Legislator Nilai KEK Kesehatan dan Pariwisata Sanur Bali Sangat Dibutuhkan

02-12-2022 / KOMISI VI

Anggota Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih saat mengikuti Kunspik Komisi VI DPR RI. Foto: Ubed/nr

 

Anggota Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih menilai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan dan Pariwisata di Sanur, Bali sangat dibutuhkan. Demer, sapaan akrab Gde Sumarjaya, mengungkapkan bahwa salah satu kekhawatiran turis mancanegara yang berkunjung ke Bali adalah belum adanya fasilitas kesehatan bertaraf internasional. Oleh karena itu, ia mengapresiasi pengembangan KEK kesehatan dan Pariwisata Sanur agar turis merasa yakin dan nyaman ketika datang ke Indonesia.
 

"Kita lihat Bali ini luar biasa mewah, megah, hotel banyak dan berlimpah. Tapi, kalau kita sebagai orang yang hidup di Amerika atau di Eropa, Bali ini masih kelihatan seperti di negara ketiga. Kalau (tinggal di) negara ketiga, salah satu kekhawatirannya adalah tentang kesehatan. Kalau saya orang Amerika, saya pasti khawatir, apakah saat nanti ada sesuatu penyakit di Bali bisa tertangani," ungkap Demer kepada Parlementaria usai mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspik) Komisi VI DPR RI Dalam Rangka Peninjauan Rencana Pembangunan KEK Kesehatan dan Pariwisata di Provinsi Bali, Kamis (1/12/2022).
 

Politisi dari Daerah Pemilihan Bali tersebut juga menegaskan, perlu adanya pengembangan fasilitas kesehatan berkaitan dengan ortopedi dalam pengembangan KEK Kesehatan dan Pariwisata Sanur ini. Hal tersebut dikarenakan banyak spot wisata di Bali yang memiliki resiko tinggi, misalnya berselancar, rafting, jetski, menyelam dan lain sebagainya. Agar apabila terdapat cedera atau kecelakaan pada turis, dapat segera tertangani.
 

"Karena masalah ortopedi itu semakin cepat kita bisa menanganinnya, semakin baik. Oleh karena itu, apabila fasilitasi ini dapat terealisasi dan bertaraf internasional akan menumbuhkan pariwitasa di Bali," tegas Politisi Fraksi Partai Golkar itu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Anggota Komisi VI, Evita Nursanty. Ia mengungkapkan bahwa, KEK Kesehatan dan Pariwisata Sanur ini merupakan salah satu solusi untuk mencari tematik pariwisata lain di Bali. Sehingga, pariwisata Bali tidak hanya mengandalkan pada budaya dan alam saja.


"Kalau hanya mengandalkan pariwisata budaya dan alam saja itu kan ada low season dan high season, tetapi kalau yang namanya medical itu kan tidak. Jadi, walaupun low season tetapi dengan adanya health tourism di Bali ini tetap bisa menutupi berkurangnya kunjungan turis," ungkap politisi PDIP tersebut.

 

Berdasarkan pemaparan Dirut PT Aviasi Pariwisata Indonesia, KEK Kesehatan dan Pariwisata Sanur ini merupakan rencana bisnis fasilitas kesehatan yang di dalamnya terdapat rumah sakit dan klinik, akomodasi hotel dan MICE, Etnomedicinal Botanic Garden, serta Commercial Center. Dengan total luas lahan yang diusulkan adalah 41,26 hektare atas nama PT Hotel Indonesia Natour (PT HIN). (uf/rdn)


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Komisi VI Usul Pembentukan Holding Perusahaan Logistik Negara, Martin Manurung: PT Pos Indonesia 'Lead'-nya
04-02-2023 / KOMISI VI
Komisi VI DPR RI mengusulkan agar BUMN membentuk holding dibidang industri logistik dengan PT Pos Indonesia sebagai lead dari holding...
Legislator Usulkan Program-Program yang Mendukung Transformasi PT Pos Indonesia
04-02-2023 / KOMISI VI
Anggota Komisi VI DPR RI Jon Erizal mengusulkan PT Pos Indonesia membuat program central titipan guna mempermudah masyarakat untuk mengambil...
Komisi VI Dukung Transformasi Bisnis dan Layanan PT Pos Indonesia Guna Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
04-02-2023 / KOMISI VI
Wakil Ketua Komisi VI DPR RIMartin Manurung mendukung PT Pos Indonesia terus melakukan transformasi pelayanan dan bisnis logistik guna mendorongpertumbuhan...
Evita Nursanty Dorong PTPN Lakukan Inovasi dan Pengembangan Sektor Pariwisata
04-02-2023 / KOMISI VI
Anggota Komisi VI DPR RI Evita Nursanty menilai dari 14 (empat belas) PT Perkebunan Nusantara dalam bentuk induk (holding), terdapat...