PARLEMENTARIA, Jakarta — Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim mendorong pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai destinasi urban tourism yang terintegrasi melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta.
Upaya tersebut dinilai Chusnunia penting untuk mengoptimalkan potensi wisata sejarah sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Jakarta selama ini terkenalnya hanya menjadi hub, yang numpang menginap, numpang transit, numpang lewat. Tapi, Alhamdulillah, dalam beberapa tahun terakhir Jakarta terus berbenah,” ujar Chusnunia saat kunjungan kerja reses Komisi VII DPR RI ke kawasan Kota Tua, Jakarta, Rabu (14/10/2026)
Pengembangan Kota Tua, lanjut Chusnunia tidak bisa hanya mengandalkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pasalnya, sejumlah aset bersejarah di kawasan tersebut tidak seluruhnya berada di bawah penguasaan pemerintah daerah. Karena itu, koordinasi lintas sektor dan lintas pemerintahan diperlukan untuk menyatukan langkah dalam pengelolaan kawasan.
“Kita berharap bukan hanya menjadi beban di pundak Pemprov, tetapi pemerintah secara keseluruhan, provinsi dan kementerian, bergandengan tangan agar wisata kota, khususnya Kota Tua, bisa terintegrasi dan lebih maksimal lagi,” jelas Politisi Fraksi PKB ini.
Selain pengembangan kawasan, Chusnunia juga mendukung adanya aktivitas wisata yang edukatif dan menarik bagi generasi muda. Dalam kunjungan tersebut, ia melihat kegiatan membuat keramik sebagai salah satu bentuk wisata kreatif yang dapat memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung, terutama anak-anak dan remaja.
Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi alternatif positif di tengah kebiasaan generasi muda menghabiskan waktu dengan bermain gim atau menggunakan media sosial. Aktivitas kreatif seperti membuat keramik tidak hanya memberikan pengalaman baru, tetapi juga membuka kesempatan bagi anak-anak untuk belajar keterampilan dan berinteraksi secara langsung.
“Senang menemukan kegiatan membuat keramik ini. Ternyata sudah 10 tahun berjalan dan antusiasmenya cukup menggembirakan. Bahkan, saat akhir pekan bisa sampai lebih dari 100 orang yang mendaftar. Ini seru dan lebih positif agar anak-anak kita bisa belajar banyak hal, termasuk bergerak secara fisik, bukan cuma bermain gim dan scrolling,” ungkapnya.
Di sisi lain, Chusnunia mengingatkan bahwa pengembangan wisata sejarah harus berjalan beriringan dengan pemeliharaan bangunan tua dan koleksi museum. Perawatan benda-benda bersejarah membutuhkan perhatian khusus serta dukungan anggaran yang berkelanjutan agar nilai sejarahnya tetap terjaga. Oleh sebab itu, Komisi VII DPR RI mendorong keterlibatan berbagai pihak untuk mendukung upaya pelestarian tersebut.
“Memang konsekuensinya di anggaran. Kalau kita membiarkan ini hanya di pundak pemerintah provinsi, saya kira bebannya berat. Yang pasti, kita dorong seluruh pihak mengambil peran,” katanya.
Ia juga membuka peluang keterlibatan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR). Dukungan tersebut diharapkan dapat melengkapi upaya pemerintah dalam merawat bangunan bersejarah, menjaga koleksi museum, serta meningkatkan kualitas fasilitas dan aktivitas wisata di Kota Tua. (rnm/we)
Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia
Kontak
©2022 Sekretariat Jenderal DPR RI. All right reserved