Pasar Indonesia Harus Berdaulat

07-01-2015 / KOMISI VI

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Heri Gunawan menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi pasar di tanah air yang tidak berdaya menahan produk impor yang bagi negara lain masuk kategori sampah. Ia menyebut maraknya pasar pakaian bekas, jeroan impor yang begitu mudahnya dijumpai di dalam negeri.

 

"Masyarakat banyak bertanya kenapa pasar pakaian bekas masih marak dimana-mana, mengapa jeroan saja masih impor, terakhir saya mendengar Brazil juga mau memasukkan daging ayam ke Indonesia. Tidak bisakah mempertahankan kedaulatan kita di pasar sendiri," katanya saat dihubungi di Jakarta, Rabu (7/1/15).

 

Politisi Fraksi Partai Gerindra ini mengingatkan banyak negara sangat tertarik pasar dalam negeri yang sangat besar. Negara-negara maju akan terus berupaya men-setup Indonesia menjadi pasar terbuka bagi barang impor murah, bahkan masuk kategori sampah seperti baju bekas atau jeroan daging.

 

"Pasar baju bekas murah secara tidak langsung dapat mematikan industri garmen kecil dalam negeri, belum lagi penyakit yg menempel di dalamnya, namun perdagangan ini masih saja marak," tutur dia.

 

Kemendag harus segera menjalankan kebijakan mengamankan pasar dalam negeri termasuk menggali keunggulan yang mungkin dapat dikemas dalam Indonesia Heritage. Salah satu peluang yang patut diperjuangkan adalah menjadikan pasar Indonesia sebagai hub ekspor produk halal.

 

"Disini Kemendag dituntut segera untuk melakukan kerjasama lintas instansi, lebih kreatif, mengoptimalkan potensi pasar kita, kalau tidak maka Indonesia hanya dilihat sebagai pasar potensial yang besar, murah, dan bodoh," tandasnya.

 

Pemerintah sendiri lewan SK Mendag telah melarang impor pakaian bekas sejak tahun 1982 lalu, namun faktanya disejumlah lokasi strategis di tanah air bermunculan pasar khusus pakaian bekas. Aparat Bea Cukai di Kepulauan Riau melaporkan sepanjang tahun 2014 telah menyita impor illegal 5000 ball pakaian bekas senilai Rp15 miliar.

 

Permendag no.46/2013 juga sudah membatasi impor jeroan hanya untuk keperluan industri atau keperluan khusus lainnya, namun pemantauan DPP Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) ternyata daging impor kelas variety meat dan juga jeroan marak dijual di pasar tradisional kepada masyarakat umum.(iky) foto : ibnur/parle/hr.


  • SHARES
BERITA TERKAIT
Komisi VI Setujui ‘Right Issue’ PT Waskita Karya
27-09-2021 / KOMISI VI
Komisi VI DPR RI telah menyetujui rencana right issue sejumlah 24,5 miliar lembar saham kepadaPT Waskita Karya yang merupakan tindak...
Evita Nursanty Usul Waskita Upayakan Peningkatan ‘Market Confidence’
27-09-2021 / KOMISI VI
Anggota Komisi VI DPR RI Evita Nursanty menyampaikan usul agar Waskita Karya dalam rencana right issue-nya juga memperhatikan diseminasi informasi...
Andre Rosiade: BUMN Karya Harus Manfaatkan INA
27-09-2021 / KOMISI VI
Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mendorong Waskita Karya untuk mewaspadai Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan sepenuhnya memanfaatkan...
‘Right Issue’ Harus Dimaksimalkan Waskita untuk Perbesar Keuntungan
27-09-2021 / KOMISI VI
Anggota Komisi VI DPR RI Jon Erizal mendorong kreativitas BUMN infrastruktur dalam mencari potensi keuntungan perusahaan. Menurutnya, jika hanya dengan...