat ini. Ia mengatakan bahwa dengan mengekspor sebagian produksi smen ke beberapa negara. Pada tahun 2021 produksi semen mencapai kurang lebih 47 ton dengan ditrisasi sebesar 58 persen yang mengakibatkan berlebihnya produksi semen.

 

“Salah satu solusinya adalah kita mengekspor ke beberapa negara. Namun semenjak kasus covid ini ternyata sangat berpengaruh terhadap ketersediaan batubara bagi industri semen secara keseluruhan,” ujar Dyah Roro dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII dengan Dirjen IKFT Kementerian Perindustrian, Dirjen Minerba Kementerian ESDM dan Ketum Asosiasi Semen Indonesia, di Gedung Nusantara I, Senayan, Selasa, (25/1/2022).

 

Seperti diketahui, saat ini industri semen masih mengalami kondisi oversupply mencapai 47 persen. Di sisi lain, utilisasi industri semen dinilai sudah mulai meningkat pada tahun 2021 meskipun belum menyamai kondisi tahun 2019. Pada tahun 2019 utilisasi mencapai 65 persen, kemudian turun menjadi 56 persen di tahun 2020 dan kembali meningkat menjadi 58 persen pada 2021 lalu.

 

Selain dari ekspor, Dyah Roro juga memberikan dua faktor lainnya untuk mencegah kelebihan dari industry semen. Seperti dari segi perencanaan suplai serta kebutuhan ataupun permintaan dari konsumen. “Saya rasa ada dua faktor yang bisa kita fokuskan baik itu dari segi perencanaan suplainya, kemudian juga kebutuhan ataupun kondisi permintaan, kurang lebih seperti itu,” ucap politisi Partai Golkar itu.

 

Selanjutnya ia menanyakan komitmen pemerintah terhadap Paris Agreement dengan kesepakatan pengurangan emisi kurang lebih sebesar 29 persen.  Sebab, salah satu bahan baku utama yang dibutuhkan industri semen adalah batubara. Dengan adanya oversupply, maka emisi karbon atas batubara akan terus meningkat.

 

“Bagaimana komitmen terhadap Paris Agreement dengan pengurangan emisi, baik itu sebesar 29 persen dan lain sebagainya," tanya legislator dapil Jawa Timur X tersebut. Untuk itu ia mengimbau agar dapat dipertimbangkan potensi penggunaan energi terbarukan dalam kondisi-kondisi itu. (dty,ah/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
BBM Bersubsidi Butuh Pengawasan Ketat
30-06-2022 / KOMISI VII
Penerapan aplikasi MyPertamina untuk mengakses BBM bersubsidi jenis solar dan pertalite butuh pengawasan ketat. Kebocoran BBM bersubsidi ke industri atau...
Bambang Hermanto: Penggunaan MyPertamina untuk Hindari Kebocoran Subsidi
29-06-2022 / KOMISI VII
Rencana penggunaan aplikasi MyPertamina untuk mengakses solar dan Pertalite bagi masyarakat ditujukan untuk menutup kebocoran subsidi bahan bakar minyak (BBM)...
EBET Kini Dibutuhkan untuk Menunjang Pembangunan
29-06-2022 / KOMISI VII
Anggota Komisi VII DPR RI Sartono Hutomo mengatakan, Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET) kini menjadi tren untuk menunjang pembangunan...
Ramson Siagian Dorong Pertamina Kembangkan Pengolahan Gas Elpiji
28-06-2022 / KOMISI VII
Anggota Komisi VII DPR RI Ramson Siagian melakukan kunjungan kerja bersama tim di Komisi VII meninjau pembangunan 'Refinery Development Master...