Perluas Kerja Sama Perdagangan dan Kemudahan Investasi, Ketua GKSB DPR Terima Dubes Georgia

03-08-2022 / B.K.S.A.P.

Ketua GKSB DPR RI-Parlemen Georgia Adian Napitupulu (kiri) saat bertukar cenderamata usai menerima kunjungan Duta Besar Georgia untuk Indonesia YM. Irakli Asashvili. Foto: BKSAP/nvl

 

Hubungan bilateral Indonesia-Georgia yang telah terjalin selama hampir 30 tahun, terus mengalami penguatan di berbagai lini. Untuk itu, Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI-Parlemen Georgia Adian Napitupulu menyambut baik kunjungan kehormatan (courtesy call) Duta Besar Georgia untuk Indonesia YM. Irakli Asashvili, serta mengundangnya langsung untuk berkunjung ke Desa Wisata Setu Lebak Wangi, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (2/8/2022).

 

"Kami membuka diri untuk menjembatani kerja sama antara Indonesia-Georgia. Indonesia, Pak Dubes, memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah mengingat kita memiliki lebih dari 17 ribu pulau dan juga terdapat banyak sekali sumber daya manusia dari 270 ribu penduduknya. Hal ini tentu menjadi peluang bagi Georgia untuk menjalin kerjasama dengan kami," ujar Adian.

 

Tidak hanya peluang baru kerja sama dan kemitraan, Ketua GKSB juga mendorong terbukanya penguatan di berbagai bidang mulai dari politik, sosial budaya, ketenagakerjaan, hingga investasi. Sebagai pemasok kopi terbesar bagi Georgia, Indonesia masih berpeluang untuk menarik pelaku usaha dari Georgia untuk berinvestasi pada sektor minyak bumi dan pertambangan.

 

"Beberapa waktu lalu (pada awal tahun 2022, RED), Pemerintah Indonesia telah mengumumkan pencabutan 2 ribu izin usaha pertambangan mineral dan batu bara, sebab tidak berkomitmen memenuhi kewajiban batu bara dalam negeri. Mungkin ini bisa menjadi potensi kerja sama yang baik, investor Georgia bisa bangun industri di Indonesia," imbuh politisi PDI-Perjuangan itu.

 

Usai mengapresiasi pertemuan yang dapat berlangsung, Duta Besar Georgia untuk Indonesia YM. Irakli Asashvili juga sempat menyampaikan prospek kerja sama bidang alat pertahanan dalam bentuk Armored Medical Evacuation Vehicles (AMEV) atau kendaraan evakuasi medis lapis baja, yang beberapa di antaranya telah berhasil diimpor dan digunakan di Indonesia.

 

Terkait investasi, Duta Besar yang telah bertugas di Indonesia selama 4,5 tahun ini telah menyoroti minat Indonesia yang berkelanjutan dalam berbagi kisah sukses Georgia di sektor pelayanan publik dan bisnis yang mengubah Georgia menjadi salah satu negara paling menarik untuk berinvestasi. Iklim investasi Georgia yang menguntungkan tercermin dalam berbagai peringkat lembaga internasional, misalnya "Doing Business 2020" Bank Dunia menempatkan Georgia pada posisi ke-7 dalam "EASE OF DOING BUSINESS" (dari 190 negara).

 

Peningkatan skor ada pada beberapa komponen, seperti Memulai Bisnis, Berurusan dengan Izin Konstruksi, Membayar Pajak, Perdagangan Lintas Batas dan Menyelesaikan Kepailitan. "Proses bisnis di Georgia sangat mudah, Anda dapat membuka perusahaan terbatas dalam waktu kurang dari 24 jam. Tidak ada korupsi, birokrasinya rendah, dan beban pajak yang rendah adalah beberapa faktor yang menjadikan Georgia negara terkemuka di kawasan ini,” papar Dubes Georgia.

 

Adapun manfaat lain dari membuka bisnis di Georgia, Dubes Georgia menjelaskan adanya akses mudah ke sebagian besar pasar utama Eropa, Asia Tengah dan Timur Tengah. Perjanjian Perdagangan Bebas dengan Inggris, Turki, Ukraina, negara-negara CIS, negara-negara EFTA, Cina dan Area Perdagangan Bebas (DCFTA) dengan Uni Eropa. yang membuka akses bebas tarif ke pasar konsumen dengan populasi sekitar 2,3 miliar. “Georgia juga menikmati rezim GSP dengan Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang yang merangkul pasar tambahan 490 juta konsumen,” imbuh Dubes Georgia.    

 

Dalam hal kerjasama antar parlemen, atas nama Ketua Kelompok Persahabatan Georgia dengan Parlemen Indonesia, Duta Besar Georgia menyampaikan undangan kepada DPR RI untuk mengunjungi Georgia. Di sisi lain, Ketua DPR RI GKSB juga menyambut delegasi dari Parlemen Georgia untuk berkunjung ke Indonesia dalam rangka meningkatkan hubungan kerja sama antar parlemen dengan di bidang lainnya.

 

Berdasarkan data Bank Dunia, Indeks Kemudahan Berbisnis Indonesia masih mandek di urutan 73 di dunia dan peringkat 6 di ASEAN per tahun 2020. Posisi Indonesia masih berada di bawah negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Singapura untuk urusan kemudahan berinvestasi. (BKSAP/sf)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
DPR dan LSPR Jepang akan Rancang Kerja Sama Tangani Mental Disorders
03-02-2023 / B.K.S.A.P.
Wakil Ketua BKSAP DPR RI Mardani Ali Sera menerima tamu delegasi Jepang dari LSPR Institute of Communication and Business. Dalam...
DPR Dorong Diplomasi Parlemen untuk Mewujudkan Stabilitas di ASEAN
01-02-2023 / B.K.S.A.P.
Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon menjelaskan pentingnya diplomasi parlemen guna mewujudkan stabilitas di kawasan...
Dewi Coryati: Parlemen Indonesia Dukung Keterwakilan Perempuan dalam Proses Perdamaian
01-02-2023 / B.K.S.A.P.
Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Dewi Coryati menegaskan, parlemen Indonesia mendukung partisipasi dan keterwakilan perempuan dalam...
Gilang Dhielafararez Kecam Kunjungan Menteri Israel di Kompleks Al-Aqsa
31-01-2023 / B.K.S.A.P.
Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Gilang Dhielafararez mengecam kunjungan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir...