Djohar Arifin Minta Penguatan Perguruan Tinggi Sebelum Menuju ‘World Class University’

18-05-2022 / KOMISI X

Anggota Komisi X DPR RI Djohar Arifin Husin dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Aliansi Mahasiswa Doktor Seluruh Indonesia (AMDI) 2018, di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (18/5/2022). Foto: Devi/Man

 

Anggota Komisi X DPR RI Djohar Arifin Husin meminta perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat kampusnya dengan membantu membiayai studi dosen-dosennya sebelum menuju world class. Menurutnya untuk meningkatkan program studi pada perguruan tinggi diperlukan dosen-dosen S3 dan guru besar sebanyak-banyaknya. Dengan begitu, program studi dalam perguruan tinggi akan semakin tinggi nilainya.

 

“Nah, kita ingin menginginkan perguruan tinggi kita di Indonesia word class. Itu kan yang suka ngomong para petinggi-petinggi ini kan, jadi word class. Saya pikir, udahlah enggak usah dulu, perkuat saja kampus-kampusnya, perkuat perguruan tingginya, perbanyak (dosen) S3-ya untuk bisa cepat selesai dengan segala apa fasilitas yang ada. Itu yang harus dikerjakan dulu,” ujar Djohar dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Aliansi Mahasiswa Doktor Seluruh Indonesia (AMDI) 2018, di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (18/5/2022).

 

Politisi Partai Gerindra ini berharap ada keterlibatan dari perguruan tinggi untuk turut membiayai studi dosen-dosennya. “Jangan biarkan staf pengajar itu berjuang sendiri, nanti yang menikmati kan perguruan tingginya. Jika doktornya sudah ada maka perguruan tingginya dapat nilai tambahan. jadi perguruan tinggi ikut membiayai dan pemerintah membiayai jadi beban-beban bisa di ringankan oleh para dosen-dosen kita ini,” harapnya.

 

Selain itu, mengenai jurnal terindeks Scopus yang juga menjadi aspirasi AMDI 2018 lantaran menjadi penghalang kelulusan mahasiswa doktoral dan biayanya yang mahal, Komisi X DPR RI sudah pernah menyampaikan hal ini kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) dan Mendikbudristek pun menyepakati untuk menghapusnya. Ia pun menambahkan jika scopus terlalu merugikan karena karena membuang banyak biaya dan hasil penelitian pada orang lain.

 

“Itu sudah kita sepakati sebenarnya dengan Mendikbudristek dan kembangkan yang kita punya sendiri, jurnal kita ada Sinta, ada apa-apa lagi, bikin lagi. Ya kembangkan di situ ya, enggak ada untungnya bagi negara ini, kita tunduk kepada Scopus malah rugi besar. Pertama uang kita serahkan sama mereka, kedua hasil kita serahkan mereka,” tandas legislator dapil Sumatera Utara III tersebut. (gal/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Komisi X Desak Pemerintah Selesaikan Masalah Pengangkatan Guru Honorer
04-08-2022 / KOMISI X
Ketua Komisi XDPR RISyaiful Hudadesak pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan dalam pengangkatan guru honorer menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia....
Dede Yusuf: Hingga 2024 Mendatang, Indonesia Butuh 1 Juta Guru
04-08-2022 / KOMISI X
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede YusufMacan Effendi menegaskan, hingga tahun 2024 mendatang Indonesia membutuhkan1 juta guru. Kebutuhan 1...
Syaiful Huda minta Pemerintah Tunda Kenaikan Tarif Masuk Taman Nasional Komodo
03-08-2022 / KOMISI X
KetuaKomisi X DPR RISyaiful Hudameminta pemerintah menunda pemberlakuan kenaikan tarif di KawasanTaman Nasional Komodosebesar Rp3.750.000. Kenaikan tarif itu berlaku mulai...
Andreas Hugo Pareira: Upayakan Penyelesaian Sengketa Pengelolaan Wisata Labuan Bajo
03-08-2022 / KOMISI X
Labuan Bajo memang dikenal sebagai destinasi yang banyak menjadi tujuan turis asing. Namun sejak beberapa tahun terakhir, pariwisata di Labuan...